Ujian Proyek, Siswa SMAS Katolik St.John Paul II Maumere Jalani Penilaian Akhir Semester

Terobosan berani dilakukan SMAS Katolik St John Paul II Maumere di Pulau Flores

Penulis: Eugenius Moa | Editor: Kanis Jehola
POS.KUPANG.COM/EGINIUS MO'A
Peserta didik SMAS Katolik St.John Paul II Maumere di Pulau Flores menjalani ujian proyek dimulai Senin (23/11/2020). 

POS-KUPANG.COM |MAUMERE - Terobosan berani dilakukan SMAS Katolik St John Paul II Maumere di Pulau Flores. Penilaian akhir semester ganjil tahun ajaran 2020/2021, 680 peserta didik menjalani ujian berbasis proyek. Beberapa mata pelajaran dikolaborasi dalam satu kelompok.

Kolaborasi mata pelajaran memperhatikan kompetensi dasar. Setiap kelompok siswa kelas X-XII akan menyelesaikan tujuh sampai delapan proyek dari 16 mata pelajaran di kelas X dan 15 mata pelajaran pada kelas XI dan XII.

Kepala SMAS Katolik St. John Paul II Maumere, RD. Fidelis Dua, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum, Deby Haning, staf kurikulum, RD.Agus Pitang, dan Dionisius Paskalis, menyampaikannya kepada POS-KUPANG.COM, Senin (23/11/2020).

Baca juga: Pjs. Bupati Pakereng Tanam Mangrove di Pesisir Pantai Karewe

Sebelumnya, ujian berbasis proyek ini pertamakali dilakukan oleh peserta didik kelas XII tahun ajaran lalu setelah UN dihapus dalam masa pandemi Covid-19.

"Ujian proyek kami nilai berhasil ketika pertama kali diterapkan pada pada siswa XII. Karena itu, untuk penilaian akhir kelas X-XII tahun ajaran ini diterapkan model ujian proyek. Sedangkan penilaian pengetahuan model pilihan ganda, esai test yang sering dilakukan pada ujian akhir semester sudah terjadi selama proses pembelajaran dengan ulang-ulangan. Memang ujian ujian proyek rumit dan merepotkan para guru," kata RD. Fidel.

Baca juga: DPRD Kota Menilai Penerapan Sanksi dan Isolasi Mandiri Bukan Solusi

Deby Haning menjelaskan, ujian proyek berlangsung selama tiga minggu. Dimulai tahapan pembagian peserta didik kedalam kelompok sebanyak dua orang memperhitungkan jarak domisilinya. Kemudian para guru menyusun kisi-kisi yang diverfikasi tim kurikulum. Selanjutnya uraian tentang kegiatan yang akan dikerjakan peserta didik disosialisasikan kepada mereka.

Mulai hari ini, Senin (23/11/2020), semua peserta didik dirumahkan memulai ujian proyek secara mandiri dipantau oleh wali kelas melalui grup WhatsApp. Pada minggu ketiga tanggal 30/11/2020 sampai 5/12/2020, peserta didik kembali ke sekolah untuk mendapat tambahan bimbingan dan perbaikan atas proyek yang telah dikerjakan.

"Kami ingin hasil, sehingga guru membimbing aspek teknis sesuai uraian kegiatan bukan pada konten. Urusan konten, biarkan peserta didik yang melakukan eksplorasi," timpal RD.Fidel.

Ujian proyek, menurut RD.Fidel, cukup ideal menyiapkan peserta didik ketika telah selesai pendidikan dan mengalami kehidupan nyata di masyarakat. Ketika mereka dibagi berkelompok akan menumbuhkan rasa tanggungjawab, solidaritas menyelesaikan proyek dalam bentuk video animasi dan hasil percobaan yang dipublikasikan di grup medsos.

"Saya amati ketika UN kelas XII dihilangkan, diganti dengan ujian proyek. Mereka bisa membuat presentasi dan vlog pariwisata yang menurut saya sangat bagus seperti dibuat para profesional," ujar RD.Fidel.

RD. Agus Pitang, mengasuh mata pelajaran kateketik mencontohkan kolaborasi mata pelajaran kateketik, agama dan PKN. Kateketik menyorot aspek aborsi, agama tentang martabat kemanusiaan dan PKN tentang nilai-nilai kemanusiaan.

Staf kurikulum, Dionisius Paskalis, mengakui muncul dinamika ketika peserta didik dibagi berkelompok. Ada yang menolak rekanya menjadi anggota kelompoknya karena dianggap kurang mampu. Tapi setelah diberi penjelasan akhirnya mereka saling menerima.

"Respon mereka beragam. Terlihat sekali, kalau anak yang mau berkembang responya bagus sekali. Tapi, ada juga anak yang menganggap ujian proyek sebagai beban,sehingga bimbingan sangat penting," ujar Dion.(ius)

Sumber: Pos Kupang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved