Salam Pos Kupang
Nasib Atletik NTT
Serasa sudah agak lama prestasi cabang olahraga atletik di NTT tak lagi berbicara di tingkat nasional bahkan Internasional
POS-KUPANG.COM - Serasa sudah agak lama prestasi cabang olahraga atletik di NTT tak lagi berbicara di tingkat nasional bahkan Internasional.
Cabang olahraga ini seakan tenggelam, padahal di tahun 1980-an atletik menjadi salah satu primadona dan membuat NTT demikian terkenal di Tanah Air.
Kala itu, NTT menjadi bahan pergunjingan di dunia olahraga. Sebab nama sejumlah atlet asal daerah ini, masuk dalam daftar atlet berprestasi baik di dalam negeri, di tingkat asia tenggara maupun dunia internasional.
Baca juga: Cek Harga Bahan Bangunan yang Capai 3 M, Raffi Ahmad Mengeluh Soal Uang, Kekayaan Berkurang?
Tersebutlah nama Eduardus Nabunome, pria asal Kabupaten Timor Tengah Selatan ( TTS) yang merajai lari marathon 10 K.
Ada pula nama Tersiana Riwu Rohi, atlet wanita berdarah Sabu Raijua yang juga selalu diperhitungkan setiap ada pertandingan cabang olahraga atletik.
Baca juga: Kenalkan! Ini Sosok Dukun Covid-19, Ngaku Bisa Sembuhkan Corona Hingga Lecehkan Banyak Pasien
Dari dua sosok atlet NTT yang berprestasi ini, nama Eduardus Nabunome memang lebih dahulu dikenal. Namanya lebih sering disebut, karena selalu menorehkan prestasi dimana pun cabang olahraga tersebut dipertandingkan.
Apalagi ketika Lomba Lari 10 K digelar di Bali tahun 1989 silam, Nabunome tak hanya menjadi jawara, tetapi juga memecahkan rekor sebagai manusia tercepat di Indonesia dalam cabang lari marathon.
Ketika itu, sekitar 31 tahun yang lalu, Eduardus Nabunome berhasil mencatatkan waktu 25 menit 10 detik dalam menyelesaikan lomba lari tersebut.
Dan, sampai saat ini rekor sebagai atlet tercepat dalam lari marathon itu, belum bisa dipecahkan lagi oleh para atlet lainnya.
Untuk prestasi yang prestisius ini, kita pantas memberikan apresiasi. Pasalnya, dalam pelbagai keterbatasan bahkan dalam kondisi yang kurang-kurang, Eduardus Nabunome mampu mempersembahkan yang terbaik. Bahkan dari persembahannya itulah nama NTT selalu disebut-sebut.
Namun seiring bergulirnya waktu, potensi NTT di cabang olahraga ini sepertinya perlahan meredup. Anak-anak NTT tak lagi unjuk kebolehannya di bidang atletik. Padahal saban hari kita mungkib kerap menyaksikan betapa mereka selalu berlatih dan bertanding.
Untuk hal semacam ini, memang kita tak bisa menyalahkan siapa-siapa. Karena yang terjadi di era sekarang, adalah atlet yang lain di daerah lain, berlatih lebih keras daripada latihan yang dilakukan oleh anak-anak kita.
Hanya saja yang kita harapkan, adalah nasib dan masa depan atletik di NTT, tak boleh berakhir dengan kepergian Eduardus Nabunome yang telah dipanggil Sang Ilahi.
Masa depan atletik di daerah harus terus digelorakan, agar selamanya NTT tetap menjadi gudang atlet berprestasi di Indonesia.
Untuk spirit yang demikian, memang dibutuhkan komitmen yang kuat. Dibutuhkan pula dukungan yang maksimal dari semua komponen.
Kalau ini diperlihatkan secara nyata, maka ke depan, kita tentu akan mampu mengorbitkan lagi atlet-atlet yang berkualitas seperti halnya yang ditunjukkan Eduardus Nabunome selama menjadi atlet.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/perihal-status-honorer-lolos-pppk.jpg)