Produk Instan Jahe dan Marning Jagung Desa Oelomin Tembus Dumay
Instan Jahe dan Marning Jagung Desa Oelomin, Kabupaten Kupang, berhasil Tembus dunia maya alias dumay.
Penulis: OMDSMY Novemy Leo | Editor: OMDSMY Novemy Leo
“Sejak Covid-19 produk Instan Jahe dan marning jagung itu kami pasarkan melalui medsos yakni facebook Rince Lakat dan facebook Konsorsium Timor Adil dan Setara NTT. Pemasaran terus berjalan,” aku Rince.

Produk instan jahe dirintis tahun 2020 dan Marning jagung sejak tahun 2018 dan selalu habis terjual setiap kali selesai produksi.
Satu bungkus marning jagung seberat 400gr dijual Rp 20.000 dan instan jahe seberat 100 gr seharga Rp 25.000.
“Kedepan kami akan buat logo agar pelanggan tak keliru membeli instan jahe dan marning jagung dari Desa Oelomin,” kata Welmince.
Menurut Selvi, penjualan marning jagung menurun saat anak-anak melakukan sekolah onlie sebab tak ada permintaan dari kios-kios di sekolah.
Bahan baku jagung diambil dari desa tapi bahan baku jahe mesti dibeli di pasar. “Kami belum bisa budidaya jahe,” kata Selvi.
Kegiatan difasilitator Largus Ogot dan moderator Vinsensius Bureni. Pembicaranya dari pihak Bank NTT, Koperasi Swastisari dan Dinas Koperasi NTT.
Ketiga lembaga keuangan ini berjanji memberikan akses modal bagi permepuan jika memenuhi syarat dan ada komitmen yang baik dalam kerjasama.
Hadir juga dalam kesempatan itu, PO cis Timor, Alves Lopo, PO LBH APIK NTT, Ester Day, SH dan PO Yabiku, Stef Kou.
“Uang itu ada dimana-mana, tinggal bagaimana mengupayakannya,” pesan Direktur Bengkel APPek NTT, Vinsen Bureni.

PO Bengkel APPeK, Yohanes D. Kolo berharap ada peningkatan kemampuan perempuan di desa untuk bisa mengkases modal dan meningkatkan produksi hingga pemasaran hasil yang bermuara pada peningkatkan ekonomi keluarga.
Meal Manager KTAS NTT, Ferderika Tadu Hungu dan Finance Manager KTAS NTT, Thersia Ratu Nubi berharap agar akses modal dari pemeirtah, koperasi dan bank bisa diberikan kepada usaha perempuan di desa.
“Jaga Komitmen dan kepercayaan yang sudah dibangun saat sudah bekerjasama dengan lembaga keuangan,” pesan Ferderika.
“Ada kesan imej selama ini bahwa kalau perempuan yang pinjam uang di lembaga keuangan maka sulit mengembalikanya. Hilangkan imej ini dengan komitmen, tanggungjawab dan kejujuran,” pesan Thersia. (novemy leo)