In Memoriam Syekh Ali Jaber, Dulu Diminta Rp 150 Juta untuk jadi WNI Tapi Saat Diproses Malah Gratis

Dalam ceramahnya yang berdurasi 19.30 menit itu, Syekh Ali Jaber mengungkapkan bahwa kunci sukses dunia akhirat, adalah percaya takdir.

Editor: Frans Krowin
Instagram/Arie Untung
Kondisi terkini Syekh Ali Jaber saat jalani perawatan Covid-19 

In Memoriam Syekh Ali Jaber, Dulu Diminta Rp 150 Juta untuk jadi WNI, Tapi Saat Diproses Malah Gratis

POS-KUPANG.COM, PALEMBANG - Syekh ALi Jaber telah dimakamkan di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Meski pendakwah tersohor itu telah tiada, namun seabrek kenangan masih membekas kuat di dalam hati ummat.

Salah satu kenangan yang seakan sulit untuk dilupakan, adalah perjalanan panjang Syekh Ali Jaber sesaat hendak menjadi Warga Negara Indonesia (WNI). Padalah dalam sejarah, keluarga Syekh Ali Jaber berasal dari Indonesia.

Di tausiyah Syekh Ali Jaber tiga bulan lalu yang di-posting di YouTube, Syehk Ali Jaber menceritakan bagaimana dirinya bisa menjadi WNI.

Ia bisa berkata begitu, karena ia banyak belajar dari perjalanan hidup bersama takdir.

Ia menceritakan, saat SD di Madinah, hampir setiap hari sedekah 1 real untuk Palestina.

Dapat uang saku dari orangtua 3 real, 1 real untuk makan, 1 real untuk minum dan 1 real untuk sedekah Palestina.

Saat itu, muncul cita-cita ingin ke tanah suci Palestina. Bisa silaturahmi dan bisa ziarah ke Masjid Aqso.

Lama tinggal di Madinah, belum terkabul cita-cita itu. Hingga akhirnya, tahun 2008, dapat panggilan jadi Imam Salat di Masjid Sunda Kelapa.

Di Indonesia, sambutan masyarakat luar biasa. Setidaknya, menjalani tugas selama satu bulan menjadi iman tarawih dan tahajud. Meski saat itu, sebagai orang asing bisa mendapat kemudahan izin tinggal.

"Saat itu, Wapresnya Bapak Jusuf Kalla dan diberi kemudahan bolak balik Madinah Indonesia. Waktu itu, Subhanallah, kalau disuruh pilih Madina Mekkah Indonesia. Pastinya Madinah. Karena salat di Madinah bisa 100 kali lipat. Masjidil Haram 1000 kali lipat. Kalau bicara berkah, Madinah lebih berkah, suci lebih suci," ceritanya.

Tinggal di Indonesia tahun 2008, berlanjut tahun 2009, 2010. Karena baru pertama kali tinggal di Indonesia, ia belum bisa bahasa Indonesia.

Ada satu teman baik, mengajarkannya Bahasa Indonesia. Hanya empat ungkapan yakni Apa kabar, bagus, mau kemana, aku cinta kepadamu.

Jadi, saat itu setiap ia bertemu dengan orang, hanya itu yang diucapkan. Tidak tahu tanggapan orang, saya hanya mengucapkan itu saja.

Halaman
123
Sumber: Sriwijaya Post
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved