BNI Salurkan Kredit PEN Rp12,03 Triliun
Pertumbuhan kinerja BNI sepanjang semester I tahun 2020 sejalan dengan program pemerintah dalam rangka pemulihan ekonomi nasional
POS-KUPANG.COM | KUPANG - Pertumbuhan kinerja BNI sepanjang semester I tahun 2020 sejalan dengan program pemerintah dalam rangka pemulihan ekonomi nasional. PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk ( BBNI) berperan aktif sesuai dengan arahan Kementerian BUMN untuk mengucurkan kredit dalam program Pemulihan Ekonomi Nasional ( PEN).
Roekma Hariadji selaku VP Investor Relation dalam Public Expose 2020 yang diselenggarakan Bursa Efek Indonesia, Jumat (28/8/2020) menjelaskan, dalam program PEN hingga 24 Agustus 2020, BNI telah menyalurkan kredit senilai Rp12,03 triliun atau setara dengan leverage sebesar 2,4 kali dari dana yang ditempatkan pemerintah senilai Rp5 triliun. Hal ini sejalan dengan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 70 tentang Penempatan Dana Pemerintah di Bank Umum serta PMK Nomor 71 dan 98 tentang
Tata Cara Penjaminan Pemerintah kepada Pelaku Usaha dalam rangka pelaksanaan program pemulihan ekonomi nasional.
• BPBD TTU Salurkan Bantuan Tanggap Darurat untuk 8 Keluarga yang Terkena Musibah Kebakaran
Jelas Roekma pula dalam rilisnya, mayoritas dana tersebut disalurkan ke sektor usaha kecil yakni senilai Rp6,95 triliun atau 57,8 persen dari kredit yang dikucurkan dalam rangka PEN. Kredit yang terkucur di sektor kecil terutama mengalir ke sektor perdagangan, pertanian, dan sektor jasa. BNI memonitor dengan ketat pengucuran kredit PEN ini untuk memastikan kualitas kredit tersebut.
Tidak hanya itu, BNI kembali ditunjuk pemerintah dalam hal ini Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) untuk menyalurkan Bantuan Presiden (Banpres) Produktif bagi pelaku usaha mikro. BNI dipercaya oleh Kementerian Koperasi dan UKM untuk menyalurkan Bantuan Presiden Produktif bagi pelaku usaha mikro sebesar Rp2.400.000 per orang. Untuk tahap pertama, Kementerian Koperasi dan UKM bekerja sama dengan PT Permodalan Nasional Madani (Persero) atau PNM sebagai lembaga pengusul menetapkan 316 ribu lebih penerima bantuan pelaku usaha mikro yang disalurkan melalui BNI.
• Warga di Ende Geger Lihat Kades Tergantung di Pohon, Tangis Keluarga Pecah!
Adapun BNI dipilih menjadi bank penyalur karena mampu menyediakan sistem penyaluran yang terintegrasi dengan baik dari pembukaan rekening secara kolektif sampai tahap monitoring pencairan. Selain itu, BNI juga mampu memberikan kemudahan penerima dalam proses pembuatan rekening (dengan sistem burekol atau buka rekening kolektif) sehingga para penerima hanya perlu melakukan proses aktivasi rekening sebelum buku tabungan dan kartu debit dapat diambil di outlet BNI. Sementara itu, BNI juga telah menyalurkan dana Program Bantuan Subsidi Upah/Gaji bagi
pekerja/buruh dengan total sebesar Rp1,09 triliun kepada 912.097 penerima untuk tahap
pertama.
Di sisi lain, BNI mampu menghadapi tantangan pandemi Covid-19 dengan juga berfokus
pada bisnis internasional. BNI terus berupaya menjadi gerbang pembiayaan perdagangan dan
investasi internasional (trade finance and investment gateaway) yang terdepan dengan
menyediakan pendanaan internasional.
Melalui upaya-upaya tersebut, segmen bisnis internasional tercatat tumbuh impresif,
meski di tengah pandemi dengan pertumbuhan sebesar 17,1 persen year on year (yoy), menjadi Rp2,2 triliun dibandingkan dengan capaian pada periode yang sama tahun lalu sebesar Rp1,81 triliun. Kantor cabang di luar negeri membukukan lonjakan laba sebelum pajak sebesar 77,2 persen
menjadi Rp 907,4 miliar, didukung fee base income yang melesat 34 persen dan pembiayaan atau kredit internasional yang mencapai Rp 62,45 triliun. Hal ini semakin memperkuat kinerja kredit BNI sepanjang semester pertama tahun ini.
Sementara itu, Roekma menjelaskan, penyaluran kredit BNI tersebut ditopang oleh kinerja penghimpunan DPK. BNI membukukan likuiditas yang cukup guna mendanai ekspansi. Pada paruh pertama tahun 2020, perolehan Dana Pihak Ketiga (DPK) mencapai Rp 662,38 triliun, atau tumbuh 11,3 persen secara
tahunan (yoy) dari Rp 595,07 triliun pada paruh pertama tahun 2019. Pertumbuhan DPK tersebut lebih baik dibandingkan dengan pertumbuhan DPK di industri per Juni 2020 yang tumbuh 7,95 persen yoy. Hal ini menunjukkan bahwa BNI masih memiliki kelonggaran likuiditas yang terkonfirmasi dari rasio kredit terhadap DPK (loan to deposito ratio/LDR) yang berada di level 87,8 persen. Demikian juga dengan rasio kecukupan likuditas (liquidity coverage ratio/LCR) sebesar 189 persen atau terus membaik dari posisi akhir tahun 2019 yang sebesar 182 persen.
Limpahan likuiditas tersebut memungkinkan BNI untuk terus melakukan ekspansi kredit. Pada saat perekonomian terkontraksi 5,23 persen yoy sepanjang Semester Pertama Tahun 2020
karena dampak pandemi Covid-19, BNI tetap menjalankan fungsi intermediasinya dengan baik dengan pertumbuhan yang selektif dan terukur. (Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Intan Nuka)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/bni-salurkan-kredit-pen-rp1203-triliun.jpg)