Pandu Digital SMA Negeri Weluli Literasi Digital di Perbatasan Negeri
peserta didik yang masih belum memiliki alat - alat komunikasi dan mereka juga kebanyakan belum tahu tentang aplikasi zoom
Penulis: Michaella Uzurasi | Editor: Rosalina Woso
Pandu Digital SMA Negeri Weluli Literasi Digital di Perbatasan Negeri
POS-KUPANG.COM | KUPANG -- Proses pembelajaran dalam masa pandemi sudah dijalankan secara online selama hampir setahun ini di seantero negeri.
Namun, Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) Weluli, yang terletak di Kecamatan Lamaknen, Kabupaten Belu ini baru mengenalkan proses belajar kepada siswa melalui aplikasi seperti Zoom dan Google Classroom.
Hal ini karena keterbatasan para peserta didik dan juga sekolah sendiri dalam menyediakan pendidikan berbasis online.
Kegiatan ekstrakurikuler akhirnya kembali diadakan dalam masa pandemi meski pesertanya terbatas dan menerapkan protokol kesehatan demi kebutuhan para siswa di perbatasan.
Kegiatan tersebut diikuti oleh 12 siswa dari kelas X dan XI dan diberi nama Pandu Digital yang menjadi salah satu unit kegiatan siswa.
Pandu Mentor, Suri Lebo Eduardus, kepada POS-KUPANG.COM mengatakan, transformasi digital saat ini sudah didepan mata maka pertama - tama yang perlu diajarkan adalah bagaimana berinternet secara sehat.
"Berinternet secara sehat ini pertama, mereka bisa memanfaatkan setiap konten yang ada di internet untuk bahan edukasi," kata Suri pada Jumat (29/01/2021).
"Yang berikut kita latih mereka dasar - dasar literasi. Salah satu kecakapan literasi itu kan literasi digital. Nah karena transformasi digital sehingga kita lebih melatih adik - adik ini untuk memanfaatkan semua teknologi informasi yang ada untuk belajar dan juga bisa meningkatkan skill, kemampuan mereka terutama dalam hal pembuatan konten, jadi konten creator," jelasnya.
Dia berharap, setelah mengikuti kegiatan ini, para siswa bisa menjadi pandu bagi teman - teman sekolahnya yang belum begitu mengenal produk - produk digital.
Keduabelas siswa tersebut masih belum dikelompokkan pada tiap bidang minat mereka karena kata Suri, untuk sementara masih tahap penjajakan untuk melihat potensi mereka.
"Setelah beberapa kali pertemuan kita akan lakukan penilaian, mereka punya ketertatikan itu ke mana, mereka mau dibidang internet, mau fokus ke Teknik Komputer atau jadi konten creator atau ada yang mau ke literasi dan jurnalistik," ujarnya.
"Setelah itu kita akan dampingi secara khusus sesuai passion mereka," tamba Suri.
Bagi dia, yang penting para peserta punya kecakapan sehingga mereka bisa meliterasi diri dalam dunia digital dan juga punya kecakapan memanfaatkan IT dalam kehidupan mereka.
Selain itu, peserta juga bisa jadi pandu untuk teman - teman sebaya di sekolah atau di lingkungan mereka.
"Mereka akan jadi pandu entah itu masyarakat atau lembaga pendidikan untuk pemanfaatan teknologi digital dalam proses pembelajaran atau tata kelola pemerintahan," jelas Suri.
Sebagai Sekolah yang berada di daerah perbatasan, Suri mengatakan, kendalanya adalah fasilitas karena ada peserta yang sama sekali tidak memiliki gadget.
"Selain itu soal Covid ini saja sih yang membatasi.
Untuk semangat, mereka semangat," tukasnya.
Tidak tanggung - tanggung, Suri bahkan mengorbankan pulsa datanya untuk dipakai para peserta jika sedang ada kelas Pandu Digital.
"Untuk jaringan internet, saya biasa pakai tethering dari HP saya. Setiap kali pembelajaran itu saya tidak paksakan mereka beli kuota jadi tethering saja dari saya," ungkapnya.
Baginya hal ini bukan masalah karena dia menyadari semua dimulai dari keterbatasan.
Meski jauh di perbatasan, kelas Pandu Digital ini diisi oleh pemateri - pemateri dari luar daerah yang berkompeten dibidangnya masing - masing.
"Di kelas ini kita juga ada pemateri dari luar, teman - teman pegiat literasi Kabupaten Bekasi, relawan TIK Kabupaten Bekasi, relawan TIK Kota Tasikmalaya, ada relawan TIK Provinsi Lampung yang jadi pemateri lewat zoom untuk adik - adik," ungkap Suri.
