Boncukode dan Mgr. Siprianus Hormat

Boncukode dan MGR.Siprianus Hormat, simak penjelasannya baik-baik ya teman-teman

Editor: maria anitoda
ISTIMEWA
Boncukode dan MGR.Siprianus Hormat 

Boncukode dan Mgr. Siprianus Hormat 

Oleh: Wilfrid Babun SVD

INI satu kampung tua. Lalu menjadi ‘news’ karena dua hal. Pertama, Mingguan menulisnya dengan sangat indah . “Rumput dan tumbuhan liar nyaris membungkus seluruh tanah di kampung Boncukode.. berada di lereng bukit dan diapit jurang nan terjal.”(Hidup, edisi 09 Tahun ke 74, 1/03/2020). Satu pelukisan yang elok.

Ada ilustrasi lanjutan tentang ‘Boncukode”. “Konon, nama kampung itu dari dua kata, boncu yang berarti lompat dan kode artinya monyet. Secara harafiah, boncukode itu berarti tempat kera-kera. Orang-orang dulu di sana tentu tak sembarang memberi nama kampung tersebut”.

Ada kisah mengapa namanya begitu asyik dibanggakan orang  Manggarai hari-hari ini. “Terjadilah pertemuan tak terduga antara manusia dan dunia ‘seberang sana’. Pertemuan untuk satu hal.

Para punggawa dari dunia dewa-dewi dengan rombongannya sementara bergegas mencari buruan. Mereka bertemu manusia. ‘Entahkah melihat binatang buruan yang sementara mereka kejar bersama?’ Tidak! Jawab manusia. Dialog itu mencapai puncaknya karena rombongan dari dunia seberang itu melihat, bahwa binatang buruan mereka sudah terkapar di atas bebatuan. ‘Itu yang kami kejar!’.

Dunia manusia bilang, “Silahkan ambil dan bawa!’. Ternyata babi hutan buruan rombongan dunia seberang itu adalah lawo- munggis, tikus dengan ukuran kerdil/ tikus kesturi. Rombongan manusia dunia seberang sadar bahwa mereka telah mendapat bantuan yang luar biasa. Buruan mereka, sudah dapat.

Bantuan ini harus dibalas. Maka manusia dunia seberang sana pun berjanji akan datang lagi dan memberikan hadiah...Mereka pun menghilang ke ‘dunia atas’ dengan sukacita membawa buruannya; dalam sekejap. Dan manusia tercengang sendirian memandang langit yang diselimuti awan tipis. Kemudian, manusia menunggu.

Apakah betul janji itu  terjadi? Tiba-tiba saja komunitas kawanan kera hutan, bersorak tempik teriak beramai-ramai :‘krakkk krakkkkk’ menggoyang-goyangkan dedahanan kayu hutan sambil meloncat-loncat.

Membangunkan lamuman manusia yang sementara menanti dalam senyap. Bulu badannya merinding. Seakan ada yang menyapa. Dia dibawa dalam percakapan batin: rombongan para dunia kayangan itu datang; sungguh tepati janji. Tetapi mata manusia tidak sanggup melihatnya...

Itulah sekelumit kisah Boncukode in illo tempore. Ada satu pertemuan antara dunia nyata dan dunia supernatural. Boncukode, satu locus teologicus: kisah terjadinya komunikasi antara yang duniawi dan yang supernatural.

Kedua, justru Boncukode, locus teologicus, itulah kampung sang Gembala uskup Ruteng: Mgr. Siprianus Hormat. ‘Boncukode tak seperti dulu. Kampung itu sudah lama tak berpenduduk. Mungkin lebih tepat ditinggalkan oleh para penghuninya.

Boncukode, siang itu seperti kampung mati. Yang tersisa hanya satu rumah yang berdiri kokoh, Mbaru Gendang (rumah adat) sebagai simbol dan sentral budaya serta pemersatu masyarakat setempat”.

Dalam sosiologi Manggarai, ‘mbaru gendang’ merupakan tempat sakral untuk berbagai aktivitas ritus adat. Konten dan substansinya juga sakral. Di tempat sakral ini, nama Tuhan, Mori Kraeng selalu dikumandangkan dengan sangat taksim.

Bila di Boncukode itu masih berdiri tegak rumah adat, semestinya memang begitu. Artinya roh purba kehidupan kampung itu tetap eksis, walau tanpa penghuni. Refleksi menukik dari uskup Siprianus Hormat sangat tepat :’Boncukode punya sejarah, arti dan makna..adalah rumah yang menyimpan kerinduan untuk selalu ingin pulang’.

Halaman
12
Sumber: Pos Kupang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved