Buruknya Jalan Trans Wulandoni, Warga: 'Mereka Sudah Duduk Empuk Itu Sudah Lupa Kami'
Ruas jalan menuju Kampung Lamalera ini sudah lama tak diperhatikan Pemkab Lembata sejak berdiri otonomi dua dekade lalu.
Penulis: Ricardus Wawo | Editor: Rosalina Woso
Buruknya Jalan Trans Wulandoni, Warga: 'Mereka Sudah Duduk Empuk Itu Sudah Lupa Kami'
POS-KUPANG.COM|LEWOLEBA--Jalan Trans Wulandoni jadi salah satu ruas jalan dengan kondisi terparah di Kabupaten Lembata.
Ruas jalan menuju Kampung Lamalera ini sudah lama tak diperhatikan Pemkab Lembata sejak berdiri otonomi dua dekade lalu.
Selain jalan sempit berlubang, penuh batu kerikil, berpasir, akses jalan dari Kampung Belang menuju Belame ini juga berbecek dan berlumpur pada musim hujan. Ada ratusan kubangan berlumpur yang ditemui pengendara jika melintas di ruas jalan tersebut.
Kondisi jalan yang memprihatinkan ini pun membuat warga kesal dengan kinerja pemerintah daerah.
Sebagaimana yang diungkapkan Yohanes Belang Liman (50), seorang petani yang kebetulan melintas di ruas jalan tersebut, Senin (15/2/2021).
Kata Yohanes, jalan rusak dan berlubang sudah ada sejak dulu. Dia tidak pernah menikmati jalan yang bagus jika mau pergi ke Lewoleba dari kampungnya di Desa Puor, Kecamatan Wulandoni.
Yohanes pun menyinggung peran para pejabat pemerintah daerah Kabupaten Lembata dan DPRD Lembata.
"Mereka sudah duduk empuk itu lupa kami," kata Yohanes sembari tersenyum sinis.
Dia berkata pergantian pucuk pimpinan sebagai bupati selama beberapa periode ini juga tidak membawa dampak apa-apa pada perkembangan infrastruktur di sana. Padahal, saat kampanye, entah itu wakil rakyat atau bupati, menurutnya, selalu mengumbar janji-janji manis kalau jalan akan segera diperbaiki jika terpilih nanti.
"Dari dulu begini saja, ukur jalan sudah berpuluh tahun sampai sekarang juga tidak ada perbaikan," sindirnya.
Sebagai petani, lanjut Yohanes, infrastruktur yang buruk seperti itu tentu berdampak saat dia mau menjual komoditi ke pasar atau ke Kota Lewoleba. Jarak tempuh semakin lama dan melelahkan.
"Menderita juga kami di selatan. Dari dulu ini begini saja. Dari periode ke periode begini sudah," ketusnya.
Keluhan yang sama juga diungkapkan oleh pengendara asal Kota Maumere, Kabupaten Sikka, Fransiskus Renol yang kebetulan melintas karena ingin pergi ke rumah temannya di Kampung Belame.
"Parah sekali jalannya, banyak genangan air berlumpur. Risiko cukup berat. Di Maumere lebih bagus. Akses jalan di Maumere lumayan sudah beraspal semua," ujar Fransiskus.
Dia bersama dua orang temannya harus ekstra hati-hati melewati jalan-jalan berlubang dan berlumpur itu.
Sama halnya juga dengan Leo dan anaknya yang sering melakukan perjalanan dari Lewoleba ke Belame.
Leo mengaku jarak tempuh dari Lewoleba ke kampungnya itu lebih lama karena kondisi jalan yang buruk.
Dia berharap ada perhatian dari Pemda Lembata untuk meningkatkan kualitas ruas jalan tersebut.
Sementara itu, dihubungi terpisah, Kepala Bidang Bina Marga Dinas PUPR Kabupaten Lembata Gerardus Ignasius Ata Buran berujar tahun ini sudah ada anggaran senilai Rp 7 miliar dari DAK penugasan untuk peningkatan ruas jalan di segmen Belang sepanjang 2,5 kilometer.