Breaking News:

Ini yang Dilakukan Kepala SMPN 6 Nekamese Tingkatkan Kualitas Pendidikan

KEPALA SMPN 6 Nekamese, Yulianti Pulungtana, mengaku untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan kegiatan literasi

Editor: Kanis Jehola
POS-KUPANG.COM/RYAN NONG
Chatrin Mey Padakari (14) dan Serli Sintike Tasey (13), dua dari enam siswa SMP Negeri 6 Nekamese yang menulis untuk Buku Ontologi Puisi "Terimakasih untuk cintamu". 

POS-KUPANG.COM - KEPALA SMPN 6 Nekamese, Yulianti Pulungtana, mengaku untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan kegiatan literasi, pihak sekolah membangun sinergi dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kupang, Pemerintah Desa, Komite, Orang tua/wali,masyarakat dan pihak gereja.

Ia menjelaskan, penerapan pendidikan karakter dan pembelajaran edukatif di sekolah tersebut selalu memberikan peluang, ruang dan tempat sebagai media bagi peserta didik untuk berekspresi dan berliterasi. "Kami selalu mendorong mereka untuk menemukan dan mengaktualisasikan potensi yang ada dalam diri," kata Yulianti.

Viktor Ingin Pendidikan Bangkit: Peluncuran 3 Buku SMPN 6 Nekamese

Sebanyak 112 orang siswa di sekolah tersebut tersebut dididik dan didampingi oleh 11 guru PNS, 4 guru kontrak, 4 pegawai honor dan 1 penjaga sekolah. Tiga buku yang diluncurkan dalam kesempatan itu terdiri dari buku Antologi Puisi, Terima Kasih Untuk Cintamu karya siswa SMPN 6 Nekamese. Buku Workshop Bersehati: Trik Jitu Membuat Penelitian Kelas karya Yulianti Pulungtana, dan buku Hikmat Mengelola Konflik Jemaat karya Erykh Lisnahan.

Yulianti mengatakan proses pembuatan buku sekitar 9 bulan. Dimulai pada Oktober 2019. Awalnya semangat literasi dimulai dari para guru. "Yang kami lakukan sampai anak anak bisa menghasilkan ontologi puisi pertama itu kami mulai dulu dari guru. Guru mau anaknya bisa menciptakan sesuatu dan menghasilkan karya," kata Yulianti.

NEWS ANALISIS Simon Riwu Kaho Praktisi Pendidikan NTT: Persetujuan Menteri

Guru-guru yang memiliki perhatian untuk literasi dengan tekun membimbing para siswa untuk membuat puisi dan karya tulis sederhana. Selain itu, untuk mendukung hal tersebut, sekolah menjalin kerjasama dengan berbagai pihak yang menaruh perhatian pada literasi dan sastra.

Misalnya akademisi dan sastrawan DR Marsel Robot, serta pengawas mata pelajaran bahasa Indonesia SMP di kabupaten Kupang serta pembimbing jurnalistik, Kriapinua Belang Niron.
Mereka menyediakan Kelas jurnalistik Ayo Menulis dan mengundang para praktisi untuk membagikan teknik menulis kepada para siswa.

Dari kelas jurnalistik tersebut, karya yang dihasilkan para siswa kemudian dikumpulkan dan disortir. Selain berbagi ilmu dan memberi bimbingan, mereka juga memberikan apresiasi yang besar kepada para siswa.

"Mereka memberikan apresiasi yang luar biasa untuk anak anak. Jadi kami berharap karya anak ini mendapat tempat bagi anak anak seusia mereka dan orang tua masyarakat di NTT," katanya.

Keterlibatan gubernur dan seluruh stakeholder dalam mendukung literasi siswa dan sekolah menurut Yulianti menjadi pelecut semangat anak-anak untuk menghasilkan karya dalam bentuk buku lagi.

Ia mengaku, saat ini para siswa sedang dalam proses mengerjakan ontologi yang kedua. "Kami bersyukur, tidak disangka. Awalnya Pak Gub minta ketemu langsung setelah kami meminta audiensi. Beliau melihat hal yang luar biasa dari anak anak. Semangat anak anak ini katanya bisa membangun NTT lebih baik," ujar Yulianti.

Dua dari 6 pelajar SMPN 6 Nekamese yang ikut menyumbang puisi di Ontologi Puisi, Terimakasih untuk Cintamu, adalah Chatrin Mey Padakari (14) dan Serli Sintike Tasey (13). Mereka mengaku amat bangga karena karya yang dihasilkan setelah menekuni kelas literasi itu diluncurkan langsung oleh Gubernur NTT Viktor Laiskodat.

"Bahagia sekali Kaka. Kami senang juga bangga. Buku itu diluncurkan oleh Bapak Gubernur," ujar Chatrin Mey.

Chatryn yang saat ini duduk di kelas VIII-A berkisah, awalnya mereka rutin menulis untuk kelas literasi yang dilaksanakan seminggu sekali di sekolah. Hasil tulisan itu kemudian dipilih dan disortir untuk dibukukan.

Sementara puisi-puisi yang ditulis Chatryn mengambil tema lingkungan dan sosial. Demikian pula Sherly, ia banyak menulis puisi dengan tema hubungan keluarga.

"Saat ibu guru minta kami untuk menulis agar diterbitkan kami bersemangat karena kami memang senang menulis dan sudah ikut kelas literasi," ujar Sherly. Siswi kelas VIII-B itu mengaku menulis lebih dari belasan puisi untuk buku ontologi tersebut. (hh)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved