Breaking News:

Salam Pos Kupang

Selamatkan Bahasa Ibu

NUSA Tenggara Timur ( NTT) merupakan wilayah kepulauan dengan topografi yang beraneka ragam

Selamatkan Bahasa Ibu
Dok POS-KUPANG.COM
Logo Pos Kupang

POS-KUPANG.COM - NUSA Tenggara Timur ( NTT) merupakan wilayah kepulauan dengan topografi yang beraneka ragam. Provinsi yang dikenal dengan bumi Flobamora ini memilik 1.192 pulau, bahkan ada pulau yang tak berpenghuni dan ada juga pulau yang belum diberi nama.

Dari jumlah tersebut hanya 42 pulau yang berpenghuni sementara 1.150 lainnya tak berpenghuni. Melihat luas wilayah ini maka tercipta juga budaya dan adat itiadat yang berbeda. Termasuk bahasa juga sangat beragam.

Tak seperti di Pulau Jawa, mayoritas penduduknya memiliki bahasa daerah Jawa dan Sunda, maka di NTT hampir di setiap kabupaten bahkan kecamatan memiliki bahasanya masing-masing.

Aspal Jalan Waibakul-Konda Maloba Hancur

Kantor Bahasa mengklasikasikan di NTT setidaknya ada 72 bahasa daerah yang diteliti. Di Kabupaten Alor saja ada 17 bahasa daerah dan paling banyak di NTT.

Namun sangat disayangkan ada bahasa daerah yang hampir punah, bahkan para penuturnya sudah uzur dan bahasa daerah terseut berpotensi punah.

Hingga kini Kantor Bahasa mencatat 72 dari 14 bahasa daerah di NTT terancam punah.

150 Vial Vaksin Covid-19 Tiba di Waingapu

Sangat disayangkan bahwa Pemerintah Daerah belum melakukan apa-apa untuk menyelamatkan bahasa daerah atau disebut juga dengan bahasa ibu. Bila ini dibiarkan maka dalam beberapa tahun kedepan, bahasa ibu yang ada tentu akan punah.

Penyebab bahasa daerah yang punah itu bukan saja tergerus dengan hadirnya Bahasa Indonesia, namun bahasa lokal itu tidak diteruskan oleh generasi penerus.

Anak muda jaman sekarang lebih suka memakai bahasa gaul sehingga lupa bahasa lokal. Orantua yang menguasai bahasa lokal juga tidak lagi membiasakan anak-anak menggunakan bahasa daerah meski di rumah saja.

Sejak kecil anak-anak dibiasakan dengan Bahasa Indonesia dengan alasan agar anak-anak lebih mahir berbahasa Indonesia agar masuk sekolah tidak kesulitan lagi dalam belajar

Selain itu, pemerintah daerah juga tidak mengalokasikan anggaran khusus untuk pengembangan bahasa lokal baik dalam bentuk riset hingga membuat buku atau menyelenggarakan seminar mengenai bahasa lokal atau menjadikan muatan lokal.

Pada umumnya warga yang masih menggunakan bahasa lokal ini sudah tidak muda lagi. Artinya, mereka bila penutur bahasa ini meninggal maka rantai kelanjutan bahasa ini pun akan punah.

Melihat kondisi ini, pemerintah harus segera turun tangan. Perlu ada riset khusus untuk mendata dan memuat catatan seperti kamus bahasa lokal khusus untuk bahasa yang hampir punah.

Sudah saatnya bahasa ibu diselamatkan karena bahasa merupakan bagian dari budaya. Setidaknya ada buku atau kamus mengenai bahasa sebagai warisan untuk penelitian selajutnya bahkan untuk warisan untuk anak cucu kita kelak.(*)

Editor: Kanis Jehola
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved