Produk Instan Jahe dan Marning Jagung Desa Oelomin Tembus Dumay
Instan Jahe dan Marning Jagung Desa Oelomin, Kabupaten Kupang, berhasil Tembus dunia maya alias dumay.
Penulis: OMDSMY Novemy Leo | Editor: OMDSMY Novemy Leo
POS-KUPANG.COM - Instan Jahe dan Marning Jagung Desa Oelomin Tembus Dumay.
BANYAK cara yang dilakukan perempuan-perempuan desa di sejumlah kabupaten di NTT untuk mempertahankan usaha produkstifnya di masa pandemi Covid-19
PANDEMI Covid-memang berdampak di semua bidang kehidupan, termasuk perekonomian perempuan di desa-desa yang ada di Kabupaten Kupang, Timor Tengah Utara dan Timor Tengah Selatan.
Sebelum pandemic Covid-19, pemasaran produki usaha yang mereka geluti seperti membuat tenun ikat,memproduksi makanan ringan seperti instan jahe, marning jagung, keripik pisang/ ubi berjalan baik.
Namun setelah pandemic Covid-19, pemasaran produk terganggu bahkan ada yang sampai gulung tikar.
Hal ini terungkap dalam Lokakarya Multi Stakeholder untuk Mendukung Akses Modal Bagi Kelompok Usaha Perempuan yang melibatkan Pemkab, Bank, Koperasi dan Pengusaha.

Kegiatan digagas Konsorsium Timor Adil dan Setara (KTAS) NTT di Hotel Amaris Kupang, 22-23 Februari 2021. Hadir sekitar 20 perempuan dari 8 desa di NTT.
Menghadapi situasi itu para perempuan yang tergabung dalam kelompok usaha atau forum perempuan di desa melakukan berbagai upaya produksi dan pemasaran.
Mereka berterimakasih kepada KTAS NTT karena dengan lokakarya itu bisa membuka wawasan, akses modal dan peluang usaha dan pemasaran produk mereka.
Noura dan Vony, dari Desa Tunfeu mengatakan, usaha mereka adalah tenun ikat, membuat aksesrois dari percah kain tenun seperti kalung, anting-anting, dompet dan tas wanita.
Harganya mulai Rp 30.000 hingga Rp 100.000. Produk lainnya keripik pisang seharga Rp 20.000 namun mereka belum ada nama dan logo dan masih kesulitan modal untuk pengembangan usaha.
“Selama ini pelanggan datang membeli ke desa, atau kami bawa ke kecamatan kalau ada kegiatan disana,” kata Noura.
Sejak Covid-19, pemasaran tak berjalan baik, modal habis terpakai dan tak ada pemasukan.
“Tadi sharing bersama teman dari desa lain akhirnya kami tahu bahwa promosi melalui medsos juga penting dilakukan dan kami masih butuh modal,” kata Vony.
Welmince Umbu Data , Rince Lakat dan Selvi Tokael dari Desa Oelomin juga mengalami penurunan omset meski tidak banyak.