Damianus Rugi Rp 30 Juta Babi Mati Mendadak Akibat ASF
African Swine Fever ( ASF) atau demam babi Afrika menyerang ternak babi.
Ia menyebut jumlah babi yang mati akibat ASF selama Juni-Juli 2020 mencapai 1.200 ekor babi. Sementara pada akhir Juli-Oktober jumlahnya berkurang, yang mati 600 ekor. "Saya imbau, warga tetap terapkan biosecurity karena ASF ini belum zero, masih ada," kata Marianus.
Plt Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Nagekeo, Apolinaris Meo menyebut sampai dengan November 2020 tercatat sebanyak 434 babi mati akibat virus ASF.
Terjadi Kecamatan Aesesa dan Boawae.
"Memang semenjak kasus di Aeramo itu (wilayah Aesesa) tidak ada lagi kasus baru. Mulai menurun, kasus kemarin itu karena bawa babi dari Aeramo ke tempat lain sehingga terjangkit. Kita sudah minta petugas untuk lokalisir tempat-tempatnya," jelas Meo ketika dihubungi, Kamis (19/11).
Ia menegaskan, pihaknya masih melarang transaksi jual beli babi di pasar dalam rangka upaya pencegahan penyebaran ASF. Selain itu, petugas rutin turun lapangan memberikan edukasi masyarakat tentang antisipasi dan bahaya ASF.
Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kabupaten Manggarai Barat, drh Theresia P Asmon mengatakan sebanyak 693 babi dilaporkan mati karena terserang ASF.
Kematian babi tersebar di beberapa kecamatan, yaitu Komodo, Sano Nggoang, Lembor, Lembor Selatan dan Welak. Theresia mengatakan, kematian babi akibat ASF menjadi perhatian pemerintah.
Sementara di Kabupaten Malaka, sebanyak 19.000 babi mati sia-sia akibat terserang virus ASF.
"Puncak kejadian babi mati, sudah lewat. Ada sekitar 19.000 ekor babi yang mati dari hasil pendataan kami. Ini masih saja lebih karena ada yang lepas berkeliaran bebas. Kita prihatin ternak babi mati sia-sia dari ASF," kata Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Perikanan dan Peternakan Kabupaten Malaka, drh Rofinus Seran di Betun, Kamis (19/11).
"Pemda belum berani memprogramkan pengadaan bibit ternak babi untuk kelompok masyarakat," tambahnya.
Di Kabupaten Belu, sebanyak 6.619 babi mati akibat ASF. Total kerugian yang dialami peternak mencapai Rp 33 miliar. Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Belu, Nikolaus Umbu Birri menyebut ada 1.772 peternak yang menjadi korban.
"Total kerugian dihitung dari harga jual babi rata-rata Rp 5 juta pr ekor, jadi kalau 6.619 ekor kali Rp 5 juta sudah Rp 33 miliar," jelas Niko Birri.
Terpisah, Plt Kepala Dinas Peternakan Provinsi NTT, drh Artati Loasana, Msi menyebut sekitar 60.851 babi mati akibat ASF selama Januari-November 2020, tersebar di 23 kabupaten/kota.
Kerugian yang diderita masyarakat akibat meningkatnya angka kematian ternak babi ini, diperkirakan Rp 175,4 miliar. Menurut Artati, virus ASF baru pertama kali terjadi. "Jadi, kita istilahkan penyakit eksotik," kata Artati, Kamis kemarin.
Ia menjelaskan, pihaknya berusaha menutup semua akses jual beli ternak babi di seluruh wilayah NTT.
Namun perpindahan ternak serta bahan makanan dasar ternak dan daging babi dari daerah lain, khususnya Timor Leste, tidak terkontrol.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/margareta-elvilenta-wea-warga-desa-nanganesa.jpg)