Breaking News
Kamis, 7 Mei 2026

Warga Desa Belabaja Masih Susah Air Bersih

Warga Desa Belabaja Kecamatan Nagawutung Kabupaten Lembata sedang mengalami kondisi darurat air bersih sejak pertengahan awal Agustus 2020

Tayang:
Penulis: Ricardus Wawo | Editor: Kanis Jehola
POS-KUPANG.COM/Ricko Wawo
Desa Belabaja Kecamatan Nagawutung Kabupaten Lembata sedang mengalami kondisi darurat air bersih sejak pertengahan awal Agustus 2020 menyusul kelangkaan pasokan air untuk kebutuhan harian warga. 

POS-KUPANG.COM | LEWOLEBA- Warga Desa Belabaja Kecamatan Nagawutung Kabupaten Lembata sedang mengalami kondisi darurat air bersih sejak pertengahan awal Agustus 2020 menyusul kelangkaan pasokan air untuk kebutuhan harian warga.

Menurunnya debit air di dua sumber mata air yang memasok kebutuhan air desa tersebut menjadi alasan krisis air yang sudah berlangsung lebih dari satu minggu.

Akibatnya, warga terpaksa harus berjalan kaki untuk mengambil air dari desa terdekat yakni Desa Labalimut. Meski jaraknya tidak lebih dari satu kilometer, perjuangan warga terbilang melelahkan karena harus kembali ke rumahnya dengan memikul air dan melewati jalanan menanjak.

Dua Komponen Penting Pembangunan dan Penataan Kota Kupang ala Firmanmu

Bagi sebagian warga yang memiliki sepeda motor aktivitas ini relatif lebih muda karena mengangkut air dengan sepeda motor.

Kepala Dusun B Desa Belabaja, Wilhelmus Kalawasa Wuwur menuturkan, akibat menurunnya debit air, layanan air dari Bak Penampung Sumber Mata Air Wairefak hanya bisa dilakukan satu kali dalam dua hari.

Itu pun dengan waktu yang relatif singkat bahkan tak lebih dari satu jam.

Pemprov NTT Siapkan Rp 50 Miliar Untuk Pengembangan Ikan Kerapu Masyarakat di Rote Ndao

"Karena air yang masuk ke bak sangat sedikit, jadi dua hari sekali baru ada pelayanan. Itu pun tidak lama, Kadang-kadang hanya satu jam sudah kering. Tergantung banyaknya air yang masuk ke bak," ungkap WIlhelmus, kepada wartawan Minggu (16/8/2020).

Warga menyimpan sejumlah media penampug air seperti ember dan jeriken pada titik-titik kran yang tersebar di seputar wilayah dusun. Namun semuanya kosong dan tidak ada air yang keluar dari kran air.

Hermina Prada, salah satu warga menuturkan, dari beberapa jeriken yang disiapkan, keluarganya hanya mendapat satu jeriken air ukuran 5 liter.

"Kemarin, kami pergi sudah taroh jerigen tapi ternyata air keluar sedikit saja. Jadi hanya dapat 1 jerigen yang ukuran lima liter. Hampir semua keluarga dapat seperti itu, Terpaksa hanya bisa pake untuk masak dan minum. Untuk mandi terpaksa harus minta di Labalimut," ungkap Hermina.

Kisah krisis air juga dituturkan Maria Ose. Perempuan yang sudah berusia lebih dari 60 tahun ini mengeluhkan kesulitan mengambil air bagi mereka yang sudah masuk kategori lansia.

"Untung saja di rumah itu ada anak-anak yang masih muda. Kalau tidak kami ini setengah mati. Biasanya mau ambil air, kran ada di dekat rumah. Kalau keadaan begini, memang kami sangat susah," ungkapnya.

Desa Belabaja bukanlah desa yang terbiasa mengalami krisis air. Bahkan desa ini sesungguhnya masuk kategori desa yang sangat berlimpah air. Tiga dusun dalam desa tersebut masing-masingnya memiliki sumber mata air sendiri.

Dusun A memasok air dari Sumber Mata Air Waiwatan, Dusun B dari Mata Air Wairefak dan Dusun C dari Mata Air Waeskolo. Namun pada musim kemarau tahun 2020 ini, ketiga debit sumber mata air menipis.

Namun yang lebih parah adalah debit air dari Mata Air Waeskolo dan Wairefak.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved