Kamis, 16 April 2026

Renungan Harian Katolik

Menjadi Tamu Istimewa Allah

Hati manusia yang peka dapat merasakan kehadiran Allah, selanjutnya tergerak untuk mendengarkan dan memenuhi undangan-Nya.

Editor: Agustinus Sape
Dok Maxi Un Bria
RD Maxi Un Bria dengan latar belakang menara Pizza Italia. 

Renungan Harian Katolik, Minggu 11 Oktober 2020

Menjadi Tamu Istimewa Allah

Oleh: RD. Maxi Un Bria

Selamat Hari Minggu bagimu semua. Salve.

POS-KUPANG.COM - Blaise Pascal dalam Robert Backhouse (1994 ; 141) berkata, “Hati dan imanlah yang merasakan kehadiran Allah, bukan rasio ”. Hati manusia yang peka dapat merasakan kehadiran Allah, selanjutnya tergerak untuk mendengarkan dan memenuhi undangan-Nya.

Dalam praktek hidup sosial kemasyarakatan, ada kesadaran umum bahwa semua hajatan yang melibatkan banyak orang mesti direncanakan dan dipersiapkan dengan baik. Perencanaan hajatan berkaitan dengan berapa banyak orang yang akan diundang, anggaran, waktu, lokasi, berikut panitia yang akan dilibatkan.

Singkatnya setiap tuan pesta yang ingin menggelar sebuah hajatan, akan mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan demi kelancaran dan kesuksesan acara tersebut. Dari hati yang terdalam tuan pesta sesungguhnya berharap semoga para undangan yang diundang, akan hadir memenuhi undangan dan ikut memeriahkan serta menyukseskan acara dimaksud.

Salah satu kebiasaan universal yang sudah sejak lama dihidupi masyarakat yakni setiap undangan akan mengenakan pakaian maupun gaun yang rapi dan sopan dalam menghadiri acara tersebut. Dengan demikian tentu saja akan menjadi perhatian khalayak yang hadir bila di antara para undangan ada tamu yang tidak mengindahkan etika dan sopan santun dalam berpesta.

Perikope Injil Matius 22: 1-10, menghadirkan narasi yang indah tentang Perjamuan sukacita pada pesta nikah yang diselenggarakan Allah bagi umat manusia. Allah melalui putera-Nya dan para utusan mendistribusikan undangan kepada umat manusia sebagai tamu istimewa untuk menghadiri perjamuan sukacita itu.

Demikian kata Tuan Pesta, “Katakanlah kepada para undangan; Hidangan sudah Kusediakan, lembu-lembu jantan dan ternakku telah disembelih. Semuanya telah tersedia. Datanglah ke perjamuan nikah ini!” ( Matius 22 :4 ).

Namun reaksi dunia terhadap undangan Allah berbeda-beda. Mereka menolak undangan Allah dengan dalih dan beragam alasan. Mereka tidak mau datang. Ada yang pergi ke ladangnya. Ada yang pergi mengurus urusannya. Bahkan ada yang menangkap para utusan pembawa undangan, memukul dan membunuh mereka.

Tuan pesta tentu saja marah dan akan mengambil langkah tertentu untuk menyikapi para penjahat yang berlaku semana-mena dan tidak pantas terhadap para utusan.

Di atas semuanya itu, pejamuan sukacita yang diselenggarakan Allah tetap berlangsung. Sehingga setiap undangan yang telah mempersiapkan diri dan layak untuk menghadiri pesta tersebut, akan ikut mengambil bagian dalam sukacita yang abadi.

Sementara yang tidak mempersiapkan diri atau bahkan mencoba menghadiri perjamuan tanpa kebersihan hati dan pakaian pesta akan dihalau keluar dari arena pesta oleh para petugas.

Refleksi tentang perjamuan sukacita yang diselenggarakan Allah sesungguhnya ditujukan bagi segenap umat manusia. Hanya mereka yang terbuka hati dan peka untuk merespons undangan, akan ikut serta dalam kebahagiaan dan sukacita Ilahi. Sementara yang tertutup hatinya terhadap undangan Allah dan hanya sibuk dengan urusannya sendiri, akan kehilangan damai sejahtera dan rahmat yang dibutuhkan baik untuk hidup di dunia pada masa kini maupun kelak.

Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved