Berita SoE Hari Ini
Glamour Camping INTI NTT Explore: Menikmati Alam Sambil Belajar Sejarah
MATAHARI hendak pulang ke peraduannya ketika natoni dilantunkan para tetua adat di pintu masuk gunung batu marmer Fatunausus, Desa Fatukoto
POS-KUPANG.COM - MATAHARI hendak pulang ke peraduannya ketika natoni dilantunkan para tetua adat di pintu masuk gunung batu marmer Fatunausus, Desa Fatukoto, Kecamatan Mollo Utara, Kabupaten Timor Tengah Selatan ( TTS), Sabtu (17/10/2020).
Ritual adat itu dilaksanakan untuk menyambut 32 peserta Glamour Camping (Glamping) INTI NTT Explore. Glamping merupakan paket wisata yang diselenggarakan perhimpunan Indonesia Tionghoa ( INTI) Provinsi NTT. Peserta menyimak dengan seksama, sesekali bertanya makna tuturan adat.
Setelah natoni, dilanjutkan dengan pengalungan selendang kepada Ketua INTI Provinsi NTT, Theo Widodo dan Ketua Tim INTI NTT Explore, Mans Betekeneng. Kemudian rombongan peserta beranjak masuk ke lokasi camping.
Baca juga: Awkarin: Kerap Diberitakan
Sebelum ke Fatunausus, peserta berkunjung ke Bikekneno untuk menikmati hamparan padang yang indah. Fatunausus berjarak 28 km dari Kota SoE ke arah utara. Sedangkan dari Kota Kupang sekitar 138 km.
Glamping di atas ketinggian 1.500 mdpl itu bukanlah camping biasa. Sepuluh tenda kerucut nan mewah disediakan bagi para peserta lengkap bersama kasur angin berukuran 25 cm, bantal, seprei, sendal, peralatan mandi, bahkan bilik mandi dengan shower.
Baca juga: Warga Desa Lamaksenulu Belu Krisis Air Bersih
"Kita bebas berwisata di alam terbuka dengan fasilitas mewah. Fasilitasnya, ya seperti hotel berbintang. Ini bukan camping biasa. Tendanya itu kerucut eksklusif, lengkap dengan flooring dan karpet," ujar Theo Widodo.
Flooring adalah gabungan kayu dan papan yang ditutupi karpet. Flooring biasanya dipakai di bawah tenda sebagai alas agar permukaan yang bergelombang menjadi rata.
Pada hari pertama, peserta glamping menikmati hidangan pangan lokal yang disiapkan masyarakat. Ada tari-tarian yang dipersembahkan warga untuk menghibur peserta glamping pada malam hari, yaitu tarian gong dan tarian biola.
Peserta glamping juga kebagian cerita tentang bagaimana masyarakat berusaha mempertahankan tanahnya itu dari investor yang hendak menjarah batu marmer.
Pejuang lingkungan dari Mollo, Aleta Baun mengatakan bahwa lokasi tersebut dulunya merupakan tempat penambangan batu marmer.
Gunung Fatunausus dan Gunung Mollo sendiri merupakan hulu dari sungai batu putih, tapi menjadi kering karena adanya kegiatan penambangan.
Aleta bersama masyarakat berjuang sejak tahun 1995 hingga 2001 agar tak ada lagi aktivitas penambangan di wilayah tersebut. Mereka menahan dingin malam dengan tidur di hutan. Mereka mendesak Pemda TTS agar menghentikan penambangan marmer karena batu memiliki hubungan yang erat dengan masyarakat Timor, terkhususnya atoin meto.
"Orang Timor memiliki nama marga yang diambil dari batu, air, dan kayu yang disebut fautkanaf, oekanaf, dan haukanaf," katanya.
Aleta menuturkan, nama ketiga gunung batu yang berada di wilayah Fatunausus berbeda-beda, yakni batu nausus, anjaf, dan nanjaf. Nausus sendiri artinya menyusui; menyusui seluruh batu yang ada di Pulau Timor, khususnya di wilayah TTS.
"Batu nausus ini tidak dimiliki oleh satu marga adat saja, tapi dimiliki oleh semua orang Mollo, bahkan oleh masyarakat TTS, yakni Mollo, Amanatun, dan Amanuban. Mengapa? Karena batu ini beri sumber air kepada mereka yang tinggal di hilir," jelas Aleta.
Mantan anggota DPRD NTT ini menjelaskan bahwa ada beberapa tempat sakral yang tidak bisa dikunjungi karena harus melakukan upacara adat besar terlebih dahulu. Di sekitar tempat glamping, ada rumah panjang yang dulunya dibangun oleh perusahaan tambang.