Kamis, 7 Mei 2026

News

Mampukah Ende Mempertahankan Status Zona Hijau COVID-19? Ini Jawaban Muna Fatma

Kabupaten Ende, Flores bagian tengah merupakan salah satu dari 12 kabupaten di NTT, dengan angka kasus positif COVID-19 cukup tinggi

Tayang:
Editor: Benny Dasman
POS-KUPANG.COM/LAUS MARKUS GOTI
Juru Bicara Gugus Tugas Covid-19 Ende dr. Muna Fatma saat diwawancarai POS-KUPANG.COM di Kantor Bupati Ende, Senin (4/5/2020). 

POS KUPANG, COM, ENDE - Kabupaten Ende, Flores bagian tengah merupakan salah satu dari 12 kabupaten di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), dengan angka kasus positif COVID-19 cukup tinggi, sejak diumumkan kasus pertama pada 13 April 2020 lalu, namun sudah berhasil keluar dari zona merah.

Padahal, kasus yang terkonfirmasi positif COVID-19 di kota bekas pembuangan Proklamator RI, Soekarno itu sejak diumumkan pertama oleh Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Provinsi NTT pada 13 April 2020, terus bergerak naik dan mencapai angka cukup signifikan yakni 12 kasus positif.

Angka 12 kasus positif ini, kemudian menempatkan Kabupaten Ende pada urutan keempat sebagai daerah dengan kasus positif tertinggi di NTT setelah Kota Kupang dengan 34 kasus, Sikka 27 kasus dan Manggarai Barat 16 kasus serta Sumba Timur 10 kasus positif COVID-19 (data Jumat, 10/7).

Berdasarkan data yang dikeluarkan Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Provinsi NTT, kasus yang terkonfirmasi positif COVID-19 di Kabupaten Ende berasal dari tiga kluster yakni kluster KM Lambelu, kluster Magetan dan kluster Gowa.

Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Kabupaten Ende, Muna Fatma mengatakan dalam penanganan COVID-19, Pemerintah Kabupaten Ende sudah mengeluarkan kebijakan, dimana setiap orang yang reaktif tes cepat langsung dilakukan penelusuran (tracing) terhadap kontak erat.

"Kebijakan di Kabupaten Ende adalah begitu tes cepat reaktif, maka kami langsung melakukan penelusuran terhadap kontak erat," katanya.

Tim gugus tugas juga tidak menunggu ada yang positif dari hasil tes usap baru dilakukan penelusuran kontak.

Dalam kasus kluster Gowa misalnya, setelah di Manggarai Barat dilaporkan ada yang positif, gugus tugas langsung mengumpulkan kluster Gowa di Ende untuk observasi dan melakukan tes cepat.

Itulah sebabnya, 10 dari 12 pasien yang terkonfirmasi positif di daerah itu berasal dari penelusuran.

Berjuang Bersama
Dia menambahkan, hal yang pasti adalah penanganan COVID-19 tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri, tetapi menjadi perjuangan bersama seluruh komponen masyarakat, sehingga dalam tim gugus tugas penanganan COVID-19 terdiri dari semua komponen yang ada di Kabupaten Ende.

"Dalam proses penanganan pastilah ada dinamika, kami selalu menyampaikan ke masyarakat bahwa garda terdepan penanganan COVID-19 adalah masyarakat. Kami tenaga kesehatan merupakan garda akhir," katanya.

"Kalau garda terdepan tidak mampu mencegah, maka kami tenaga kesehatan yang akan menyelesaikannya," kata Kepala Dinas Kesehatan Ende ini.

Menurut dia, dukungan masyarakat merupakan kunci keberhasilan tim gugus tugas dalam menangani COVID-19.

Dan sampai dengan hari ini pun, tim gugus tugas tetap mengharapkan dukungan masyarakat, untuk tetap mentaati protokol kesehatan seperti tetap menjaga jarak, mengenakan masker dan selalu mencuci tangan.

Walaupun kenyataannya, dalam pelaksanaan di lapangan, kami harus bekerja keras untuk melakukan sosialisasi supaya masyarakat sadar bahaya COVID-19, katanya.

Dia mengatakan, penolakan dari masyarakat juga terjadi apabila petugas harus melakukan penelusuran dan pengambilan sampel untuk tes cepat (rapid test).

Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved