Minggu, 26 April 2026

Opini Pos Kupang Rabu 16 September 2020

Membaca Trend Naik Penderita COVID-19 di NTT

Kita kembali dikejutkan. Kenaikan positif C19 di NTT menembus record baru, 39 orang. NTT memasuki masa darurat C19

Editor: Ferry Jahang
Freepik via Tribunnews
ILUSTRASI Corona Virus 

Membaca Trend Naik Penderita COVID-19 di NTT

Oleh : Ermi Ndoen

Anggota Tim Data, Gugus Tugas COVID19 NTT

"Om, Hari ini NTT catat record -20 angka konfirmasi positif COVID-19 dalam sehari", demikian bunyi pesan WhatsApp yang saya terima dari salah satu teman di Tim COVID-19 NTT.

Cepat-cepat saya cek di dashboard data COVID-19 NTT di website http://www.covid19.nttprov.go.id/, halaman resmi Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID19 NTT yang secara rutin memberikan informasi situasi COVID-19 atau C19 di NTT.

Sejak pertama kali virus C19 hadir di NTT pada 10 April 2020 hingga tanggal 11 September 2020, belum pernah ada kenaikan angka positif C19 di NTT yang mencapai 20 orang positif dalam satu hari.

Hari ini kita kembali dikejutkan. Kenaikan positif C19 di NTT menembus record baru, 39 orang. NTT memasuki masa darurat C19. Dalam 14 hari di Bulan September, kasus baru mencapai angka 97.

Angka tertinggi dalam sejarah C19 NTT. Total angka konfirmasi positif C19 di NTT hingga hari Senin, 14 September 2020 menjadi 276 orang; 173 (63 persen) pasien sudah sembuh; 98 orang sementara dirawat dan terdapat 5 (1.8 persen) kematian akibat C19 di NTT.

Kasus positif di tiga hari terakhir ini berasal dari Kab Ende sebanyak 56 orang. Mereka berasal dari pelaku perjalanan yang baru pulang dari Denpasar.

Yang menarik, ada seorang pelaku perjalanan dari Yogyakarta akhirnya memecahkan telur Kabupaten Malaka yang selama ini "putih" dan sepi dari hingar bingar berita C19 untuk bergabung di kelompok 17 Kabupaten/Kota dengan konfirmasi C19 positif di NTT.

Mengikuti perkembangan C19 di NTT sambil mengamati perkembangan di Ibukota Negara seolah kita sedang menghitung waktu dan peluang yang dipunyai NTT agar plot cerita C19 tidaklah serupa.

Dengan mengamati trend data dari hari ke hari, banyak fenomena penting perlu kita cermati bersama.

Pertama, angka Positif C19 di NTT didominasi oleh kabupaten/kota yang tercatat sebagai "pintu/gerbang" masuk ke NTT.

Sampai hari ini (kemarin, Red), lima besar angka C19 NTT berasal dari Manggarai Barat (53); Kota Kupang (49); Ende (76), Sikka (28) dan Sumba Timur (20). NTT sendiri dikelililingi para tetangga zona merah.

Pulau Flores menyumbang angka positif terbanyak 181 (66 persen); diikuti Timor (62,22 persen), Sumba (29,11 persen); Rote (2,1 persen), sementara Alor dan Lembata masing-masing 1 orang.

Kabupaten "pulau" kecil atau kabupaten yang "jauh" masih memiliki angka C19 yang rendah, misalnya nol di Sabu Raijua;

namun ini juga masih dipertanyakan karena hingga hari ini (kemarin, Red), Sabu Raijua belum pernah mengirimkan sample C19 untuk diperiksa ke Kupang.

Posisi suatu wilayah sebagai "Gerbang" NTT seperti wilayah Barat Flores dan Kota Kupang merupakan daerah berisiko tinggi.

Karena itu pengawasan, pengamanan dan penapisan arus lalulintas orang di pintu-pintu masuk ini menjadi penting dan strategis dalam upaya meredam kasus C19 di NTT.

Termasuk di dalamnya pengaturan penumpang yang menggunakan alat transportasi laut dan udara harus mendapat perhatian serius; tidak terbatas pada pengisian "kartu kewaspadaan"

tapi memastikan semua informasi yang terisi di kartu kewaspadaan ini lengkap dan benar untuk bisa ditindaklanjuti oleh jaringan pelayanan kesehatan dan pemerintah daerah di tempat dimana mereka tinggal atau kunjungi.

Agar mereka taat menjalankan isolasi mandiri seusai melakukan perjalanan.

Kedua, angka konfirmasi positif C19 di NTT di minggu kedua September sudah melewati total angka positif C19 di sejak Juni (23), Juli (33) dan Agustus (28).

Hingga 14 September, sudah 97 angka konfirmasi positif C19 di NTT. Ada kenaikan 346 persen angka bulan Agustus 2020.

Jika total C19 NTT pada bulan April -Juni adalah 118 orang; maka dibutuhkan hanya 14 hari, untuk mendekati jumlah C19 positif di tiga bulan awal Pandemi C19 di NTT.

Peningkatan ini tentunya tidak terlepas dari makin terbukanya dan makin ramainya aktivitas sehari-hari masyakat kita, sementara filter di pintu-pintu masuk terbatas bahkan bisa dikatakan tidak ada.

Karena itu, kebijakan daerah untuk memastikan protocol C19 ditaati dan dipatuhi di daerah-daerah kantung penyebaran C19 di NTT menjadi wajib dan tidak bisa ditawar. Agar kita bisa menghindari kemungkinan eskalasi yang lebih besar.

Ketiga, total konfirmasi positif C19 NTT didominasi oleh golongan umur produktif (19 -49 tahun), dengan 150 orang (78 persen).

Kondisi ini menunjukan bahwa tingkat mobilitas dan aktivitas di luar rumah oleh golongan produktif meningkatkan risiko terkena C19.

Kebijakan untuk pengetatan protocol C19 di tempat-tempat usaha, kerja dan saat beraktivitas di luar rumah dapat menurunkan kasus C19 di NTT.

Keempat, dari total lima (5) kematian akibat C19, terjadi di kalangan usia 49-59 tahun. Artinya kelompok usia lanjut dengan penyakit penyerta memiliki risiko yang lebih besar jika terpapar virus C19.

Perlindungan terhadap kelompok ini, dimulai dengan bagaimana kelompok usia produktif berperilaku;

karena jika virus C19 dibawa pulang oleh kelompok usia produktif; akibat fatalnya pada kelompok usia lanjut dan yang punya penyakit bawaan.

Kelima, terjadi pergeseran pola penyebaran C19 di NTT berdasarkan kelompok.

Pada awal-awal peningkatan jumlah positif C19 NTT di bulan April -Mei, didominasi oleh kejadian yang berasal dari "kelompok orang"

seperti kluster Asrama STT Sangkakala di Sumba Timur, Gowa, Lambelu, Magetan dan Sukabumi. Juga kejadian transmisi lokal terutama di Kota Kupang dan Ende.

Namun sejak bulan Juni, dengan makin terbukanya arus lalulintas orang antar wilayah; terutama dari luar NTT, maka kluster "pelaku perjalanan" menjadi sumber
Utama angka positif C19 di NTT.

Berbeda dari kluster "kelompok orang" yang cenderung "mudah" ditelusuri karena berasal dari tempat yang sama dan dalam waktu pendek penularan bisa terjadi;

kluster Pelaku Perjalanan lebih bersifat "orang per orang", berasal dari berbagai Kota dan rentang waktu untuk tracing menelusuri kontak lanjutan antar individu menjadi panjang dan sulit.

Menyikapi kondisi ini, mau tidak mau, contact tracing dan surveilans ketat terhadap pelaku perjalanan menjadi wajib; baik lewat "kartu kewaspadaan" dari Kantor Kesehatan Pelabuhan yang harus benar dan lengkap;

juga peran surveilans berbasis masyarakat di tingkat warga untuk melaporkan pada "pendatang" atau "pemudik" baru di lingkungannya.

Keenam, hingga saat ini rata-rata waktu perawatan pasien C19 di NTT di sarana kesehatan adalah 28 hari.

Artinya jika peningkatan angka konfirmasi positif ini tidak cepat dikendalikan akan sangat membebani rumah sakit yang ada di NTT.

Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa fasilitas kesehatan di NTT sangat terbatas;

karena itu tugas kita semua untuk menjaga agar tidak terjadi lonjakan kasus yang diluar kendali sumberdaya kesehatan seperti yang sudah terjadi di kota-kota besar seperti Jakarta dan Surabaya.

Fakta Ketujuh. Angka positive rate C19 di NTT saat ini adalah 7 persen dengan jumlah kasus aktif saat ini ditangani adalah 98 orang.

Sejauh ini kita ketahui bersama bahwa pengendalian C19 di masyarakat adalah 3 M -Masker, Mencuri Tangan dan Menjaga Jarak.

Sementara sistem kesehatan menghendaki adanya 3T -Test-Tracing (pelacakan) -Treament (perawatan).

Hingga saat ini kapasitas Laboratorium Biomolecular di RSU WZ Yohannes dan lab pendukung dengan pemeriksaan TCM di beberapa kabupaten belum mampu meningkatkan kecepatan pemeriksaan sample C19 di NTT.

Menurut WHO, minimal ada 1 sample per 1000 penduduk per minggu. Artinya di NTT dengan penduduk, 5.5 juta jiwa, dibutuhkan sedikitnya 5.500 pemeriksaan sample C19 per minggu, atau 1000 sample per hari.

Kenyataannya NTT hanya bisa memeriksa rata-rata 100 sampel per hari. Kapasitas lab kita baru 10 persen dari yang seharusnya.

Kondisi membuat system surveilans covid berbasis lab belum bisa dilaksanakan di NTT. Karena itu kebutuhan untuk peningkatan kapasitas laboratorium di NTT menjadi sangat mendesak.

Kebutuhan lab ini bukan hanya untuk menjawab kebutuhan saat pandemi C19, tapi juga untuk mendukung upaya pemerintah untuk pemberantasan malaria, pencegahan deman berdarah, penurunan kasus TB, kasus kejadian luar biasa keracunan makanan yang sering terjadi di NTT.

Semua ini butuh ketersediaan laboratorium yang berkualitas di NTT.

Jika pada fase awal pandemi C19 di Indonesia, NTT bisa meminta bantuan Jakarta, Surabaya dan Makasar untukpemeriksaan sample C19, saat ini terbukti bahwa daerah yang dianggap"maju" pun kewalahan melayani permintaan pemeriksaan sample yang berasal dari diri sendiri.

Untuk kita, solusinya adalah kehadiran laboratorium yang kuat dan berkualitas di NTT sudah sangat dibutuhkan sekarang.

Terakhir, hinggak ini belumbisadipastikankapankrisis yang diakibatkan oleh pandemi C19 akan berakhir.

Antony Faucidari CDC (Center for Disease Control and Prevention) di AS memperkirakan bahwa paling cepat krisis akibat pandemi akan menemukan titik terang di akhir tahun 2021.

Solusinya disiplin bersama untuk menerapkan protokol C19 dari lingkup terkecil seperti keluarga, komunitas hingga ruang publik secara terintegrasi menjadi keharusan.

Di saat yang sama menjaga agar roda ekonomi tetap berputar. Untuk itu penemuan cara-cara kreatif untuk menjaga roda ekonomi berputar yang diikuti dengan pemahaman mendetil pencegahan penyebaran C19 juga tidak bisa diabaikan.

Ya, orang harus kerja untuk makan, tetapi untuk makan orang harus hidup terlebih dahulu.

Menjaga agar rantai penyebaran C19 tidak menjadi liar, dan memastikan agar penderita C19 yang ada bisa tertangani dengan baik merupakan kerja bersama yang perlu kita tuntaskan.(*)

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved