Berita NTT Terkini
Peringatan Hari Perempuan Internasional: Ansy Minta Pemda Perkuat Kebijakan
Peringatan Hari Perempuan Internasional: Ansy Damaris Rihi Dara Minta Pemda Perkuat Kebijakan
Ester menambahkan, LBH APIK yang mulai beroperasi sejak tahun 2011 ini masih mengalami dua kendala yaitu bersifat internal dan eksternal.
"Internal terkait dengan sumber daya, fasilitas dan finansial, memang kami sangat terbatas dan juga eksternal itu mungkin lebih pada masalah-masalah teknis karena tenaga kita juga terbatas sehingga misalnya ada mitra yang datang kepada kita kadang kurang nyaman tapi kami berusaha maksimal memberikan rasa aman karena selain kami bekerja untuk pendampingan hukum, kami juga bekerja menjalin kerjasama dengan teman-teman mitra yang lain jadi kami cukup maksimal," bebernya.
Hal senada disampaikan Puput. "Tetapi memang kami di LBH Apik tidak hanya mengerjakan atau melakukan pendampingan kasus tapi kami juga melakukan kegiatan-kegiatan lain untuk lembaga kami atau juga itu berdampak kepada kami secara pribadi pengembangan kapasitas kami seperti kegiatan workshop penyuluhan hukum dan lain sebagainya.
Nah mungkin hal itu yang agak mengganggu atau menjadi tantangan bagi penyelesaian kasus itu sendiri," kata Puput.
"Terutama jika ada kasus yang sudah terjadwal seperti persidangan yang memang sudah ada jadwalnya dan pada saat jadwalnya kami harus melakukan kegiatan yang harus kami lakukan, mau tidak mau kami harus berkoordinasi. Cara untuk mengatasinya kami berkoordinasi Saya dan ibu ester dan berbagi peran siapa yang akan melakukan pendampingan dan lain sebagainya," lanjutnya.
"Kami juga berkoordinasi dengan para legal. Kalau kasus yang kami tangani kasus-kasus non litigasi yang tidak harus ditangani oleh pengacara itu bisa kamu reverse ke para legal kami untuk pendampingan seperti misalnya pengambilan BAP bagi korban dan main sebagainya," tambah Puput.
Ansy menegaskan, dia bersama tim masih bertahan sampai saat ini di LBH Apik karena mereka melihat dan melakukan pekerjaan sama seperti beribadah.
"Jadi kerja kami adalah bagian dari ibadah. Kalau orang berpikir ibadah itu hari Minggu kalau kami setiap hari. Dan kami percaya panggilan kami ini adalah panggilan kemanusiaan, kami bukan mengejar popularitas, kami bukan mengejar bagaimana kita bisa mendapatkan banyak uang," katanya.
Bagi Ansy dan teman-temannya, dalam konteks beribadah mereka melihat, ini cara Tuhan dipermuliakan lewat pekerjaan mereka.
"Yang kami tahu bahwa berkat Tuhan itu selalu mengalir kepada kami dan kami tidak lihat dalam bentuk uang semata. Yang membuat kami bahagia sampai hari ini melakukan setiap aktivitas kami yang mungkin banyak orang juga yang heran ya kok bisa ya mereka menyelesaikan semua kasus," jelasnya.
"Kami bisa melakukan semua itu karena Tuhan yang menopang dan menolong kami. Kalau secara manusia kami tidak sanggup. Saya kira kekuatan itu datang dari Tuhan sehingga kami bisa menyelesaikan banyak soal itu dengan hikmat Tuhan," pungkasnya. (michaella uzurasi)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/tangkapan-layar-acara-ngobrol-asyik-bersama-pos-kupang.jpg)