Ekspedisi Tunggal Jelajah Nusantara: Maahir Bersepeda Lihat Indonesia

Muhammad Maahir Abdullah (25) menuntaskan Ekspedisi Tunggal Jelajah Nusantara melintasi 34 Provinsi dengan bersepeda sejauh 21.926 km

Editor: Kanis Jehola
TRIBUNNEWS.COM/LUCIUS GENIK
Muhammad Maahir Abdullah (25).Maahir, sapaan akrabnya, seorang diri bersepeda melintasi 34 provinsi di seluruh Indonesia selama 975 hari. 

Selama melakukan ekspedisi, Maahir juga banyak membaca buku dan mencari literatur tentang wilayah-wilayah yang dia tuju dari internet. Alasannya agar dia tidak buta jalan dan mudah beradaptasi dengan kebiasaan warga di lokasi yang dituju.

Manajemen perjalanan, kata Maahir, sangat diperlukan lantaran dirinya harus memberikan assesmen sebelum tiba di lokasi yang akan dituju.

"Kalau saya mau jalan di daerah yang susah jaringan internet misalkan, saya harus seperti apa persiapannya. Kalau misal ke lokasi yang tidak ada jaringan listriknya seperti apa? Apakah saya bawa power bank berapa, kapasitas berapa, intinya bagaimana agar saya memperoleh listrik terus dan sebagainya," ucap dia.

Provinsi Jawa Barat menjadi destinasi pertama bagi Maahir saat mengawali ekspedisi tunggalnya. Dia menyebut perjalanan melintasi seluruh bagian Pulau Jawa tidak ada kendala.

"Karena sudah hafal sebelumnya. Karena di Jawa ini saya sudah berulang-ulang dari uji coba tahun 2015, 2016, 2017 itu. Jadi saya sudah beberapa kali keliling atau menjelajah pulau Jawa, jadi saya tidak ada kendala di pulau Jawa," ucap Maahir.

Dari 34 provinsi yang dikunjungi, Maahir menyebut Pulau Flores menjadi destinasi yang paling membekas di hati dan ingatan. Maahir menceritakan, pengalaman di Pulau Flores begitu membekas karena warga Flores berisikan manusia-manusia yang tulus dan ikhlas.

"Saya lebih mengatakan Pulau Flores. Masyarakatnya sangat fine kepada saya, mereka tidak banyak basa basi, mereka tulus, mereka ikhlas untuk membantu orang lain. Ini yang paling membekas," ujar dia.

Namun demikian, saat perjalanan di Pulau Sumatera, Maahir mengaku terpaksa membatasi diri untuk berinteraksi secara intens dengan warga. Alasannya tak lain situasi pandemi Virus Corona atau Covid-19.

Maahir menyebut pandemi Covid-19 menjadi kendala yang benar-benar merepotkan dalam perjalanannya di Pulau Sumatera.

"Di Pulau Sumatera saya membatasi diri saya untuk berinteraksi banyak dengan masyarakat setempat. Kondisi ini membuat orang saling curiga karena saya juga pendatang," kata Maahir.

"Maka itu saya membatasi untuk tidak berkerumun dengan masyarakat, sehingga tepatnya saya hanya melintas bersepeda. Tidak ada interaksi berlebih seperti saat di Indonesia Timur," sambung dia. (tribun network/genik)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved