Berita SoE Hari Ini
Warga Besipae Protes Pegawai Pemprov NTT
Warga Pubabu Besipae, Kecamatan Amanuban Selatan, Kabupaten Timor Tengah Selatan ( TTS) kembali menolak kehadiran pegawai Pemprov NTT
POS-KUPANG.COM | SOE -Warga Pubabu Besipae, Kecamatan Amanuban Selatan, Kabupaten Timor Tengah Selatan ( TTS) kembali menolak kehadiran pegawai Pemprov NTT, Rabu (14/10). Kisruh pun terjadi.
Warga dan anggota Satuan Polisi Pamong Praja ( Satpol PP) serta aparatur sipil negara (ASN) Badan Pendapatan dan Aset Provinsi NTT saling dorong.
Peristiwa ini bermula dari kedatangan pegawai Pemprov NTT beserta anggota TNI dari Korem 161 Wira Sakti Kupang. Kehadiran rombongan hendak melihat lokasi TJPS Besipae.
Baca juga: Ini Yang Dilakukan Babinsa Alok Saat Pembagian BLT DD di Kolisia A
Kaum ibu dan anak-anak langsung menuju mess Besipae, bermaksud mempertanyakan tujuan kedatangan rombongan Pemprov NTT. Warga menduga, kedatangan pegawai Pemprov NTT bermaksud membangun SPBU, restoran dan melanjutkan aktivitas penanaman lamtoro dan kelor.
Warga Pubabu menolak kehadiran pegawai Pemprov NTT. Sesuai rekomendasi Komnas HAM, aktivitas Pemprov NTT di Besipae harus dihentikan sampai masalah lahan Besipae diselesaikan.
Saat sedang protes, pegawai Badan Pendapatan dan Aset Provinsi NTT, Dara Puspita Sari memotret aksi warga dengan menggunakan kamera. Warga menaruh curah sehingga mencoba menghentikan Dara yang terus mengambil gambar. Terjadi aksi saling dorong dan pukul.
Baca juga: Paket SBS-WT Minta Penyelenggara Untuk Netral Mengawal Pilkada Malaka
Beberapa pria yang menggunakan pakaian sipil terlihat mendorong warga bahkan sampai membanting warga Pubabu.
Tak terima dengan perlakuan tersebut warga Pubabu coba membalas dengan melempari petugas dengan tanah dan batu. Suasana berubah mencekam. Kisruh tersebut hanya berlangsung sebentar, karena petugas Satpol PP berhasil meredahkan suasana dan warga Pubabu kembali ke rumah darurat yang mereka bangun di dalam hutan Pubabu.
"Harus selesaikan dulu masalah lahan Besipae dan lakukan pengukuran lahan ulang seperti rekomendasi Komnas HAM baru ada aktivitas di atas lahan Besipae," ujar Daud Selan dan Niko Manao, perwakilan warga Pubabu.
Menurut keduanya, akibat kisruh tersebut, beberapa warga Pubabu terluka. "Kita masih koordinasi dengan kuasa hukum kami. Apakah mau lapor dugaan penganiyaan warga Pubabu ke Polres, Polsek atau Polda NTT," ujarnya.
Terpisah, Plt Kepala Badan Pendapatan dan Aset Propinsi NTT, Welly Rohimone membantah keras informasi yang beredar di media sosial jika Pemprov NTT membawa preman ke Besipae.
Menurutnya, kedatangan rombongan Pemprov NTT dihalangi warga Pubabu. Menurut Welly, warga terus memprovokasi rombongan pemprov dengan makian dan teriak penolakan.
Pada siang hari, ketika mobil peternakan hendak mengisi air di tarpal yang difungsikan sebagai tempat menampung air justru dihalangi warga. Aksi tarik menarik selang tak terhindar.
Aksi tersebut lalu dipotret oleh salah seorang ASN Badan Pendapatan dan Aset Propinsi NTT, Dara. Aksi Dara justru membuat warga menaruh curiga kepadanya. Sehingga Dara menjadi sasaran amukan warga Pubabu.
"Staf saya, Dara ini dipukuli dan ditarik-tarik oleh warga Pubabu hingga jilbabnya lepas. Melihat hal tersebut petugas Satpol PP mencoba melerai warga. Namun justru petugas kami menjadi sasaran amukan warga. Karena dipukul dan dilempar, ada beberapa pegawai kita yang marah sehingga terjadi aksi dorong," terang Welly.
Ia menjelaskan, Dara mengalami memar pada bagian kepala. Pihaknya langsung melaporkan dugaan penganiyaan tersebut kepada Polsek Amanuban Selatan guna diproses hukum. (din)