Berita Mbay Hari Ini
Harga Cengkeh Anjlok, Petani: Kami Pasrah
Harum cengkeh yang begitu merebak rupanya tidak sebanding dengan harganya. Harga yang sangat murah membuat para petani pasrah
Penulis: Gordi Donofan | Editor: Kanis Jehola
POS-KUPANG.COM | MBAY -- Harum cengkeh yang begitu merebak rupanya tidak sebanding dengan harganya. Harga yang sangat murah membuat para petani pasrah. Hal itu dirasakan oleh sejumlah petani cengkeh di Kotaodo Desa Pautola Kecamatan Keo Tengah Kabupaten Nagekeo.
Menurut petani, harga Cengkeh sangat tidak wajar. Pasalnya susahnya merawat hingga panen tidak seimbang dengan harga. Keadaan ini membuat petani tidak semangat dan kadang terpaksa harus jual dengan penuh keterpaksaan karena membutuhkan uang.
Apalagi biaya operasionalnya sangat tinggi dan membutuhkan tenaga banyak.
Baca juga: Ngobrol Asyik Pos Kupang, Linus Akui Masyarakat Patuh Protokol Kesehatan
Petani Cengkeh Pautola, Antonius Tay (58) mengatakan harga Cengkeh anjlok hingga 40.000 rupiah per kilo gram. Hal itu sangat merugikan petani. Pasalnya biaya operasionalnya sangat tinggi.
"Harga cengkeh sekarang 50.000 rupiah per kilo gram. Papa lele yang besar itu di Bajawa dan Ende. Kadang sampai 40.000 rupiah. Sangat murah, tidak sesuai dengan harapan kami petani," ujar Antonius saat dijumpai POS-KUPANG.COM di Kotaodo Desa Pautola, Minggu (25/10/2020).
Baca juga: DPRD TTU Minta Pemda Segera Bayarkan Gaji 1.712 Guru Kontrak
Ia menerangkan biaya operasional petik cengkeh sangat tinggi. Upah pekerja harus dibayar 60.000 rupiah hingga 70.000 rupiah per hari dan makan minum ditanggung pemilik cengkeh.
Ia mengaku petani harus bersaing mendapatkan pekerja sehingga bisa memetik cengkeh milik mereka. Bersaing itu berupa harga yang ditawarkan kepada pekerja untuk memetik cengkeh.
Jika ingin pekerja memetik cengkeh maka pemilik cengkeh harus membayar lebih dari pemilik kebun cengkeh lainnya sehingga pekerja lebih memilih bayaran yang paling tinggi.
"Kalau kami tidak baku saing bayar tenaga kerja maka tidak panen. Kami hanya mau selamatkan hasil cengkeh saja. Kami baku saing rebut tenaga kerja harga satu hari dibayar 60.000 rupiah hingga 70.000 rupiah," ujarnya.
Ia menyebutkan tahun 2019 lalu harga cukup memuaskan dan wajar kalau pekerja pemetik cengkeh dibayar 70.000 rupiah.
"Tahun lalu sampai 80.000 rupiah. Bayar upahnya mereka terpaksa harus 70.000 rupiah. Terpaksa mau bantu mereka juga," ujarnya.
Ia menyebutkan harga cengkeh beberapa hari terakhir ini hingga 40.000 rupiah saja. Ada yang terpaksa jual dan ada yang terpaksa simpan saja dirumah. Sambil menunggu harga yang normal.
"Harganya pernah 40.000 rupiah. Hasilnya kalau sudah dibawa ke Pasar Maunori ya kita jual sudah. Kita juta butuh makan," ujarnya.
Ia mengaku sangat resah dengan harga cengkeh yang tidak sesuai harapan petani. Karena memang sudah sangat tidak wajar.
"Resah dengan harga anjlok orang tebang cengkeh. Petik Cengkeh juga ini nyawa. Jual mati ni, kita resah juga. Anak tangga ini sampai 30 an ini kita mau mati saja. Harga tidak sesuai dengan kerja keras kita," ujarnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/harga-cengkeh-anjlok-petani-kami-pasrah.jpg)