Breaking News:

Opini Pos Kupang

Himne Natal Sedulius

Itulah pembuka lagu "A solis ortus cardine", salah satu himne Gregorian Natal yang hari ini kita kenal

Himne Natal Sedulius
Dok POS-KUPANG.COM
Logo Pos Kupang

Oleh Mario F. Lawi, Alumnus Magister Kajian Budaya Universitas Sanata Dharma

POS-KUPANG.COM - Itulah pembuka lagu "A solis ortus cardine", salah satu himne Gregorian Natal yang hari ini kita kenal. Tujuh bait lagu himne tersebut diambil dari salah satu puisi himne yang ditulis oleh Caelius Sedulius, seorang penyair dan teolog yang hidup pada sekitar abad kelima Masehi.

Martin Luther, dalam karyanya De Divinitate et Humanitate Christi, menyebut Sedulius sebagai poetae Christianissimus-penyair paling Kristen. Sedulius adalah salah satu penulis himne termasyhur dalam gereja, selain nama besar seperti Ambrosius.

Ada tiga karya penting yang ditulis Sedulius: dua puisi himne, dan satu puisi epik biblikal. A solis ortus cardine, salah satu puisi himnenya, adalah puisi akrostik alfabetik: kata pertama setiap kuatrinnya membentuk abjad Latin secara berurutan.

Baca juga: Launching Women Care Day di Mapolda NTT: Irjen Lotharia: Rakyat Butuh Aksi Nyata

Karena berpola alfabetis, puisi tersebut juga dikenal sebagai puisi abecedarius. Bentuk akrostik merupakan salah satu bentuk puisi tertua yang dikenal, yang bisa dilacak ke versi asli beberapa bagian Kitab Ratapan, Mazmur dan Amsal.

Pada Abad Pertengahan, puisi epiknya, Carmen Paschale (Nyanyian Kemenangan), termasuk salah satu karya yang dikaji dalam kurikulum sekolah. Carmen Paschale dianggap layak dikaji secara artistik dan merupakan sumber teologi yang baik oleh Abad Pertengahan. Sumber utama puisi-puisi Sedulius adalah Alkitab, terutama edisi terjemahan Latin Vulgata.

Baca juga: Masyarakat Golewa Minta Informasi Penyebaran Covid-19

Pada tahun 2019, penerbit Bentara Pradipa Pustaka menerbitkan terjemahan Indonesia dua himne Sedulius.

Dalam tujuh bait pertama puisi akrostik Sedulius, bisa kita amati sejumlah kecenderungan Sedulius dalam membingkai peristiwa kelahiran Yesus Kristus dengan menggunakan jukstaposisi.

Bait pertama himne adalah sebuah ajakan universal, ditunjukkan Sedulius dengan verba subjungtif "canamus" (marilah kita memuji): hendaklah seluruh bumi memuji Kristus.

Pada bait kedua, Sedulius mengekspresikan Natal sebagai peristiwa keterlibatan Allah: Pencipta mengambil citra hamba melalui "inkarnasi" (dari kata "in" dan "caro").
Keterlibatan Allah dalam peristiwa inkarnasi bertujuan membebaskan manusia dari belenggu maut, sebagaimana digambarkan Sedulius dalam dua baris terakhir bait kedua secara puitis: ut carne carnem liberans/non perderet quod condidit.

Halaman
123
Editor: Kanis Jehola
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved