Desa Petuntawa Lembata Kembangkan Eko Wisata Rumah Adat
Kepala Desa Petuntawa, Wilhelmus Tulada Langoday mengatakan kesiapannya untuk menerima keputusan Pemkab Lembata
Penulis: Ricardus Wawo | Editor: Kanis Jehola
POS-KUPANG.COM | LEWOLEBA - Kepala Desa Petuntawa, Wilhelmus Tulada Langoday mengatakan kesiapannya untuk menerima keputusan Pemkab Lembata yang menempatkan desanya sebagai salah satu desa tematik wisata.
Wilhelmus menjelaskan, desa Petuntawa telah mempersiapkan ikon wisata yang nantinya mulai dikembangankan tahun 2021 yaitu Eko wisata rumah adat Petuntawa sebagai wisata buah-buahan dan hutan mangrove di pesisir pantai desa tersebut.
"Desa Petuntawa sudah mempersiapkan ikon wisatanya sebagai bentuk dukungan perkembangan Wisata di kabupaten Lembata," tandasnya kepada wartawan, Senin (21/9/2020).
• Jaga Stabilitas Keamanan, Satgas Pamtas dan Intansi Vertikal Patroli ke Batas Negara
Diketahui, sektor pariwisata menjadi leading sector pembangunan Kabupaten Lembata pada masa kepemimpinan Bupati Eliaser Yentji Sunur dan Wakil Bupati, Thomas Ola Langoday periode 2017-2022.
Selain desa Petuntawa, 25 desa lainnya yang ditetapkan menjadi desa Tematik Wisata yaitu desa Lamalera A, desa Lamalera B, Lewuwayan, Belobaja, Pasir Putih, Tewaowutung, Lolong, Jontona, Bour, Waijarang, Dikesare, Balurebong, Balauring, Bean, Waowala, Lamawolo, Riangbao, Atawai, Atakore, Lusilame, Lerek, Kolontobo, Hingalamengi, Dulir dan desa Wulandoni.
• Corona Sumba Timur - Warga Berharap Semua Sampel Swab Negatif
Desa Petuntawa di kecamatan Ile Ape, kabupaten Lembata, merupakan 1 dari 26 desa di Lembata yang ditetapkan pemerintah kabupaten Lembata sebagai desa tematik wisata dan mulai dikembangkan pada 2021 mendatang.
Hal ini dikemukakan dalam kegiatan yang dihelat Dinas Kebudayaan dan Pariwisata bersama Dinas Sosial PMD kabupaten Lembata di desa Petuntawa belum lama ini.
Kadis kebudayaan dan Pariwisata Lembata, Apolonaris Mayan, dalam kegiatan tersebut mengatakan, Lembata memiliki luas wilayah laut 3.354,363 Km2 (72,59%) dan memiliki panjang garis pantai 492,80 Km2, sehingga perlu penataan oleh desa-desa pesisir untuk menjadi daya tarik. Oleh karena itu dibutuhkan komitmen bersama dalam membangun desa di sektor pariwisata sebagai new destination.
Dijelaskannya, Lembata menempatkan pariwisata sebagai prime mover (penggerak utama) pembangunan yang sejalan dengan arah pembangunan di provinsi NTT dan pemerintah pusat.
Sementara itu, Kadis Sosial PMD Kabupaten Lembata, Siprianus Meru, mengharapkan adanya sinergitas dalam membangun Lembata, dimana selama ini hal tersebut belum berjalan dengan baik.
"Saya rasa selama ini belum adanya sinergitas antar sektor, sehingga perlu dilakukan sinergi untuk membangun Desa wisata. Desa-Desa yang punya potensi pengembangan pariwisata dapat diarahkan prioritas pembangunan dan pengembangannya melalui RKP Desa dan R-APBDes 2021," jelasnya. (Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Ricko Wawo)