Breaking News:

Dewa Putu Sahadewa

Nyepi Pandemi

Mendiamkan tubuh dan pikiran untuk tidak kemana-mana, lebih baik lagi adal.ah melakukan penyatuan tubuh, pikiran dan jiwa

istimewa
Dewa Putu Sahadewa 

NYEPI tanggal 14 Maret 2021 atau tahun baru Caka 1943 adalah Nyepi untuk kedua kalinya yang dirayakan dalam situasi Pandemi Covid 19. Meskipun ada anjuran yang selaras dengan semangat Nyepi yakni tetap tinggal di rumah, tidak ke mana-mana atau dalam tradisi Nyepi dikenal sebagai amati lelungaan tapi pemaknaan Nyepi mestinya jauh melampau hal tersebut.

Tidak kemana-mana dalam praktek Nyepi adalah mendiamkan tubuh dan pikiran untuk tidak kemana-mana, lebih baik lagi adalah melakukan penyatuan tubuh, pikiran dan jiwa untuk tetap diam di dalam rumah Dharma atau kebenaran. Hal ini secara simultan dipadukan dengan larangan berupa Amati karya atau tidak melakukan kerja.

Padahal hampir semua kitab Suci Hindu senantiasa mengharuskan pemeluknya untuk melakukan kerja atau karma tentu saja kerja yang baik adalah subha karma atau perbuatan baik, dan yang terbaik adalah kerja tanpa terikat atau pamrih pada hasil. Kerja yang tulus. Jika dalam konsep transenden, kerja yang terindah adalah yadnya yaitu melakukan korban suci. Tapi untuk satu hari, dalam perayaan tahun baru Caka justru kerja dilarang. Lagi-lagi diam. Hentikan aktifitas selama 24 jam. Sesuatu yang hampir muskil apalagi harus menghentikan hiburan atau amati lelanguan dan tidak boleh menyalakan api atau amati geni.

Secara mudah, tidak menyalakan api dipraktekkan dengan tidak menyalakan lampu rumah, tidak menghidupkan kompor bahkan lilin juga. Bagi yang sudah punya pemaknaan lebih tinggi maka yang dipadamkan adalah api-api yang mudah membakar diri, membakar hati dan mengacaukan jiwa seperti api amarah dan api nafsu. Kedua api yang dianggap sangat berbahaya bagi proses pematangan spiritual dan proses pencarian jati diri seorang manusia.

Kemarahan akan melenyapkan akal sehat dan cenderung membuat manusia Hindu gagal melaksanakan Tri Kaya Parisudha yakni berfikir , berkata dan berbuat yang baik. Api nafsu yang tak terkendali akan menutupi pikiran, mendatangkan kebodohan dan kebingungan sehingga cenderung akan menyesatkan.

Dalam Bratha atau pengekangan diri yang berupa amati lelanguan yakni menghentikan segala macam hiburan yang tak pernah henti dinikmati oleh manusia dalam kehidupan apalagi dalam situasi pandemi karena dengan menghibur diri kita akan menjadi senang gembira sehingga imun akan meningkat tapi justru dalam Nyepi hiburan tak dibolehkan .

Jika dilaksanakan dengan sungguh-sungguh empat Bratha penyepian maka yang terjadi adalah sebuah bentuk tapa samadhi, meditasi dan kontemplasi atau perenungan.

Tubuh yang diam, pikiran yang terfokus, jiwa yang menuntun keseluruhan napas insani akan melakukan kerja yang jauh lebih hebat dari kerja apapun bahkan upacara yang ada yakni melakukan penyatuan diri dengan Sang Hyang Widhi, Sangkan Paraning Dumadi, sang asal dan tujuan hidup.

Dalam meditasi, tapa dan Samadhi tubuh yang diam bersama Fikiran yang diam akan memberi gelombang atau frekuensi yang sama dengan frekuensi yang Maha Agung . Dalam keadaan seperti ini manusia akan mendapatkan kesadaran dan pencerahan serta ilmu pengetahuan.

Kondisi ini , diam dan hening, juga memiliki dampak re charge energi yang maha dahsyat karena atman atau jiwa sebagai bagian kecil dari Brahman akan dimurnikan sehingga kembali memiliki sifat dasar kedewataan atau dalam ilmu energi dia akan mendapat limpahan energi positif.

Halaman
12
Editor: Sipri Seko
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved