Salam Pos Kupang
Tingkatkan Rasio Elektrifikasi
Provinsi NTT yang merupakan daerah kepulauan dengan topografi berbukit-bukit menjadi tantangan tersendiri dalam proses pembangunan
POS-KUPANG.COM - Provinsi NTT yang merupakan daerah kepulauan dengan topografi berbukit-bukit menjadi tantangan tersendiri dalam proses pembangunan dalam bidang apapun. Begitu juga dengan pembangunan kelistrikan di daerah ini juga tidak berjalan mulus.
Para pekerja harus menghadapi beratnya medan untuk pemacangan tiang-tiang distribusi listrik baik di bibir jurang, lereng gunung hingga menerobos hutan. Kondisi inilah yang menyebabkan masih ada masyarakat yang belum menikmati jasa PT. PLN dalam menyediakan listrik bagi masyakat.
Namun patut kita mengapresiasi PLN yang tidak tinggal diam tetapi terus bekerja memberikan harapan kepada warga. Di NTT saat ini terdapat 3.353 desa dan kelurahan dan sebagian besar sudah menikmati listrik dari PLN. Meski demikian masih ada sekitar 433 desa yang belum teraliri listrik.
Baca juga: Menghidupkan Lagi Semangat Sumpah Pemuda
Walau demikian, rasio elektrifikasi NTT saat ini sudah mencapai 74 persen. Pertumbuhan rasio elektrifikasi juga karena adanya sumber energi baru terbarukan atau EBT.
Kita berharap NTT menjadi provinsi dengan 100 persen desa teraliri listrik, tidak harus dari pemangkit listrik bertenaga diesel tapi juga memanfaatkan sumber energi terbarukan. PLN juga terus berupaya mengembangkan sumber listrik yang tidak menggunakan bahan bakar fosil.
Baca juga: Antrean Panjang di SPBU Kambaniru Sumba Timur Akibat Kelangkaan Bensin
Dalam situs resmi PLN juga disebut bahwa lembaga itu berhasil melakukan uji coba Program Co-Firing di PLTU Ropa Flores dan di PLTU Bolok Kupang. Uji coba co-firing PLTU menjadi wujud komitmen PLN untuk meningkatkan penggunaan energi baru terbarukan dalam penyediaan listrik.
Executive Vice President Corporate Communication and CSR PLN, Agung Murdifi menjelaskan program Co-Firing merupakan bagian dari semangat pilar "green" dalam transformasi PLN. Co-Firing merupakan sebuah teknologi substitusi batubara dengan energi terbarukan pada rasio tertentu yang tetap memperhatikan kualitas bahan bakar sesuai spesifikasi teknis.
Dalam program Co-Firing di PLTU Ropa, PLN mengganti bahan bakar berupa batubara dengan 10 persen biomass yang diperoleh dari TOSS (Tempat Olahan Sampah Setempat). Sementara untuk PLTU Bolok, menggunakan 5 persen biomass yang berasal dari Woodchips (cacahan kayu).
Kita sebagai masyarakat tetap mendukung apapun yang dilakukan PLN dalam meningkatkan pelayanan. Dengan semakin banyaknya cadangan sumber energy PLN maka semakin menekan keluhan masyarakat mengenai pelayanan PLN
Artinya masyarakat tidak perlu kuatir lagi bila listrik pada sampai berjam-jam karena selama listrik tidak jalan maka aktivitas yang bernuansa produktif juga tidak berjalan.
Jadi masyarakat juga bisa memanfaatkan energy listrik PLN untuk aktivitas produksi, sehingga listrik yang sampai ke rumah tidak sekedar jadi sumber cahaya dan keperluan lain tetapi juga bisa melakukan hal produktif yang menghasilkan pendapatan. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/perihal-status-honorer-lolos-pppk.jpg)