Pertama di Indonesia, Pengolahan Sampah di Ende Gunakan Teknologi
Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur ( NTT), menjadi kabupaten pertama di Indonesia yang menjalankan program TOSS
POS-KUPANG.COM | ENDE - Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur ( NTT), menjadi kabupaten pertama di Indonesia yang menjalankan program TOSS atau Teknologi Olah Sampah di Sumbernya secara lengkap, pengolahan hingga pemanfaatan.
TOSS sudah dijalankan di beberapa daerah lain yakni Klungkung, Jepara, Bekasi dan Jakarta namun masih pilot project dan sebatas masalah sampah.
Sedangkan di Kabupaten Ende TOSS akan diterapkan secara lengkap, dari pengolahan sampah hingga pemanfaatannya, antara lain untuk subtitusi minyak tanah, kayu bakar hingga subtitusi penggunaan batu bara di PLTU Ropa Ende.
Baca juga: Pilkada Sumba Timur - Brimob Perkuat Pengamanan di KPU dan Bawaslu
Sehubungan dengan itu, Bupati Ende Djafar Achmad meneken MoU dengan pihak PT. PLN UPK Flores dan Startup Company Comestoarra dan Komunitas Anak Cinta Lingkungan (Acil) Ende untuk menyukseskan TOSS.
Penandatanganan kerja sama tersebut oleh Bupati Djafar Achmad, Lambok Siregar, Manager PT PLN UPK Flores, Arief Noerhidayat, Ceo Startup Company Comestoarra dan Umar Hamdan, ketua Acil di Kantor Bupati Ende, Kamis (10/12/2020).
Baca juga: Situasi Malaka Memanas, Aparat Gabungan Polri-TNI Siaga di Jalur Jalan Utama Betun-Kupang
Bupati Djafar antusias dengan adanya TOSS karena menjadi solusi tepat mengatasi masalah sampah di Kabupaten Ende. Selain itu TOSS juga mendatangkan banyak manfaat.
Menurutnya butuh komitmen dari semua pihak dan masyarakat Kabupaten Ende untuk bersama-sama mengatasi masalah sampah. "Ini tangung jawab kita bersama," kata Bupati Djafar.
Apalagi, kata dia, Ende merupakan daerah wisata yang mana di tahun depan Ende menjadi daerah super prioritas pariwisata. Oleh karena itu, lingkungan yang aman dan nyaman bagi wisatawan domestik maupun asing perlu disiapkan dengan baik, termasuk mengatasi sampah.
CEO startup company comestoarra Arief Noerhidayat, mengakui bahwa Ende merupakan kabupaten pertama di Indonesia yang menerapkan TOSS secara lengkap.
"Untuk Ende, end to end service. titik awal hingga akhir. Sampah dimanfaatkan untuk energi kerakyatan untuk substitusi minyak tanah dan kayu bakar, serta cofiring," jelasnya.
Dia jelaskan, tahap awal pengolahan yakni sampah-sampah non organik maupun organik dikumpulkan, tidak perlu dipilah. Sampah dikumpulkan dalam wadah yang terbuat dari bambu. "Beda dengan pengolahan sampah pada umumnya, harus dipilah," ungkapnya.
Sampah dalam wadah dari bambu tersebut lalu difermentasi dan disiram dengan bioactivatori. Sampah-sampah tersebut akan menyusut hingga lima puluh persen dalam waktu tiga hingga lima hari.
Langkah selanjutnya, yakni sampah-sampah tersebut dicacah dan dipeletisasi menggunakan mesin. Pelet-pelet tersebut kemudian bisa dimanfaatkan menjadi energi alternatif, untuk bahan bakar rumah tangga dan terutama cofiring batu bara di PLTU.
Manfaatnya bagi masyarakat yakni bisa menukarkan sampah dengan pellet untuk bahan bakar kompor. Memang kompornya khusus, sehingga ditahap awal, masyarakat tukar sampah dengan kompor. Selanjutnya tukar sampah dengan pellet.
Tidak hanya itu, untuk kebutuhan cofiring PLTU Ropa, masyarakat bisa menjual sampahnya per kilo Rp. 600.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/pln-penandatanganan-kerja-sama-program-toss-antara-pemda-ende.jpg)