Taman Daun Lembata Bagi Sembako Untuk Warga Eks Pengungsi Timor Leste di Kupang

Relawan Taman Daun Lembata bagi Sembako untuk warga eks pengungsi Timor Leste di Kupang

Penulis: Ricardus Wawo | Editor: Kanis Jehola
Dokumen Taman Daun Lembata
Tiga orang relawan yakni John Batafor, Galang Tahir dan Redo yang kebetulan berada di Kota Kupang menyempatkan diri berbagi kasih bersama warga eks pengungsi Timor Leste yang bermukim di Desa Noelbaki, Dusun Air Sagu, RT 09/RW 04, Kabupaten Kupang, Jumat (29/1/2021). 

Relawan Taman Daun Lembata bagi Sembako untuk warga eks pengungsi Timor Leste di Kupang

POS-KUPANG.COM-LEWOLEBA-Berbuat baik dan berbagi kasih tak mengenal ruang dan waktu. Relawan Taman Daun Lembata membuktikan hal itu.

Tiga orang relawan yakni John Batafor, Galang Tahir dan Redo yang kebetulan berada di Kota Kupang menyempatkan diri berbagi kasih bersama warga eks pengungsi Timor Leste yang bermukim di Desa Noelbaki, Dusun Air Sagu, RT 09/RW 04, Kabupaten Kupang, Jumat (29/1/2021).

Baca juga: Semua Pelayaran ASDP Ditutup Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Keluarkan Maklumat

Selain memberikan beras dan sembako kepada 30 Kepala Keluarga (KK), ketiga relawan sosial ini juga melihat dan mendengar langsung rintihan hati warga eks Timor Leste dan kondisi hidup mereka.

John berujar warga eks Timor Leste itu tinggal di gedung bekas pabrik kulit. Kondisi mereka masih memprihatinkan. Menurutnya, gedung tua itu sudah reyot dan ambruk.

Warga semakin kesulitan pada musim hujan dan angin. Tempat tinggal mereka, katanya, memang sudah tidak layak huni.

Baca juga: Kunjungan 10 Taman Nasional 2020: Taman Nasional Komodo Melorot

"Kita sedang berupaya bagaimana caranya memperbaiki tempat tinggal mereka," tandas John kepada Pos Kupang, Jumat (29/1/2021).

"Mirisnya adalah bahwa atap gedung tua ini sudah sangat banyak bolong sehingga sangat sulit ketika hujan turun dan lebih parahnya ketika angin kencang datang, semua warga pasti lari keluar gedung untuk selamatkan diri karena takut atap bangunan ambruk dan membahayakan nyawa mereka," kata John bercerita.

Ketika berkunjung ke sana, kenangnya, para relawan disambut senyum ramah anak-anak yang sudah putus sekolah dan beberapa orang tua yang sedang sakit.

"Mereka yang sakit lalu hanya pasrah pada keadaan karena persoalan BPJS mereka yang entah kenapa mereka sendiri tidak paham. Jika pakai uang cash pun dari mana mereka punya uang. Sementara untuk kehidupan sehari-hari pun susah," ungkap John Batafor.

Selain itu, Galang Tahir menambahkan anak-anak warga eks pengungsi Timor Leste juga sudah putus sekolah karena orang tua hampir tidak punya uang. Pekerjaan mereka tidak tentu.
Jangankan lahan pertanian, lahan untuk membangun rumah saja tidak mereka punya.

Galang melukiskan bahwa tempat tinggal mereka hanya berupa sekat-sekat di dalam gedung tua dan beratap terpal.

Mayoritas dari para penghuni kamp adalah petani yang kesehariannya menggantungkan hidup pada lahan garapan. Mereka menyewa lahan-lahan kosong milik warga lokal untuk menanam sayur.

"Ada juga yang menjadi buruh tani. Menggarap lahan sawah milik warga dengan sistem bagi hasil. Yahh tapi hanya untuk sebatas makan dan itu pun dicukup-cukupi saja," urainya.

"Sedih memang, banyak ungkapan hati yang mereka lontarkan dari balik sekat-sekat dinding bebak dan terpal baliho peninggalan masa kampanye politik yang mampu mereka jadikan pelindung saat tidur malam dari dinginnya udara malam yang berpotensi merusak 30 Kepala keluarga dan Ratusan Jiwa yang hingga kini masih bertahan tanpa arah dan tujuan," katanya. (Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Ricko Wawo)

Sumber: Pos Kupang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved