Breaking News:

Salam Pos Kupang

Jangan Biarkan Korban Komodo Bertambah

KABAR sedih datang dari Kabupaten Manggarai Barat. Seorang balita di Desa Komodo, Kecamatan Komodo, digigit satwa Komodo

Jangan Biarkan Korban Komodo Bertambah
Dok POS-KUPANG.COM
Logo Pos Kupang

POS-KUPANG.COM - KABAR sedih datang dari Kabupaten Manggarai Barat. Seorang balita di Desa Komodo, Kecamatan Komodo, digigit satwa Komodo hingga pergelangan tangan kirinya putus hari Sabtu, 16 Januari 2021.

Balita bernama Febianto berumur 4,5 tahun berjenis kelamin laki-laki itu digigit Komodo saat asyik bermain di rumah panggung miliknya. Saat ini balita itu sedang ditangani tim medis di RS Siloam Labuan Bajo.

Berita tentang korban gigitan satwa langka komodo itu sebenarnya bukan baru sekarang terjadi. Belakangan ini berita korban gigitan satwa komodo ini sudah sering terjadi. Jumlah korban pun sudah mencapai puluhan orang.

Baca juga: Rapat Pleno Penetapan Bupati dan Wabup Manggarai Terpilih 22 Januari 2021 Masih Wacana

Berdasarkan penjelasan Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional Komodo wilayah III Pulau Komodo, Hendrikus Rani Siga, sebagaimana diberitakan Kompas.Com, Kamis (4/5/2017), dalam 43 tahun sejak 1974 hingga Mei 2017, sebanyak 30 orang digigit Komodo di kawasan Taman Nasional Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, Flores, NTT. Dari jumlah tersebut, lima orang di antaranya meninggal.

Korban gigitan satwa komodo itu terdiri dari dua wisatawan mancanegara masing-masing dari Singapura dan Swiss. Selebihnya masing-masing masyarakat 12 orang, petugas polisi kehutanan 8 orang, pemandu wisata 5 orang. Pegawai perhubungan 1 orang, buruh bangunan Putri Naga Komodo 1 orang, dan buruh bangunan menara telkomsel 1 orang.

Baca juga: Kasus Buang Bayi di Sumba Timur Sudah Tahap Satu

Ke-30 orang korban tersebut baru data sampai Mei 2017. Belum termasuk data sejak Juni 2017 sampai sekarang. Dari jumlah korban gigitan yang sudah didata diketahui jumlah korban gigitan satwa Komodo sudah cukup banyak dan karena itu tidak bisa dianggap sepele.

Meski tidak bisa dianggap sepele namun sejauh ini belum diketahui langkah apa yang sudah dilakukan pemerintah daerah Kabupaten Manggarai Barat maupun pihak Balai Taman Nasional Komodo (BTNK) selaku pengelola taman wisata berkelas internasional tersebut.

Pihak pengelola BTNK memang selalu menyarankan agar para wisatawan baik mancanegara maupun nusantara yang datang ke Komodo jangan datang sendirian tapi harus selalu dengan pemandu.

Imbauan ini memang bisa diterima kalau yang datang itu wisatawan mancanegara dan nusantara. Tapi bagaimana dengan keamanan warga lokal yang selama ini berdomisili di Desa Komodo?

Keamanan masyarakat setempat juga perlu dipikirkan mengingat selama ini ada warga setempat juga yang telah menjadi korban gigitan Komodo. Orang dewasa mungkin tidak terlalu bermasalah karena bisa berusaha menyelamatkan diri. Orang dewasa juga mengerti akan rambu-rambu peringatan.

Tapi bagaimana dengan anak-anak balita seusia Febianto? Anak-anak seperti inilah yang sebenarnya perlu dicarikan jalan keluar agar mereka tetap aman dan nyaman bermain di rumah sendiri atau perkampungan walaupun berdomisili di lingkungan tempat tinggal komodo.

Apabila lokasi tempat tinggal warga Pulau Komodo adalah sebuah perkampungan kiranya penting dipikirkan untuk membuat pagar pengaman sehingga satwa Komodo tidak bisa masuk sampai lokasi perkampungan bahkan sampai ke rumah-rumah warga.

Dengan adanya pagar pengaman, keamanan anak-anak untuk bermain juga tetap terjamin. Dan lebih penting dari itu adalah korban keganasan satwan Komodo bisa ditekan atau tidak bertambah lagi. *

Editor: Kanis Jehola
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved