Senin, 13 April 2026

Berita Sumba Timur Terkini

Di Sumba Timur - Penenun Keluhkan Tidak ada Pembeli, Simak Info

penenun di Kampung Adat Praingu Prailiu, Kabupaten Sumba Timur mengeluhkan tidak ada pengunjung dan pembeli selama masa Pan

Penulis: Oby Lewanmeru | Editor: Ferry Ndoen
POS-KUPANG.COM/Oby Lewanmeru
Adriana Rambu Adji seorang penenun di Kampung Raja Praingu Prailiu Kabupaten Sumba Timur, Rabu (16/9/2020).   Area lampiran 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Oby Lewanmeru

POS-KUPANG.COM/WAINGAPU - Sejumlah penenun di Kampung Adat Praingu Prailiu, Kabupaten Sumba Timur mengeluhkan tidak ada pengunjung dan pembeli selama masa Pandemi Covid-19.
Adriana Rambu Adji seorang  yang ditemui POS-KUPANG.COM, Rabu (16/9/2020) mengatakan, selama Pandemi Covid-19 pendapatan mereka menurun.

Menurut Adriana, sebelum Covid-19 ada artis ibu kota yang datang membeli hasil tenun di Sumba Timur setelah berkeliling di sejumlah tempat wisata yang ada di Sumba Timur.

"Jadi selama Covid-19 sepi, pengunjung tidak seperti normal.
Kami tutup waktu itu, setelah new normal sudah mulai kembali aman.
Saya bersyukur apa yang saya dapat itu cukup," kata Adriana.

Dijelaskan, meski pendapatan menurun, dirinya bersyukur karena saat pesawat terakhir saya bisa dapat sekitar Rp 5-6 juta.

"Bulan Juni 2020 itu ada satu rombongan mau ke Sumba Barat Daya tapi singgah beli hasil tenunan di saya," katanya.

Dikatakan, semua penenun di wilayah itu tetap berdoa selama Pandemi Covid-19 agar hasil karya mereka bisa terjual.

"Saya juga berdoa biar Covid-19 bisa berlalu. Saat ini pengunjung sudah ada sekarang dan agak baik.
Hanya saat ini kami cemas karena ada kasus meninggal bahkan keluarganya juga ada yang positif dan masih dirawat," katanya.

Dikatakan, pada Bulan Oktober 2019 lalu ada tamu berprofesi sebagai dokter dari Medan 11 orang dan bertugas di Sumba Timur.

"Kalau mereka mau cari oleh -oleh beli salendang kirim ke Medan, pasti datang ke tempat saya.
Saat ini banyak juga pemesanan dan pengiriman lewat online," ujarnya

.
Dia mengakui, mulai menekuni keterampilan menenun sejak 1979, karena sejak dulu orang tua juga sudah menenun atau penjual kain khas Sumba.

"Ini sudah jadi mata pencaharian saya dan teman-teman di kampung ini," katanya.
Pantauan POS-KUPANG.COM, di tempat usaha Adriana ini menjual salempang /salendang mulai dari Rp 150.000, Rp. 250.000 dan Rp 350.000. Sedangkan sarung bisa dijual Rp 1 juta hingga belasan juta disesuaikan dengan motif.

Harga tenun ikat ini bervariasi mulai ratusan ribu hingga belasan juta per lembar. Harga tenun ikat yang cukup mahal, yakni yang dibuat dengan perwarna alam dengan berbagai corak warna dan motif. Semua motif yang ada itu mengandung nilai budaya dan fisolofis tersendiri.

Ada juga cinderamata dari berbagai bahan, seperti tulang belulang binatang seperti paus. Ada juga kalung, cincin dari kulit penyu dan lain-lainnya.

Hingga Triwulan Ketiga 2020, Penyerapan Anggaran Pemprov NTT Baru 62 persen 

Pemprov NTT Minta Wali Kota dan Bupati Jaga Pintu Masuk Wilayah Masing Masing 

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved