Senin, 18 Mei 2026

Tahukah Kamu Inilah 3 Sosok Pengibar Bendera Saat 17 Agustus 1945, Ada yang Pernah Dipenjara

Tahukah Kamu Inilah 3 Sosok Pengibar Bendera Saat 17 Agustus 1945, Ada yang Pernah Dipenjara

Tayang:
Editor: maria anitoda
Kompas.com
Tahukah Kamu Inilah 3 Sosok Pengibar Bendera Saat 17 Agustus 1945, Ada yang Pernah Dipenjara 

Setelah pembacaan naskah proklamasi oleh Soekarno, dilakukan pengibaran bendera Merah Putih.

Pelaksanaan Upacara Apel Peringatan HUT RI ke 75 di TTU Sesuai Protokol kesehatan, Simak !

Pelaksanaan Upacara Apel Peringatan HUT RI ke 75 di TTU Sesuai Protokol kesehatan

Bupati Malaka, Stefanus Bria Seran : Indonesia Maju, Malaka juga Harus Maju

Bupati Deno Sebut Kabupaten Manggarai Berhasil Meraih Status Terentaskan dari Daerah Tertinggal

Betrand Peto Susah Payah Jualan Bakpao untuk Biaya Sekolah Sebelum Bertemu Ruben Onsu dan Sarwendah

Ketika itu, Latief memakai seragam tentara Jepang karena merupakan pasukan PETA. Ia bersama Suhud Sastro Kusumo mengibarkan bendera Merah Putih pertama setelah proklamasi kemerdekaan.

Pasca-kemerdekaan, Latief juga berkontribusi saat Indonesia menghadapi agresi militer Belanda. 

Ia mengamankan Yogyakarta yang ketika itu menjadi Ibu kota RI bersama Jenderal Soedirman.

Setelah penyerahan kedaulatan oleh Belanda, Latief bertugas di Markas besar (Mabes) Angkatan Darat. Dan pernah bertugas di Filipina dan Washington.

Setelah kembali ke Indonesia, ia menjadi pimpinan di Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (SSKD) kini Seskoad. Ia juga pernah menjadi Rektor IKIP Jakarta pada 1965.

Pada 1967, dia memasuki masa pensiun dengan pangkat terakhir Brigadir Jenderal.

Suhud Sastro Kusumo 

Suhud lahir pada 1920. Dia merupakan anggota Barisan Pelopor bentukan Jepang.

Saat upacara proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, Suhud turut bertugas sebagai pengibar bendera.

Pada 14 Agustus 1945, Suhud dipercaya menjaga keluarga Soekarno dari berbagai macam gangguan. 

Dua hari kemudian, 16 Agustus 1945, Soekarno dibawa oleh Soekarni dan Chaerul Saleh ke suatu tempat yang dikenal dengan peristiwa Rengasdengklok.

Saat itu, Suhud tidak curiga terhadap Soekarni dan Chaerul Saleh yang membawa Soekarno. 

Malam harinya, Soekarno kembali ke rumah dan persiapan proklamasi kemerdekaan mulai dilakukan dengan matang.

Pimpinan kawedanan dan kecamatan sudah dikoordinasi.

Sumber: Kompas.com
Halaman 2/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved