Dukung Wisata Unggulan, Pemda Nagekeo Gelar Pelatihan Bagi Warga
Sedikitnya 40 orang utusan dari setiap desa dan kelurahan di Nagekeo mengikuti pelatihan tata kelola destinasi pariwisata
Penulis: Gordi Donofan | Editor: Kanis Jehola
POS-KUPANG.COM | MBAY - Sedikitnya 40 orang utusan dari setiap desa dan kelurahan di Nagekeo mengikuti pelatihan tata kelola destinasi pariwisata dan pelatihan mengelola homestay tingkat Kabupaten Nagekeo tahun 2020.
Kegiatan tersebut berlangsung sejak, Rabu (9/9/2020) hingga Sabtu (12/9/2020) bertempat di Kampung Pajoreja Desa Ululoga Kecamatan Mauponggo Kabupaten Nagekeo.
Kegiatan dibuka oleh Asisten Pemerintahan dan kesejahteraan Rakyat Setda Kabupaten Nagekeo Drs. Imanuael Ndun, M.Si.
• Foto Lawas Ungkap Mantan Istri Dory Harsa, Padahal Masih Status Pengantin Baru, Netizen Ungkap ini
Imanuel mengatakan sektor pariwisata terus bergerak maju dan menjadi sektor andalan yang mampu menggerakan perekonomian daerah dan masyarakat.
Bicara pariwisata, kita memiliki banyak aneka ragam potensi pariwisata baik potensi wisata alam, wisata religi, wisata bahari, wisata budaya yang tersebar hampir di tujuh kecamatan, meski potensi yang kita miliki belum dikemas secara baik.
• Bupati Ray Terima Masukan Tak Ingin Pameran HUT Kota Kefamenanu Digelar
"Keberadaan sarana dan prasarana masih terbatas. Dalam keterbatasan itu kita tetap berupaya agar pariwisata Nagekeo bisa menjadi sektor unggulan sepanjang kita memiliki niat, kemauan dan kerja keras kita. Hal ini sejalan dengan visi-misi pemerintah Kabupaten Nagekeo" Mewujudkan Nagekeo yang Sejahtera, Nyaman dan Bermartabat melalui pembangunan sektor pertanian dan pariwisata," jelasnya.
Ia mengatakan demi meningkatkan kualitas kepariwisataan di daerah ini, diharapkan agar semua potensi wisata yang ada perlu ditata dan dikelola secara baik dan penuh tanggungjawab sehingga akan bernilai lebih dan berdaya guna bagi masyarakat.
Ia mengatakan yang perlu diperhatikan pula sebagai salah satu usaha yang menjual jasa, maka kualitas layanan dalam bidang pariwisata haruslah yang diutamakan dengan tetap sesuai standart yang berlaku baik secara nasional maupun internasional.
"Wisatawan yang ada dinegara maju, sudah bosan dengan yang namanya modernitas mereka ingin kembali menikmati hal yang sifatnya alamiah, tradisional tetapi sudah tidak tersedia ditempat asal mereka. Kesederhanaan, keramahatamahan kita, rumah kolong, pesona alam, gunung, hutan, makanan khas menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Karena itu, mereka mau datang ke Indonesia sampai ke desa-desa, Back to nature. Di sini terjadi benturan nilai. Wisatawan menginginkan yang tradisionalitas tetapi kita sedang mengejar modernitas," tegasnya.
Ia mengaku hal ini menjadi tantangan bagi kita adalah bagaimana kita memodifikasi, bagaimana kekuatan moril kita, mengembalikan masa lalu, keaslian kita kendati kita berada di tengah modernitas.
Jiwa untuk mempertontonkan sesuatu yang kita miliki di masa lalu yang menjadi keindahan dan kekayaan leluhur kita tidak boleh dihilangkan karena itu menjadi kekuatan pariwisata kita.
Ia mengatakan kementerian desa sekarang sedang menggelontorkan dana yang cukup besar untuk program revitalisasi budaya yang artinya budaya masyarakat yang asli yang sudah hampir punah harus digali dan ditemukan kembali.
Terkait hal tersebut, diingatkan kembali bahwa Lembaga Pemangku Adat (LPA) bukanlah kepala suku tetapi Kepala suku itu dilahirkan dari kesepakatan masyarakat.
"LPA itu diangkat dan merupakan tokoh yang menjembatani aspek kultural yang ada disuku dan aspek formalitas yang ada di pemerintah untuk membawa kekuatan pemerintah ini menjadi energy baru untuk merefitalisasi budaya sehingga budaya lama tidak hilang. Hal seperti inilah yang menjadi kekuatan penggerak yang membangkitkan kembali masa lalu kita yang ada di masa depan yang sedang dicari. Berbicara tentang pariwisata kita jangan berpikir tentang hal yang luar biasa yang harus kita cari kemana mana sementara yang ada di sekitar kita, kita hilangkan," ujarnya.
Ia mengatakan ketika sarana yang kita miliki masih terbatas dan konsumen akan tetap menggunakan jasa kita tergantung mutu layanan kita. Ketika muncul persaingan baru, kualitas layanan akan menjadi indikator utama bagi konsumen. Pada titik ini kualitas layanan menjadi faktor kunci meningkatnya arus kunjungan dan rata-rata tinggal arus wisatawan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/dukung-wisata-unggulan-pemda-nagekeo-gelar-pelatihan-bagi-warga.jpg)