Breaking News:

Anak Muda Lembata Harus Jadi Promotor Pembangunan Desa di Lembata

Keterlibatan anak muda dalam pembangunan desa di Lembata dinilai masih rendah

POS KUPANG.COM/RICKO WAWO
Kepala Dinas Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat Desa Kabupaten Lembata, Aloysius Buto 

POS-KUPANG.COM | LEWOLEBA - Keterlibatan anak muda dalam pembangunan desa di Lembata dinilai masih rendah. Dengan kucuran anggaran dana desa dari pemerintah pusat orang muda diharapkan bisa menjadi promotor pembangunan di desa.

Kepala Dinas Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat ( Dinsos-PMD) Kabupaten Lembata Aloysius Buto menuturkan anak muda seharusnya menjadi penggerak pembangunan di desa.

"Ini kan bagian dari pemberdayaan karena ada kelompok-kelompok organisasi pemuda dikembangkan di desa. Selama ini orang muda seperti karang taruna diberi peluang. Hanya saja keterlibatan anak muda itu masih kurang. Lalu orangtua juga jangan ego tidak boleh bilang anggap enteng orang muda," ujar Aloysius saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (15/7/2020).

UPDATE Corona Manggarai: OTG Bertambah Jadi 10 Kasus & 4 ODP Yang Masih Dipantau

Menurutnya, ada hal-hal positif yang harus dikembangkan di desa. Oleh sebab itu perlu ada kolaborasi antar anak muda dan orangtua.

"Secara umum peran orang muda dalam pembangunan di desa belum nampak. Sehingga itu yang perlu kita kembangkan," sebutnya.

Agupena Lembata Luncurkan Jurnal Asa

Katanya, potensi desa di Lembata itu sangat luar biasa apalagi sudah didukung oleh dana desa dari pemerintah pusat.

Orang muda, kata Aloysius, bisa juga terlibat dengan menjadi aparat desa.

Undang-Undang No 6 tahun 2014 tentang desa memberi keleluasan bagi pemerintah desa untuk berkreasi membangun desanya sendiri.

"Lalu sudah diberikan juga dana/anggaran dan itu butuh partisipasi masyarakat dari semua komponen masyarakat yang ada di desa termasuk anak muda," katanya.

"Jadi kita harapkan peran anak muda diwadahi dalam karang taruna itu. Di desa-desa itu kita lihat paling Orang Muda Katolik (OMK) tapi karang taruna belum nampak," ungkapnya.

Lebih lanjut, menurut Aloysius kebanyakan selama ini anak-anak muda Lembata yang baru lulus kuliah hanya berorientasi menjadi pegawai negeri sipil (PNS).

Padahal dewasa ini peluang menjadi PNS sangat kecil. Maka dari itu, pemerintah desa harus memanfaatkan anak muda dengan dana desa supaya mereka bisa mempraktikkan kemampuan dan kreativitas mereka di desa.

"Uang mengalir ke desa lalu mereka mau jadi PNS. Jadi pemerintah desa juga jangan konsumtif saja pakai dana desa. Anak muda bisa masuk dalam aparat desa. Kepala desa bisa membentuk tim seleksi untuk merekrut calon perangkat desa, dan buka peluang untuk mereka masuk. Itu kewenangan kades untuk mengangkat anak muda. Kades juga harus secara profesional seleksi perangkat desa," paparnya.

Aloysius mengatakan perlu ada komunikasi antara masyarakat desa dan masyarakat sehingga pembangunan jadi tanggungjawab kedua pihak.

"Ada aparat desa yang mengeluhkan kalau masyarakat yang bilang aparat yang terima gaji itu yang kerja. Sementara ada masyarakat juga yang mengeluhkan perencanaan ini kami masyarakat belum tahu. Jadi ini kurang komunikasi aparat dan masyarakat. Intinya harus ada komunikasi. Semua yang ada di desa itu berperan untuk bangun desa," kata Aloysius. (

Penulis: Ricardus Wawo
Editor: Kanis Jehola
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved