Breaking News:

Berita Kupang Hari Ini

Ada Warga Kota Meninggal Karena DBD, Lurah Langsung Diberhentikan

Saat ini Pemerintah Kota Kupang tengah serius mengatasi masalah demam berdarah dengue ( DBD)

POS-KUPANG.COM/Yeni Rachmawati
Wali Kota Kupang, Jefri Riwu Kore didampingi Plt Asisten I Setda Kota Kupang, Yanuar Dally dan Plt Asisten III, Thomas Dagang, ketika menggelar Jumpa Pers di Ruang Garuda Kantor Wali Kota Kupang, Selasa (27/10/2020). 

POS-KUPANG.COM | KUPANG -- Saat ini Pemerintah Kota Kupang tengah serius mengatasi masalah demam berdarah dengue ( DBD). Karena dengan adanya 8 orang yang meninggal tahun lalu sangat memalukan Kota Kupang. Hal ini disebabkan lingkungan yang tidak bersih, sehingga perlu penanganan khusus.

"Untuk itu ditegaskan pada aparat khusus di kota kupang, ada kebijakan-kebijakan seperti penyediaan abate yang harus cepat dan tepat dibagikan ke kelurahan. Sehingga pada pergantian musim persiapan pembagian abate selesai," kata Wali Kota Kupang, Jefri Riwu Kore, ketika menggela Jumpa Pers di Ruang Garuda Kantor Wali Kota Kupang, Selasa (27/10/2020).

Baca juga: Pertahankan Keaslian Taman Nasional Komodo

Kata Jefri, selain itu harus ada keterlibatan aktif dari RT/RW dan lurah dalam mengatasi permasalahan demam berdarah di wilayah masing-masing. Jika ada warga dari lurah tersebut meninggal karena DBD maka lurah akan diberhentikan. Sedangkan konsekuensi untuk RT dan RW tidak mendapatkan insentif.

Selain itu juga Dinas Kesehatan harus mendesain kemudian mencetak selebaran-selebaran untuk dibagikan ke kelurahan yang selanjutnya didistribusikan oleh RT dan RW ke warganya dalam mengantisipasi penyakit demam berdarah. Jadi untuk demam berdarah semuanya harus bertanggung jawab termaksud lurah.

Baca juga: 12 Warga Ngegedhawe Ikut Pelatihan Relawan Pencatat Kelahiran Anak

Kepala Dinas Kesehatan Kota Kupang, Retnowati menyampaikan data kasus DBD 780-an dengan 8 orang meninggal. Karena kasus tinggi maka kematiannya rendah.

Dinas Kesehatan sudah melakukan pembagian abate di Puskesmas sejak September sebelum masa penularan.

Ia menjelaskan penanganan keberhasilan demam berdarah nomor satu basisnya lingkungan. Jadi melakukan 3M, Mengubur, Menutup dan Menanam plus abatesasi.

Pemberian abatesasi dilakukan sebelum masa penularan, diharapkan tampungan-tampungan air dalam jangka panjang tidak menjadi perindukan nyamuk. Bila ada jentik maka tidak akan menetas karena ada abate.

Kemudian kata Retno, penanganan secara fokus apabila sudah ditemukan kasus positif demam berdarah, maka akan dilakukan pengamatan epidomologi pada radius 200 meter dari rumah yang terjangkit.

"Setelah dinyatakan betul rumah tersebut berjentik maka orang yang positif dbd bersumber dari rumah. Bila memang terjadi maka akan dilakukan foging fokus dilakukan keliling rumah 200 meter dari rumah terjangkit," tuturnya.

Lanjutnya, terkait mesin foging tidak bisa dibagi ke kelurahan. Karena ini berhubungan mengejar nyamuk, oleh karena itu radius 200 meter dikepung satu tim dengan 6 mesin foging untuk menangani satu wilayah.

Ia berharap setiap rumah punya Juru peMantau Jentik (Jumantik) untuk memantau lingkungan sendiri. (Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Yeni Rachmawati)

Penulis: Yeni Rachmawati
Editor: Kanis Jehola
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved