Selasa, 28 April 2026

Smart Women

Empriani Maria Ina Magi: Literasi Melalui Kelompok Belajar Dyatame

perempuan Sumba yang gencar menggalakkan literasi di tanah Sumba, khususnya Kabupaten Sumba Barat Daya ( SBD) sejak tahun 2017 lalu.

Penulis: PosKupang | Editor: Apolonia Matilde
pos kupang
Empriani Maria Ina Magi. 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Ela Uzu Rasi

POS-KUPANG.COM|KUPANG - Salah satu perempuan Sumba yang gencar menggalakkan literasi di tanah Sumba, khususnya Kabupaten Sumba Barat Daya ( SBD) sejak tahun 2017 lalu.

Ia bahkan menjadi Pembicara Literasi dan Budaya Sumba di Yogyakarta pada tahun 2019 dan menjadi Pembicara Literasi Taman Baca Masyarakat tingkat Kabupaten Sumba Barat Daya tahun 2018.

Pada tahun 2019, ia juga menjadi juara III Pertukaran Pemuda Antar Negara, yakni "Singapore Indonesia Youth Leadership Exchange Program ( SYLEP).

Simak Penjelasan Kadis P dan K Provinsi NTT tentang PPDB 2020!

Yah, perempuan itu adalah Empriani Maria Ina Magi.

Empry, begitu ia disapa adalah salah satu tenaga kontrak di Kabupaten SBD yang lebih memilih mengundurkan diri untuk mengurus anak didiknya di Taman Baca Masyarakat (TBM) dan Kelompok Belajar Dyatame yang ia dirikan sejak tiga tahun yang lalu.

Ketika harus memilih antara karier di tempat kerjanya, dan Kelompok Belajar Dyatame, ia lebih memilih melepas kariernya demi Dyatame yang sudah ia rintis. Sebagian besar orang menganggapnya gila.

Keputusan gila ini ia buat dan ia pertahankan demi masa depan 260 anak didik yang tergabung dalam Dyatame saat ini.

Dampak Covid-19 Polres Sumba Timur Sudah Salurkan 10 Ton Beras Kepada Masyarakat

Dedikasinya pada tanah kelahiran dan juga pada kedua orang tua, ia wujudkan dalam bentuk perhatian kepada anak-anak usia sekolah yang membutuhkan bimbingan dalam berbagai hal, baik pelajaran di sekolah, maupun hal-hal dasar dalam kehidupan seperti rasa empati dan peduli kepada sesama.

Ia memulai Dyatame sejak masih bekerja di Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten SBD.

Pada tanggal 25 April 2017, ia mendirikan taman baca tersebut dengan tiga murid pertama, yakni satu adiknya beserta dua orang teman adiknya.

Awalnya ia bertanya,"Kamu mau belajar Bahasa Inggris?" pada adiknya dan adiknya mengiyakan.

Mereka memulai proses belajar dengan peralatan seadanya (bahkan tanpa spidol).

Dari situlah Dyatame mulai berkembang sedikit demi sedikit.

Terlibat Adu Mulut, Marthen Tega Tebas Leher Ayah Kandungnya

Ia rela bekerja tanpa digaji karena melihat situasi anak-anak di daerahnya, Desa Mareda Kalada, Kecamatan Wewewa Timur, Kabupaten SBD, yang benar-benar membutuhkan bimbingan.

"Ada anak yang sudah SMA, tetapi belum bisa matematika sederhana, belum bisa menggabungkan kata-kata menjadi kalimat yang benar," ujarnya dengan nada simpati.

Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved