Ibu di Ende Bunuh Bayi Kandung, Vinsen Sangu Soroti Kesejahteraan Ekonomi dan Psikologis, Info

Selain perhatian soal ekonomi, kata Vinsen, psikologi istri atau ibu juga perlu mendapat perhatian serius.

Penulis: Laus Markus Goti | Editor: Rosalina Woso
POS-KUPANG.COM/ Romualdus pius
vinsen sangu 

Ibu di Ende Bunuh Bayi Kandung, Vinsen Sangu Soroti Kesejahteraan Ekonomi dan Psikologis

POS-KUPANG.COM | ENDE -- Ketua Komisi III DPRD Kabupaten Ende Vinsen Sangu prihatin dengan kejadiaan ibu muda di Rukun Lima Ende menggorok leher bayi kandung yang baru berusia tiga bulan hingga tewas.

"Ini adalah berita duka yang mendalam, prihatin dan memilukkan," kata Vinsen saat diwawancarai POS-KUPANG.COM, Minggu (18/10/2020).

Vinsen katakan, kasus tersebut menjadi catatan bagi pemerintah untuk memberi perhatian serius kepada ekonomi keluarga.

Sebagiannya diketahui, berdasarkan keterangan yang diambil oleh Polres Ende dari pelaku, motif pembunuhan terhadap tersebut yakni motif ekonomi.

Pelaku kesal terhadap suami yang lebih sering bermain game dan kartu daripada bekerja (ojek).

Selain itu, pelaku merasa tertekan karena mendapat perlakuan kurang baik dari pihak keluarga.

Pelaku dan suami beserta anak dalam tiga bulan terakhir ini tinggal di rumah mertua di Rukun Lima Ende. Sebelummya mereka tinggal di kos-kossan.

Menurut Vinsen, kesejahteraan masyarakat harus sampai menyentuh soal ekonomi dan kesejahteraan keluarga.

"Apalah arti mimpi kita soal kesejahteraan rakyat sementara ekonomi keluarga tidak diperhatikan acara baik," ungkapnya.

Selain perhatian soal ekonomi, kata Vinsen, psikologi istri atau ibu juga perlu mendapat perhatian serius.

"Saya tentu tidak menyalahkan si istri atau ibu (pelaku), secara pidana memang dia harus bertanggungjawab," ungkap Vinsen.

Vinsen katakan, apa yang dilakukan si Ibu (pelaku) tentu dilatarbelakangin problem psikologis. "Saya belum begitu mendalami tapi aspek psikologis ibu perlu diperhatikan secara serius," ungkapnya.

Menurutnya, perlu kehadiran pemerintah dan lembaga lainnya untuk bisa mengidentifikasi dan mengenali kelompok ibu-ibu yang rentan secara psikologis.

Vinsen juga tegaskan proses hukum terhadap pelaku mesti berjalan baik, sehingga bisa jadi peringatan dan teguran keras kepada publik atau bagi ibu-ibu lain atau keluarga-keluarga.

Halaman
12
Sumber: Pos Kupang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved