Dengan Gemohing, Taman Daun Bedah Rumah Difabel Penjual Sapu Lidi
aksi bedah rumah milik difabel penjual sapu lidi itu menunjukkan kalau semangat gemohing anak muda sangat luar biasa.
Penulis: Ricardus Wawo | Editor: Rosalina Woso
Dengan Gemohing, Taman Daun Bedah Rumah Difabel Penjual Sapu Lidi
POS-KUPANG.COM|LEWOLEBA-- Relawan Taman Daun telah membuktikan kalau mereka bisa membangun Lembata dengan semangat gotong-royong atau gemohing dalam bahasa Lamaholot.
Hal ini dibuktikan para relawan dengan membedah rumah reot milik seorang difabel penjual sapu lidi bernama Hasna Sedo di Bluwa, Kelurahan Lewoleba Barat, Kecamatan Nubatukan Kabupaten Lembata. Ini merupakan bedah rumah kedua setelah sebelumnya para relawan secara gotong-royong membedah rumah Nenek Peni di Kampung Kalikasa, Kecamatan Atadei, Kabupaten Lembata.
Proses bedah rumah Hasna Sedo memakan waktu hampir seminggu. Rumahnya yang hanya berdinding bambu dan nyaris roboh disulap menjadi rumah berdinding batu merah dengan ukuran yang lebih besar.
Salah satu relawan yang juga seorang arsitek, Jacky Buran turun langsung untuk mendesain rumah baru milik Hasna Sedo.
Alhasil, dalam waktu singkat rumah baru milik difabel yang sudah lama hidup sendiri itu pun rampung. Dalam sebuah perayaan yang sederhana dan mengharukan, puluhan Relawan Taman Daun mengantar masuk perempuan berusia 63 tahun itu masuk ke dalam rumahnya, Senin (3/8/2020) petang.
Hasna Sedo tak banyak bicara namun sorot tajam matanya menampakan kebahagiaan yang luar biasa.
Mengenakan sarung khas Lamaholot dan dituntun para relawan, perempuan yang memiliki keterbatasan gerak pada tangan dan kakinya ini pun memasuki rumahnya yang baru.
Paulina Henakin, kerabatnya yang selalu bersama dengan Hasna Sedo, juga tak kuasa menahan haru bahagianya. Dia tak menyangka ada sekelompok anak muda yang punya kepedulian luar biasa pada orang-orang kecil dan terpinggirkan seperti mereka.
"Saya ucapkan limpah terima kasih banyak kepada Taman Daun. Ini sudah sangat luar biasa," kata Paulina dengan mata berkaca-kaca saat diminta pesan dan kesannya untuk rumah baru tersebut.
Paulina yang bekerja sebagai koster di Gereja Paroki St Benneaux Lewoleba sudah lama mendampingi Hasna Sedo. Bahkan, mendiang suami dari Paulina yang mendirikan rumah bagi Hasna Sedo yang sudah dibedah oleh Taman Daun karena termakan usia.
Rumah mereka bersebelahan saja. Paulina dan Hasna Sedo saling berbagi dalam suka maupun duka.
Menurut Paulina, Hasna Sedo yang akrab disapa Sedo lahir di Katawa 31 desembaer 1956 kini merupakan warga Bluwa, Kelurahan Lewoleba Barat ,Kabupaten Lembata.
Kedua orang tuanya telah meninggal dunia sehingga ia terpaksa menjalani hari-hari hidupnya sendiri demi sesuap nasi. Tempat tinggal pun tidak dimilikinya sehingga selalu berpindah-pindah bahkan pernah tidur bersama sekelompok ayam di dalam sebuah pondok reot.
Saat masih berusia remaja, dia tinggal bersama orangtua di kampung tetapi setelah orangtuanya meninggal, Nenek Sedo yang sering dipukul memilih keluar dari kampung lalu berjalan dengan kondisi kaki yang tidak normal menyusuri hutan selama beberapa hari hingga tiba di Lewoleba.