Jumat, 24 April 2026

Christofel Liyanto: Christa Jaya Bonafit, Tumbuh Bersama UMKM

SEJAK berdiri tahun 2009, Bank Perkreditan Rakyat ( BPR) Christa Jaya Kupang terus bertumbuh dan berkembang

Editor: Kanis Jehola
POS-KUPANG.COM/MICHAELLA UZURASI
Komisaris Utama Bank Christa Jaya, Christofel Liyanto, S.E., bersama jurnalis Pos Kupang, Diana Ahmad dalam Ngobrol Asyik bersama Pos Kupang dengan Tema Strategi Bank Christa Bertahan Ditengah Persaingan dan Ancaman Resesi Akibat Pandemi Covid-19 

POS-KUPANG.COM - SEJAK berdiri tahun 2009, Bank Perkreditan Rakyat ( BPR) Christa Jaya Kupang terus bertumbuh dan berkembang. BPR Christa Jaya mampu bersaing dengan bank umum lainnya. Saat ini memiliki 300-an nasabah.

"Kalau dulu kita punya BPR orang anggap sebelah mata karena nggak bonafit. Karena dulu BPR modalnya cuma Rp 1 miliar. Jadi, kalau orang punya BPR itu dibilang bisnis kaleng-kaleng," ujar Komisaris Utama BPR Christa Jaya Kupang, Christofel Liyanto, SE dalam acara Ngobrol Asyik Bersama Pos Kupang, Senin (5/10/2020).

Bagaimana awal mula BPR Christa Jaya berdiri? Apa perbedaan BPR dengan bank umum lainnya? Bagaimana strategi agar tetap eksis saat pandemi Covid-19? Berikut ini petikan wawancara wartawati Pos Kupang Adiana Ahmad dengan Christofel Liyanto:

Bisa ceritakan awal mula mendirikan BPR Christa Jaya?

Sejak lima belas tahun lalu, ketika saya masih konsultan, masih kontraktor. Suatu saat bisnis saya lagi berkembang, saya mau pinjam duit. Saya masih ingat mau pinjam duit Rp 300an juta. Pada waktu itu, pinjam di bank yang mana saya sudah jadi nasabah sejak lama. Dia tahu biasanya saya simpan duit dua tiga miliar.

Posyandu Watubara di Kecamatan Lela Terbakar

Giliran saya lagi bisnis, duitnya saya pakai, saya butuh Rp 300 juta. Mau pinjam sama dia sampai enam bulan nggak bisa dapat. Saya pikir waduh susah amat ya. Padahal saya aja yang harusnya dia kasih karena saya punya jaminan kuat. Saya profesional, saya punya bisnis bagus pasti saya bayar. Saya butuh karena saya mau kembangkan usaha. Dari situ, saya pikir saya aja nggak bisa dapat, apalagi orang lain. Nah, ini peluang. Akhirnya saya buka bank sendiri, cuma memang mau buka bank itu susah sekali.

Saat itu BPR belum populer, Anda tidak khawatir?

Kalau dulu kita punya BPR orang anggap sebelah mata karena nggak bonafit. Karena dulu BPR modalnya cuma Rp 1 miliar. Jadi, kalau orang punya BPR itu dibilang bisnis kaleng-kaleng.

Tapi karena niatnya saya adalah ingin membantu teman-teman karena saya tahu bahwa saya aja butuh nggak bisa apalagi teman-teman saya. Saya aktif di Kadin (Kamar Dagang dan Industri Indonesia) di Hipmi (Himpunan Pengusaha Muda Indonesia), jadi teman-teman pengusaha kan banyak. Kita lihat waduh ini semua pada butuh modal tapi susah.

Duka di Bakunase, Keluarga dan Tetangga Mulai Melayat Jenazah Tasya

Akhirnya waktu itu sebelum izin bank saya keluar, tapi saya dengan teman-teman, saya tahu mereka butuh modal mereka pinjam ke saya. Saya kasih saja secara pribadi. Ketika izin bank keluar, teman-teman saya langsung, "Oh kalau butuh duit pergi aja ke Pak Chris.

Salah satu keunggulan kita ini adalah karena saya sendiri bos saya sendiri ada di kantor itu jadi keputusannya bisa diambil dalam waktu cepat. Orang mau pinjam duit satu hari selesai. Wong saya ada, kita bisa langsung putusin kan, apalagi yang mau pinjam ini ke orang yang kita sudah kenal. Jadi kalau di bank umum atau bank lain itu mau kasih kredit itu adalah kuncinya.

Makanya harus fungsi kehati-hatian dalam perbankan itu harus Prudential. Pruden, harus hati-hati. Untuk hati-hati itu, butuh waktu untuk survei.

Survei didalam ilmu perbankan ada 5 C dan 6 C. Tahu karakternya, kapitalnya, kapasitasnya, kemampuan dan segala macamnya. Itu butuh waktu satu hari dua hari, kalau bank umum bisa seminggu.

Apa perbedaan BPR dengan bank umum?

Sekedar saya kasih informasi bahwa di Indonesia itu sekarang ada sekitar 1520 BPR. Nah, BPR ini ada diklasifikasi ya, paling rendah itu BPR yang beraset Rp 25 miliar ke bawah. Kemudian satu tingkat lagi Rp 25 sampai Rp 50 miliar. Rp 50 miliar sampai Rp 100 miliar, Rp 100 miliar sampai Rp 250 miliar. Kemudian, Rp 250 miliar sampai Rp 500 miliar, dan ada yang Rp 500-an triliun sampai Rp 1 juta triliun ke atas. Jadi, dari bawah sampai yang besar. Nah, kalau BPR Christa Jaya ini ada di Rp 100 miliar sampai Rp 250 miliar.

Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved