Kisah Anak Waienga Lembata yang 'Hilang' Remaja Difabel Berkorban Demi Empat Bocah
Kisah anak Desa Waienga Lembata yang 'hilang' remaja Difabel berkorban demi empat bocah
Kisah anak Desa Waienga Lembata yang 'hilang' remaja Difabel berkorban demi empat bocah
POS-KUPANG.COM - ERUPSI Gunung Ile Lewotolok mencatat banyak peristiwa menegangkan. Bencana alam apapun, seperti itulah kisahnya. Hiruk pikuk. Lari tunggang langgang. Panik. Situasi itulah yang terjadi pada Minggu (29/11) siang sekitar pukul 09.45 Wita.
Gemuruh besar dan erupsi dengan tinggi 1 Km dan hujan abu vulkanik hingga Pulau Adonara dan Larantuka, ibukota Kabupaten Flores Timur, siapa yang tetap duduk manis tak bergeming dari rumah?
Badan Geologi, PVMBG mencatat erupsi dengan tinggi kolom abu berwarna kelabu hingga hitam mencapai 4000 meter di atas puncak atau kurang lebih 5.423 meter di atas permukaan laut. Erupsi ini terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 35 mm dengan durasi erupsi 10 menit dan diikuti dengan tremor terus menerus.
Baca juga: Rinni Wulandari: Takut Rindu
Kepanikan juga dialami empat bocah, Pius Kosmas Aprilnaldi (9), Bernardus Boli Rang {9), Sesilia Date (8), Matias Bala (8) dan seorang remaja, Philipus Kopong Basa yang tinggal di Desa Waienga, Kecamatan Lebatukan.
Waienga, termasuk sembilan desa di pesisir Kecamatan Lebatukan yang berhadapan langsung dengan Gunung Lewotolok. Saat itu para bocah ini sedang bermain di pantai dan terkejut saat mendengar gemuruh besar dan Gunung Lewotolok mengeluarkan asap tebal.. "Kami ketakutan dan lari," tutur Aprilnaldi.
Baca juga: Bupati Sunur Minta Pengungsi Ile Lewotolok ke Posko Terpusat
Di jalan umum, mereka bertemu Philipus yang biasa disapa Philox yang saat itu juga sedang berlarian ke arah perbukitan di belakang perkampungan. Mereka lalu bersama-sama.
"Ada jalan JUT dan Sesilia biasa ke kebun bersama mamanya. Mereka sepertinya mau ke pondok di kebun yang biasanya Sesilia dan mamanya pergi tapi salah jalan dan tersesat," ujar Kamilus Raja Ruing, ayah Aprilnaldi
Lari, jalan, istirahat sebentar dan jalan lagi, para bocah ini mengaku kelelahan tapi bayangan letusan gunung dan tsunami membuat mereka takut pulang.
Saat ditemui di UGD Puskesmas Hadakewa, Rabu (22/12), infus baru saja dilepas dari tangan mereka. Kondisi mereka lemas bahkan salah satu di antara mereka pingsan saat ditemukan, karena hampir 28 jam berada di hutan sebelum akhirnya ditemukan masyarakat Desa Lamalela, Kecamatan Lebatukan yang melakukan pencarian.
Philipus adalah difabel yang merasa paling bertanggungjawab karena paling besar di antara mereka. Difabel dengan kondisi cacat di tangan dan kaki kiri itu menggendong anak perempuan dan laki-laki terkecil di antara empat bocah. Pada saat mendaki dan dia tahu bocah-bocah itu tidak kuat, karena itu dia menggendong mereka satu per satu hingga puncak bukit.
Mereka menuturkan sempat melihat api di puncak Lewotolok lalu kemudian tidak lagi saat menuruni lembah dan memilih tidur di sebuah kali mati. Philipus lagi-lagi menjadi penjaga mereka. Dijaganya para bocah itu tidur. Dia sempat tertidur dan menuturkan dalam bahasa daerah bahwa ada kejadian-kejadian aneh yang dialaminya.
Kalian makan apa selama berada di hutan? "Kami makan tiga buah kelapa kering," ujar Bernardus. Caranya? Lagi-lagi Philipus mengatasi situasi. Mengupas kelapa kering dengan gigi. Memecahkannya lalu memberi makan para bocah itu. Dia sendiri mengalah. Makan paling sedikit. Mereka juga makan nangka muda, untuk bisa menahan lapar.
Philipus, difabel ini dalam kondisi tidak sempurna secara fisik. Tangan tak sempurna. Jalannya tidak normal karena kaki kirinya tidak sempurna. Tapi dia tetap berusaha menjadi penolong bagi para bocah. Dia mengeluh, badannya sakit semua karena harus gendong dua bocah yang paling kecil.
Di ruang rawat, dia berceritera sambil duduk. Dalam bahasa daerah yang saya pahami setengah-setengah dan diterjemahkan sempurna oleh Kamilus, Philipus mengaku panik dan takut.