Gara-Gara Anies Baswedan & Banjir Jakarta, 2 Politisi Ini Saling Serang Giring Ganesha vs Pasha Ungu
Giring Ganesha mengungkapkan bahwa Gubernur Anies Baswedan tak mampu menjalankan tugas secara baik dalam beberapa tahun terakhir.
Gara-Gara Anies Baswedan & Banjir Jakarta, 2 Politisi Ini Saling Serang, Giring Ganesha vs Pasha Ungu
POS-KUPANG.COM - Pelaksana Harian Ketua Umum PSI (Partai Solidaritas Indonesia) Giring Ganesha dan Pasha Ungu kini terlibat saling 'serang' atas kasus banjir yang terjadi di Jakarta saat ini.
Pada postingan awal, Giring Ganesha melontarkan kritikan tajam terhadap Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan.
Giring Ganesha mengungkapkan bahwa Gubernur Anies Baswedan tak mampu menjalankan tugas secara baik dalam beberapa tahun terakhir.
Buktinya, setiap tahun jakarta selalu digenangi banjir. Dan, Anies Baswedan selalu saja mempersalahkan curah hujan dan banjir kiriman dari hulu.
Atas kritikan tersebut, Pasha Ungu lantas melontarkan kritikan terhadap Giring Ganesha, bahkan sempat pula mempertanyakan, apakah bro pernah memimpin kelurahan?

Atas kritikan Pasha Ungu itu, Giring Ganesha pun seakan tak mau diam. Plt Ketua Umum PSI itu langsung menjawab sindiran Pasha Ungu padanya.
Seperti diketahui, Pasha Ungu sempat mempertanyakan pengalaman Giring Ganesha meminpin daerah saat mantan vokalis band Nidji itu mengkritik Anies Baswedan atas banjir di Jakarta.
Sebelumnya, Giring awalnya mengkritik Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan yang dianggapnya tidak serius mengatasi persoalan banjir.
Lalu, kritikan Giring ini mendapat sentilan Pasha yang ditulis melalui komentar panjang di unggahan tersebut.
Pasha menyebut penilaian Giring terhadap kapabilitas Anies Baswedan yang dianggap tidak mampu mengelola Jakarta terlalu naif dan kerdil.
"Mengelola Jakarta tidak semudah bro mengkritik di medsos," ujar Pasha.
Pasha juga menyarankan agar Giring lebih bijak dalam berkomentar.
"Selaku pemimpin partai di republik ini sejatinya saudaraku Giring harus lebih bijak melihat situasi bangsa kita yang sedang ‘sakit’ dan ‘sulit’."
"Setidaknya narasi yang dibangun harusnya menenangkan tidak ‘meresahkan’ apalagi sampai ke persoalan penilaian ketidakmampuan seseorang."