Breaking News:

Berita NTT Terkini

Kisah Heroik Pagelaran Pasola Wanokaka

SETIAP pagelaran Pasola selalu disertai dengan Pajura, atraksi tinju tradisional. Pajura berlangsung di Pantai Teitena

Editor: Kanis Jehola
Petrus Piter
PASOLA -Atraksi pasola di Wanokaka 

POS-KUPANG.COM - SETIAP pagelaran Pasola selalu disertai dengan Pajura, atraksi tinju tradisional. Pajura berlangsung di Pantai Teitena, Hobajangi, Desa Baliloku, Kecamatan Wanokaka, Kabupaten Sumba Barat. Pajura yang disertai dengan ritual sembayang dilaksanakan dua malam sebelum pasola.

Rato Yagi Riada dari Kampung Praigoli, Camat Wanokaka Lukas Lodu Pewu dan Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Sumba Barat, Charles Hermana Weru menjelaskan, Pajura sebetulnya mengenang perjuangan heroik tokoh melegenda Wanokaka yang berjuang berlayar mengarungi lautan luas.

Wanokaka mencari makanan bagi keluarganya ke Mahu Karera, Kabupaten Sumba Timur karena sedang menderita kelaparan. Sekembalinya, Wanokaka dan rombongan terdampar di Pantai Teitena di Hobajangi.

DPC Partai Demokrat TTU Kutuk Keras Pelaksanaan KLB di Sibolangit

Pajura diikuti pemuda yang berasal dari 14 desa se Kecamatan Wanokaka. Setiap peserta Pajura menggunakan sarung tinju dari alang-alang.

Tinju tradisional ini dimulai pukul 24.00 Wita hingga menjelang subuh di Pantai Teitena yang dipercaya sebagai tempat terdamparnya Ubbu Dulla, suami Rabbu Kabba, ketika pulang "mandara" mencari makan ke Mahu Karera, Sumba Timur.

Perahu yang ditumpangi Ubbu Dulla bersaudara terhempas angin dan gelombang hingga terdampar di Pantai Teitena dalam waktu cukup lama.

ASITA NTT Tetap Eksis Meski Terbatas

Kepergian Ubbu Dulla bersaudara tanpa kabar membawa kepedihan mendalam bagi istrinya. Rabbu Kabba berpikir suaminya telah meninggal dunia.

Di tengah penantian itu, cinta Rabbu Kabba berpindah ke Teda Gaiparona asal Kodi. Dan ketika Ubbu Dulla kembali ke Weiwuang tidak menemukan Rabbu Kabba.

Kisah panjang perjuangan Ubbu Dulla bersaudara mencari makan dengan mengarungi lautan luas penuh tantangan gelombang tinggi dan angin kencang hingga pencarian istrinya, menjadi legenda. Untuk mengenangnya, masyarakat Wanokaka memeriahkannya dengan menggelar ritual dan atraksi Pajura.

Bagi masyarakat Wanokaka, atraksi saling tinju hingga menyebabkan luka dan darah adalah ingin merasakan betapa besar perjuangan Ubbu Dulla bersaudara mencari makan dengan penuh tantangan berlayar melewati lautan luas dan gelombongan tinggi serta hempasan angin kencang.

Masyarakat Wanokaka juga mempercayai luka dan darah pertanda membawa kesuburan tanah pertanian dan kebaikan bagi masyarakat.

Sebagaimana terjadi selama ini, Pajura biasa dipadati penonton. Tua muda ramai berdatangan ke Pantai Teitena hanya ingin menyaksikan atraksi tinju tradisional yang berlangsung di remang-remang malam tanpa cahaya lampu. Hanya mengandalkan cahaya rembulan.

Saat ini, akses transportasi masih minim. Untuk menuju Pantai Teitena, Anda harus menempuh perjalanan cukup lama dengah melintas jalanan aspal dan setapak hingga menuruni tangga batu menuju ke bibir pantai yang berjumlah sekitar 100 anak tangga. Namun, apabila menggunakan mobil maka perjalanan lebih cepat. (pet)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved