Breaking News:

Opini

Absurditas Camus, Bencana dan Sikap Kita

Dari berbagai karya filosofisnya, Camus menjadi terkenal karena novelnya, La Peste (Sampar), yang terbit pada tahun 1947.

Foto pribadi
Har Yansen 

Absurditas Camus, Bencana dan Sikap Kita

Oleh Har Yansen

POS-KUPANG.COM - Dalam filsafat, Albert Camus dikenal sebagai seorang sastrawan, seniman, wartawan sekaligus filsuf berkebangsaan Prancis. Ia lahir pada tanggal 7 November 1913 di Drean (selanjutnya dikenal dengan nama Mondovi), di Algeria Prancis. Saat Perang Dunia II, sebagai orang Perancis, Camus mengalami pendudukan oleh Jerman.

Dari berbagai karya filosofisnya, Camus menjadi terkenal karena novelnya, La Peste (Sampar), yang terbit pada tahun 1947. Ada yang mengatakan berkat novelnya itu, Camus lalu mendapatkan hadiah Nobel pada tahun 1957.

Dalam buku terbaiknya, The Myth of Sysifus, Camus meminjam Sisifus dalam mitologi Yunani untuk menjelaskan tentang absurditas. Sisifus digambarkan oleh Homer sebagai raja bijak dari Korintus. Oleh karena kebijaksanaannya, ia memberitahukan kepada Asofus bahwa putrinya telah diculik oleh Zeus.

Zeus yang marah atas pengaduan tersebut, mengutuk Sisifus untuk mengangkat batu hingga ke puncak gunung. Namun ketika Sisifus telah sampai di puncak gunung, batu tersebut terjatuh. Sisifus kembali harus membawa bongkahan batu ke puncak gunung hingga tiada henti. Demikian terjadi secara berulang selamanya, entah sampai kapan.

Camus tidak memandang kisah Sisifus sebagai kesia-siaan tanpa nilai. Bahkan, ia mengajak kita untuk melihat Sisifus yang bahagia, yang mengisi hatinya dengan perjalanan menuju puncak gunung. Batu adalah dunia tak terbatas yang tidak dapat habis dijelajahi oleh manusia.

Sisifus kembali mengambil batu. Hal ini sama artinya dengan manusia yang melihat kembali kepada dunianya. Sisifus yang mengangkat batu adalah saat di mana manusia melakukan proses konfrontasi.

Tentang hal ini, Camus menambahkan bahwa absurditas dapat menjadi jelas saat kita mengalami proses konfrontasi antara penciptaan dan penghancuran, penyatuan dan pemisahan. Manusia paham bahwa satu-satunya akhir dari penciptaan adalah penghancuran.

Di sinilah Camus menjelaskan bahwa absurditas muncul dalam jalinan kontradiksi. Dunia yang tak teruraikan dan terbatas ini selalu berbenturan dengan hasrat manusia untuk memperoleh kejelasan.

Halaman
123
Editor: Agustinus Sape
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved