Ini Penjelasan Rektor Undana Mengenai Pola Tanam Masyarakat NTT "Salome"
Pola tanam masyarakat NTT dengan sistem satu lobang rame rame, atau salome bukan suatu kebodohan tapi antisipasi masyarakat secara turun-temurun.
Penulis: Yeni Rachmawati | Editor: Hermina Pello
POS-KUPANG.COM | KUPANG - Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) menggelar Diskusi Virtual di Kantor BBKSDA NTT, Jumat (19/6).
Segala persiapan telah disiapkan dengan menghadirkan nara sumber yang berkompeten di bidangnya. Tokoh Masyarakat NTT, Frans Sarong, Kepala BBKSDA NTT, Timbul Batubara dengan moderator Kabag TU BBKSDA NTT, Mulyo Hutomo dan host, Sindi berada di lokasi Kantor BBKSDA NTT.
Diskusi ini terhubung langsung dengan Dirjen KSDAE, Ir. Wiratno, Rektor Undana, Prof. Fred Benu, Kepala Pusat Studi SDH UGM, Prof. Wartawan Ludyatmoko, tokoh perempuan penggiat pangan lokal, Maria Loretha, Direktur Kehati, Ir. Robby Megawati.
Diskusi Virtual bertema "Ketahanan Pangan Masyarakat Sekitar Kawasan Konservasi Berkelanjutan".
Rektor Undana, Prof. Fred Benu, menyampaikan pemahaman hutan di NTT agak sedikit berbeda dengan hutan-hutan lain di provinsi lainnya.
• BPJamsostek Mabar Serahkan Santunan Rp 42 Juta
Menurutnya, ada hutan tipe safana, dimana di dalam hutan tidak saja pohon tapi semua ada di sana ada masyarakat, pertanian, peternakan, sehingga upaya konservasi tidak bisa dilepaskan dan terlepas dari pembangunan masyarakat.
"Kami di NTT tipe iklim ada iklim kering sehingga masyarakat juga menyesuaikan diri. Di NTT lahan kering 1,5 juta hektar yang dimanfaatkan masyarakat baru 60 persen. Masyarakat hidup di lahan kering, dengan tipe pertanian lahan kering. Lahan kering kita bukan seperti padang pasir di daerah timur tengah, di NTT, tetapi agak sedikit khas, kalau bedah seluruh peta global namanya lahan kering kepulauan hanya ada di NTT, NTB dan Maluku Selatan," tuturnya.
• Ini Rute Penerbangan TransNusa di NTT saat Operasi Kembali Mula 22 Juni
Prof. Fred Benu mengatakan, ciri masyarakat NTT dengan pola ketahanan pangan lahan kering kepulauan, menjadi keunggulan tersendiri bukan tekanan. Jadi, tidak boleh menyerah dengan lahan kering kepulauan.
Dikatakannya, kepulauan saat ini menerapkan mekanisme salome satu lobang rame rame.
"Masyarakat kami dalam lahan kering produksi pangan, masukkan jagung, kacang tanah, ubi kayu, dalam satu lubang bukan karena tidak tahu teknik produksi pangan, tapi mekanisme antisipasi kekeringan kegagalan pangan. Kalau jagungnya gagal, masih punya ubi kayu, ubi gagal, masih ada kacang. Jadi tidak bisa tergantung pada orang lain, masyarakat atau bantuan pemerintah untuk meningkatkan produksi, tapi harus safety bagi dirinya. Lalu berpikir produksinya bisa dipakai untuk dijual untuk memenuhi kebutuhannya dan keluarga," tuturnya.
Ia mengatakan, salome bukan suatu kebodohan tapi antisipasi masyarakat secara turun-temurun.
Ada sejumlah potensi pangan yang ada di NTT, diantaranya ada sekitar 57 jenis karbohidrat, 55 sumber lemak dan minyak, 26 kacang kacangan, 94 rempah-rempah.
"Saat ini kita berpikir produksi supaya bisa dijual, bukan jual karena bisa diproduksi, tapi masyarakat petani lahan kering kita tidak berpikir produksi supaya bisa dijual tapi produksi supaya bisa makan, barulah dijual," ujarnya.
Tokoh masyarakat NTT, Frans Sarong, memaparkan materi terkait Kearifan Lokal Mendukung Pelestarian Konservasi dan Ketahanan Pangan Masyarakat.
Frans mengatakan, wajib hukumnya menjaga kelestarian sumber daya alam (SDA) berupa flora dan dan fauna terutama dalam kawasan konservasi (KK). Namun di sisi lain, katanya, keberlanjutan nafkah masyarakat sekitarnya tidak mesti dikorbankan. Dua-duanya sama pentingnya, sehingga memerlukan perhatian serempak dan berimbang pula dalam pengelolaan KK.
Idealnya, kata Frans, KK dan juga ketahanan pangan masyarakat sama sama terjaga kelestarian dan keberlanjutannya.