Para pemateri tersebut, lanjutnya, ada yang mengajar khusus tentang internet sehat, ada yang khusus tentang literasi, ada yang tentang sosial media, ada juga yang khusus tentang fotografi dan videografi.
"Jadi clue - clue untuk prakteknya saya dampingi, sementara untuk penguatan kapasitas itu dari teman - teman relawan TIK," ujar Suri.
Dia mengungkapkan, awal mula kegiatan ini adalah karena anak - anak kesulitan untuk Belajar Dari Rumah (BDR).
"Untuk setting Zoom saja tidak bisa jadi permintaan pertama Kepala Sekolah itu untuk melatih mereka memakai aplikasi. Jadi pertemuan pertama itu mereka sudah saya latih sehingga mereka sudah bisa. Jadi, ketika ada pertemuan di masing - masing kelas itu mereka yang jadi moderator di zoom meeting," ujarnya.
Kepala SMAN Weluli, Maria Fatima Berek mengatakan, proses pembelajaran digital ini berawal dari postingan - postingan di media tentang kegiatan pembelajaran selama masa pandemi.
"Kita hanya membaca lewat media tentang pembelajaran digital dan saya berpikir kenapa di sekolah saya belum," ungkapnya.
Dikatakan Fat, dia sudah diajak Suri sejak setahun lalu untuk memulai kegiatan pembelajaran digital namun akhirnya baru bisa terealisasi ditahun ini.
Fat melanjutkan, ini merupakan salah satu kegiatan ekstrakurikuler yang nantinya akan menjadi kegiatan permanen di SMAN Weluli.
"Setekah saya mengikuti beberapa minggu terakhir ini, walaupun hujan, angin dan keterbatasan yang mereka miliki tetapi saya melihat ada aura positif, mereka punya kemauan yang sangat tinggi," tuturnya.
Bersama Suri dan salah satu guru Bahasa Indonesia, Linus Mau Bau, Fat kemudian berkoordinasi untuk memulai kegiatan ekskul ini meskipun ekskul yang lain tidak berjalan.
"Bapak Linus, sebagai guru Bahasa Indonesia juga turut dalam kegiatan ini untuk membimbing siswa menuangkan pemikiran mereka lewat tulisan - tulisan kreatif mereka berupa puisi atau pantun," kata Fat.
"Ini juga salah satu motivasi supaya mereka juga tahu, mereka bukan hanya melihat atau menonton lewat YouTube kegiatan pembelajaran ini dilangsungkan oleh sekolah - sekolah lain tetapi mereka juga kita langsung libatkan dalam kegiatan ini," terangnya.
Selaku pimpinan di lembaga pendidikan tersebut Fat berharap, kegiatan bermanfaat ini terus dilangsungkan agar proses pembelajaran digital lebih berkembang di SMAN Weluli.
"Dengan keterbatasan yang dimiliki, saya juga mau saya punya anak - anak tahu apa itu pembelajaran melalui zoom meeting, google classroom, karena di sini memang kita BDR, kalau di kota - kota besar mungkin tidak ada kendala tetapi kalau kita di sini, banyak guru yang sebenarnya sudah sangat bagus untuk mengajak siswa belajar tapi kendalanya itu peserta didik yang masih belum memiliki alat - alat komunikasi dan mereka juga kebanyakan belum tahu tentang aplikasi zoom," urainya.
"Dengan adanya kegiatan ini, kami juga ya walaupun di kampung tetapi jangan terlalu ketinggalan," lanjut Fat.
Dia juga berpesan kepada para siswa untuk tidak pesimis dengan apa yang mungkin belum bisa didapatkan hari ini.
Salah satu siswa SMAN Weluli, Siprianus Manek Hale yang juga turut serta dalam kelas Pandu Digital ini mengaku senang.
Sipri yang duduk dibangku kelas XI IPA ini mengatakan, dia banyak belajar bagaimana menggunakan internet dengan baik, bagaimana cara mengambil video dan gambar dengan baik dan juga bagaimana proses literasi digital itu berjalan.
"Saya sangat senang karena belum pernah diberikan hal- hal seperti ini apalagi ini tidak diikuti oleh semua siswa," ungkapnya senang.
• Kunci Jawaban Tema 7 Kelas 6 Hal 94 95 97 Buku Tematik SD Pembelajaran 5 Subtema 2
• 5 Bahan Alami Ini Bisa Menghilangkan Kutil di Tubuh Anda
Sipri yang lebih suka kelas membuat video mengambil gambar - gambar ini harus menempuh perjalanan jauh dari rumahnya di Liaasu untuk bisa mengikuti pembelajaran ini di Weluli.(Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Michaella Uzurasi)