Selama Pandemi Covid-19 Pasangan Usia Subur Dianjurkan Tunda Kehamilan

Pemerintah mengajurkan bagi pasangan usia subur ( PUS) untuk menunda kehamilan saat pandemi Covid-19

Penulis: Teni Jenahas | Editor: Kanis Jehola
POS-KUPANG.COM/TENIS JENAHAS
Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kabupaten Belu, Egidius Nurak 

POS KUPANG.COM | ATAMBUA - Pemerintah mengajurkan bagi pasangan usia subur ( PUS) untuk menunda kehamilan saat pandemi Covid-19.

Cara menunda kehamilan adalah menggunakan alat kontrasepsi seperti mengkonsumsi pil KB, menggunakan kondom dan melalui suntik. Ketiga hal ini sangat efektif untuk menunda kehamilan.

Jumlah pasangan usia subur ( PUS) di Kabupaten Belu hingga keadaan April 2020 sebanyak 23.649.

Hal ini dikatakan Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kabupaten Belu, Egidius Nurak kepada POS- KUPANG.COM, Kamis (4/6/2020).

Empat Pulau di Provinsi NTT Diprediksi Berpotensi Terjadi Angin Kencang

Egidius menjelaskan, pemerintah mengajurkan PUS menunda kehamilan dengan sejumlah pertimbangan kesehatan bagi ibu hamil. Diantaranya, tanda-tanda umum kehamilan adalah mual, pusing dan muntah. Ketika mengalami tanda-tanda demikian, seorang ibu hamil akan mengalami kelelahan, badan lemah dan daya tahan tubuh menurun. Kondisi demikian sangat rentan munculnya berbagai penyakit termasuk Covid-19.

UPDATE Corona Manggarai: 84 ODP dan 4101 Pelaku Perjalanan di Manggarai Semuanya Selesai di Pantau

Kemudian, selama masa pandemi Covid-19, akses pelayanan ibu hamil terbatas. Jika sebelumnya, posyandu dilakukan di desa bahkan dekat dengan rumah ibu hamil namun saat pandemi covid-19, pelayanan hanya dibuka di Puskesmas. Hal ini tentu menjadi kendala baru karena faktor jarak dan membutuhkan biaya transportasi, bersyukur jika ada kendaraan sendiri.

Selain itu, ibu hamil yang melakukan kontrol otomatis menggunakan masker, sarung tangan, dan pakaian ibu hamil. Hal ini juga membutuhkan biaya lagi untuk membeli APD tersebut. Selanjutnya, interaksi ibu hamil dengan banyak orang semakin berpeluang di fasilitas kesehatan, padahal, satu dari sekian protokol kesehatan Covid-19 adalah jaga jarak.

Hal lain lagi, seorang ibu hamil membutuhkan asupan gizi yang seimbang seperti sayur, daging dan buah-buahan. Barang seperti ini biasanya dibeli di pasar yang merupakan pusat kerumunan banyak orang.

Kondisi seperti menimbulkan permasalahan timbal balik. Jika ibu hamil dipaksakan tetap ke pasar maka sangat rentan dengan Covid-19 karena pasar sangat ramai dengan lalulintas orang.

Sebaliknya, jika tidak ke pasar maka kebutuhan akan asupan gizi seperti yang diinginkan tidak terwujud.

Lebih dari itu, kata Egidius, jika ibu hamil terpapar Covid-19 maka sulit sekali mengobati karena vaksin penawar Covid-19 belum ditemukan. Kemudian, ibu hamil tidak bisa mengkonsumsi sembarang obat.

Egidius mengungkapkan, selama masa pandemi Covid-19 yakni Maret dan April 2020, Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kabupaten Belu mencatat 696 kehamilan muda di Belu. Yang dimaksudkan dengan kehamilan muda adalah kehamilan pertama kali.

Jumlah ini tersebar di 12 kecamatan se-Kabupaten Belu dengan data kehamilan muda tertinggi terdapat di Kecamatan Atambua Barat sebanyak 115.

Sedangkan di kecamatan lain, jumlahnya kurang dari jumlah yang ada di Kecamatan Atambua Barat, baik di Maret maupun di April 2020. Jumlah pasangan subur di Kabupaten Belu hingga keadaan April 2020 sebanyak 23.649.

Halaman
12
Sumber: Pos Kupang
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved