Ketua FKUB NTT Minta Para Ketua Agama Untuk Mempertimbangkan Keputusan Buka Rumah Ibadah

Ini permintaan Ketua FKUB NTT kepada para pemimpin agama terkait keputusan membuka rumah ibadah

Ketua FKUB NTT Minta Para Ketua Agama Untuk Mempertimbangkan Keputusan Buka Rumah Ibadah
POS-KUPANG.COM/ONCY REBON
Ketua Front Kerukunan Umat Beragama (FKUB) NTT, Dr. Maria Theresia Geme, SH., MH

POS-KUPANG.COM|KUPANG- Ketua FKUB (Front Kerukuran Umat Beragama) NTT, Dr. Maria Theresia Geme, SH., MH, meminta kepada para pemimpin agama untuk mempertimbangkan keputusan untuk membuka rumah ibadah.

Pernyataan ini disampaikan, pasca dikeluarkannya keputusan Pemerintah Provinsi NTT untuk membuka pelaksanaan kegiatan keagamaan di rumah ibadah.

Kepada POS-KUPANG.COM, Rabu, 03/06/2020, Maria mengatakan, walaupun pemerintah membuka rumah ibadah tetapi, keputusan tersebut mesti kembali dipertimbangkan para pemimpin agama.

Pansus LKPJ Prihatin Dengan Kondisi Kantor Desa Olais, Disebut Terpuruk Se-Indonesia

"Kita bukan pemimpin agama tetapi kita melihat secara organisasi, mungkin juga harus dipertimbangkan apakah ini dimungkinkan atau tidak." ujarnya

New normal ini, lanjut Maria, bukan sesuatu yang biasa dilakukan. Apalagi dengan budaya touching (bersentuhan). Hal ini menjadi kesulitan, ketika New Normal diterapkan.

Gereja Dibuka di Tengah Pandemi Covid-19? Mgr. Vincentius Sensi Potokota : Kami Masih Kaji

Ia melanjutkan, New Normal itu sesuatu yang baik tetapi, bukan sesuatu yang gampang dilakukan. Budaya touching itu harus diawasi terus-menerus. Agar New Normal membawa keuntungan bagi diri sendiri maupun lingkungan sekitar.

"Oleh karena itu, jika pembatasan-pembatasan itu mulai dilonggarkan, saya kira itu bukan mewajibkan atau membolehkan, tapi memberikan himbauan." ungkap Maria.

Terkait keputusan pemerintah mengaktifkan kembali aktivitas ASN (aparatur sipil negara), mengaktifkan kembali roda perekonomian dan lain-lain itu memang sesuatu yang bisa dilaksanakan. Tetapi dalam hal kegiatan peribadatan di rumah ibadah, tidak serta-merta, terangnya.

Dikatakan Maria, pada awal, ketika mendengar informasi tentang pembukaan rumah ibadah, dirinya merasa gembira. Tetapi kemudian, para jemaah diperhadapkan pada pertimbangan-pertimbangan.

"Akhirnya kita berpikir kembali bahwa, kita boleh punya keinginan untuk bertemu mengadakan upacara keagamaan seperti dalam Iman Katolik, ada kerinduan untuk menerima Komuni. Tetapi para pemimpin agama, memiliki pertimbangan bahwa, penting bagi seseorang untuk menerima Komuni, tetapi keselamatan umat juga sesuatu yang juga dipandang penting." beber Maria.

Ia mengatakan bahwa, apakah umat sendiri kemudian terdidik untuk hidup dengan New Normal, ataukah kita bisa menunda dulu (pembukaan rumah ibadah) kemudian memberikan literasi terlebih dahulu, lalu ketika mereka sudah siap, kita bisa membuka rumah ibadah seperti biasa. (Laporan Reporter POS-KUPANG. COM, Oncy Rebon)

Editor: Kanis Jehola
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved