Ekspedisi Tunggal Jelajah Nusantara: Kulit Hitam Rambut Makin Gondrong
Muhammad Maahir Abdullah (25) menceritakan, berbagai kegiatan telah dilakukan selama Ekspedisi Tunggal Jelajah Nusantara
POS-KUPANG.COM - Muhammad Maahir Abdullah (25) menceritakan, berbagai kegiatan telah dilakukan selama Ekspedisi Tunggal Jelajah Nusantara.
Mendaki tujuh puncak gunung tertinggi di Indonesia, diving di berbagai pantai, membuat taman baca dan perpustakaan, serta silaturahmi ke organisasi-organisasi atau komunitas-komunitas di berbagai wilayah Tanah Air.
Maahir mengatakan, bersepeda sekaligus pararel pantang pulang rumah sampai perjalanan berakhir belum pernah dilakukan oleh siapapun. "Ini untuk yang pertama," ucap Maahir singkat kepada Tribun, Selasa (10/11/2020).
Baca juga: HKN, Bupati Ende Kampanye Makan Buah, dr. Muna Fatma Beberkan Progres Pembangunan Kesehatan
Maahir menceritakan, dua tahun perjalanan menjelajah Indonesia menggunakan sepeda ia tulis dalam sebuah catatan pribadi. Catatan pribadi itu nantinya akan dijadikan buku yang diharapkan bisa menjadi kajian literatur untuk mereka yang mau menjelajah seperti dirinya.
Sebenarnya output dari Ekspedisi Tunggal Jelajah Nusantara ini adalah sebuah buku perjalanan. Sementara ini Maahir menyebut catatan pribadi perjalanannya sebagai Ekspentara, kependekan dari Ekspedisi Penjelajahan Nusantara.
Baca juga: Oktavianus Landi: Terima Kasih Radio Max FM Waingapu
"Sehingga ketika ada pesepeda lain datang ke Indonesia, mereka tahu literatur-nya. Ini nanti menjadi panduan. Kalau mereka suka gunung, misal bule datang ke Indonesia mau tour bersepeda," katanya.
Maahir menceritakan, perubahan fisik secara signifikan ia alami selama dua tahun Ekspedisi Tunggal Jelajah Nusantara. Mulai dari warna kulit yang menghitam, hingga rambut yang menjadi gondrong lantaran tidak pernah dipangkas.
"Kedua rambut, saya tidak mencukur rambut saya selama dua tahun perjalanan. Dari pertama berangkat itu rambut pendek, biasa normal. Tidak panjang, tidak pendek-pendek banget. Setelah dua perjalanan jadi gini (gondrong)," kata Maahir.
Berat badan Maahir juga naik turun selama perjalanan. Bila kondisi fisiknya lagi drop, tidak punya uang untuk makan, maka berat badannya akan turun drastis.
Maahir mengungkapkan, selama perjalanan dirinya juga kekurangan asupan protein. Kebanyakan Maahir hanya makan nasi telur atau bahkan nasi sama kuah sayur plus kerupuk, atau setidaknya bisa makan.
"Saya kekurangan protein, maka karena jarang mendapatkan protein gampang lemes, berat badan juga menyusut, apalagi kalau lagi drop, berat badan menyusut," kata Maahir.
Walau berat badan naik turun terus, Maahir punya satu prinsip. Berat badannya tidak boleh kurang dari 50 kilogram. "Tapi saya punya SOP bahwa saya tidak boleh turun dari 50 kg," ujar Maahir.
Namun demikian, berat badan Maahir pernah 40 kg. Saat itu dirinya terkena penyakit Malaria. Pengalaman itu dialami Mahiir saat berada di Nusa Tenggara Timur dan Papua.
"Saya ada kambuhan, sekarang misal saya capek atau lelah, saya tidak bisa jaga fisik saya drop. Kalau saya drop bisa bangkit lagi malaria saya," kata Maahir.
Lama di Papua
Maahir mengungkapkan, untuk memenuhi kebutuhan hidup selama Ekspedisi Tunggal Jelajah Nusantara dirinya sempat bekerja. Kebutuhan hidup di Indonesia bagian barat dan timur jauh beda.
"Untuk memenuhi kebutuhan pokok saya kerja, jual merchandise dari teman-teman, hasilnya buat biaya hidup saya. Kalau saya bisa jual satu kaos, saya bisa hidup satu hari buat makan," katanya.
Selama melintasi 34 provinsi, Maahir paling lama berada di Papua. Maahir menceritakan, dirinya bertahan di Papua selama sembilan bulan.Di Papua, Mahiir membuat sebuah taman baca dan perpustakaan kecil.
"Jadi saya lama di situ. Itu nama kegiatannya saya giat literasi, saya menjelajah, saya buat taman baca. Itu salah satu bagian dari misi perjalanan ini," kata Maahir.
Usai menuntaskan Ekspedisi Tunggal Jelajah Nusantara, Maahir mengaku ingin disebut sebagai seorang penjelajah. Maahir mengklaim, selama dua tahun perjalanan, dirinya sendiri melakukan penjelajahan, bukan sekadar keliling Indonesia.
Dia mencontohkan, dalam banyak buku sejarah, Marcopolo dan Cristopher Columbus ditulis penjelajah, bukannya petualang. Alasannya tak lain karena keduanya melakukan perjalanan sekaligus melakukan ekspedisi di berbagai wilayah yang dikunjungi.
"Walaupun dia pakai kapal disebutnya penjelajah, karena mereka juga melakukan ekspedisi di tiap tempat yang dikunjungi. Berarti saya tidak bisa disebut pesepeda dong, disebutnya penjelajah," ucap Maahir.
Maahir mengatakan, selama ekspedisi tunggalnya, dia menggunakan sepeda merk Federal. Sepeda Federal merupakan sepeda produksi dalam negeri.Namun pabrik yang memproduksi sepeda Federal sendiri telah tutup pada tahun 1998.
"Ini sepeda legend, yang dulu sebuah kebanggaan bisa memiliki karena ini sepeda yang paling mahal. Ibaratnya barang mahal kala itu, barang yang susah dicari, dan harganya cukup mahal, itu produk dalam negeri," kata Maahir.
"Jadi saya bangga menggunakan produk itu untuk keliling Indonesia, dan saya bangga dengan komunitasnya yang solid," pungkas dia. (tribun network/genik)