Breaking News:

Bupati Sumba Barat, Budaya Sumba Tidak Kenal Kawin Tangkap, Yang Benar Kawin Lari

Bupati Kabupaten Sumba Barat, Drs.Agustinus Niga Dapawole menegaskan dari sisi budaya Sumba tidak mengenal adanya kawin tangkap

POS-KUPANG.COM/Petrus Piter
Bupati Sumba Barat, Drs.Agustinus Niga Dapawole memimpin rapat pembahasan tentang kawin tangkap di ruang rapat bupati Sumba Barat, Senin (2/7/2020) 

POS-KUPANG.COM | WAIKABUBAK - Bupati Kabupaten Sumba Barat, Drs.Agustinus Niga Dapawole menegaskan dari sisi budaya Sumba tidak mengenal adanya kawin tangkap. Yang benar adalah kawin lari. Secara tradisi budaya Sumba membolehkan hal itu terjadi.

Demikian disampaikan Bupati Kabupaten Sumba Barat, Drs.Agustinus Niga Dapawole melalui asisten adminstrasi umum setda Sumba Barat, Yermia Ndapa Doda, S..Sos sesaat setelah menghadiri rapat tindaklanjut atas penandatanganan kesepakatan bersama 4 bupati Sumba tentang stop kawin tangkap yang dipimpin Bupati Sumba Barat, Drs Agustinus Niga Dapawole di ruang rapat Bupati Sumba Barat, Senin (20/7/2020).

Gugus Tugas Belu Gunakan Istilah Baru Laporan Covid-19, Simak Perbedaannya

Ia menjelaskan kawin lari terjadi bila anak perempuan dan laki-laki saling mencintai tetapi kedua orang tua tidak setuju maka keduanya memutuskan kawin lari agar proses perkawinan cepat terlaksana.

Kedua kawin lari terjadi bila kedua anak saling mencintai dan salah satu keluarga perempuan atau laki-laki tidak setuju maka pasangan sejoli memilih jalan pintas kawin lari dan sebagainya.

Ini Hasil Pertemuan Bupati Sikka Dalam Rangka Percepatan Penanganan Covid-19 di Sikka

Selanjudnya, perwakilan keluarga laki-laki memberitahu keluarga perempuan bahwa anaknya ada di rumah lak-laki. Disini akan terjadi perundingan kedua belah pihak untuk membicarakan penyelesaian secara adat. Biasanya keluarga perempuan datang membawa kain dan babi untuk menerima belis berupa kuda dan kerbau.

Bila kedua belah pihak sepakat maka akan berlangsung proses adat pembelisan seperti biasa.

Namun demikian, ia mengakui, di zaman modern sekarang, hal itu jarang terjadi bahkan tidak terjadi lagi. Kawin lari itu terjadi sekitar 15-20 tahun lalu. Yang terjadi sekarang, proses perkawinan terjadi karena anak laki dan perempuan saling mencintai dan orang hanya merestu saja. Tentu semua harus berjalan sesuai adat budaya Sumba.

Untuk itu, pemerintah akan mengadakan pertemuan lagi dengan tokoh adat enam kecamatan sebelum menbentuk tim melakukan sosialisasi tentang stok kawin lari dan berujung pembuatan Perda nantinya. (Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Petrus Piter)

Penulis: Petrus Piter
Editor: Kanis Jehola
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved