Breaking News:

Salam Pos Kupang

Ada HIV/AIDS Sebelum Corona

TANGGAl 1 Desember diperingati sebagai Hari AIDS Sedunia. Secara historis, Hari AIDS Sedunia pertama dicetuskan pada 1988

Ada HIV/AIDS Sebelum Corona
Dok POS-KUPANG.COM
Logo Pos Kupang

POS-KUPANG.COM - TANGGAl 1 Desember diperingati sebagai Hari AIDS Sedunia. Secara historis, Hari AIDS Sedunia pertama dicetuskan pada 1988. Penggagasnya adalah James W Bunn dan Thomas Netter yang bekerja di bagian informasi Global Programme World Health Organization ( WHO).

Mengapa ada Hari AIDS Sedunia dan perlu diperingati? Semangatnya adalah untuk menumbuhkan kesadaran terhadap wabah AIDS di seluruh dunia yang disebabkan oleh penyebaran virus HIV.

Selain itu bertujuan memberikan support kepada para pengidap HIV/AIDS sekaligus mengenang para korban yang telah meninggal dunia.

Baca juga: Suasana Saat Masyarakat Desa Golo Nderu yang Demo Berdialog Dengan Pemda Manggarai Timur

Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi NTT menyebut hingga Agustus 2020 mencapai 7.234 kasus tersebar di 22 kabupaten/kota. Lima daerah dengan kasus tertinggi, yaitu: Kota Kupang 1.544 kasus, Belu 986 kasus, Sikka 834 kasus, Flores Timur 644 kasus dan Kabupaten Timor Tengah Utara 311 kasus.

Hingga saat ini, belum ditemukan obat yang dapat menyembuhkan HIV AIDS. Namun, sudah ada obat yang diyakini dapat menekan penuh laju pertumbuhan virus HIV dalam tubuh yaitu Antiretroviral (ARV).

Berdasarkan Laporan Perkembangan HIV AIDS & PIMS Triwulan II Tahun 2020 menunjukkan Estimasi jumlah ODHA sebesar 543,100 orang dan 398,784 orang diantaranya telah ditemukan.

Baca juga: Terima Pendemo, Ini Yang Disampaikan Mikael Jaur

Apabila dikategorikan berdasarkan usia, penderita HIV/AIDS terbanyak berada pada usia 25-49 tahun, kemudian usia 20-24 tahun. Sementara penderita HIV/AIDS berusia di atas 50 tahun paling rendah.

Berdasarkan data di atas, berarti kasus HIV/AIDS yang terjadi di NTT saat ini memrihatinkan. Masuk kategori kritis. Dengan demikian perlu upaya serius dan berkesinambungan untuk mencegah.

Bukan hanya menjadi tanggungjawab KPA dan pemerintah. Melainkan semua stakeholder termasuk masyarakat, tokoh pemuda, tokoh agama dan orang tua. Perlu ada gerakan bersama untuk memberi peringatan kepada masyarakat luas mengenai bahaya HIV/AIDS.

Perlu didorong pembentukan komunitas untuk berperan dalam mengakhiri HIV/AIDS. Selain itu kehadiran komunitas dapat mengadvokasi masyarakat luas dan penderita.

Advokasi yang kuat yang dimainkan komunitas sangat dibutuhkan lebih daripada sebelumnya agar memastikan AIDS tetap menjadi agenda politik, bahwa HAM dihormati, dan pihak pengambil keputusan dan yang menerapakannya dapat terus akuntabel.

Hari AIDS Sedunia yang kita peringati hendaknya menjadi momentum evaluasi, relfektif untuk menumbuhkan semangat serta memperbaharui komitmen dalam upaya mengatasi HIV/AIDS. Melalui gerakan bersama secara kontinyu diyakini muncul kesadaran menghindari praktik-praktik yang dapat memicu HIV/AIDS serta meningkatkan secara sukarela untuk melakukan pemeriksaan diri.*

Editor: Kanis Jehola
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved