Kerusuhan Amerika Serikat
Pria Bertato Asal Jawa Ikut Demo di Amerika Serikat, Terekam Sedang Hancurkan Bank, Ini Pengakuannya
Seorang pria terekam dalam foto sedang menghancurkan sebuah bank di Philadelphia, Pennsylvania, Amerika Serikat (AS).
POS-KUPANG.COM - Kerusuhan terjadi di Philadelphia, Pennsylvania, Amerika Serikat pasca kematian George Floyd.
Seorang pria terekam dalam foto sedang menghancurkan sebuah bank di Philadelphia, Pennsylvania, Amerika Serikat (AS).
Namun, dalam foto itu terlihat sebuah tato bergambar kepulauan Indonesia di tangan kanannya.
• Mendikbud Nadiem Umumkan Mekanisme Belajar Tahun Ajaran Baru Usai Direstui Gugus Tugas Covid-19
• Detik-detik Mengerikan George Floyd Ditindih Polisi HinggaTewas,Seantero Amerika Marah,Ini Akibatnya
Pria itu pun menyadari bahwa fotonya telah beredar luas.
Ia mengunggah foto dirinya yang sedang melempari sebuah bank di akun Instagram-nya.
Seorang pria terekam dalam foto sedang menghancurkan sebuah bank di Philadelphia, Pennsylvania, Amerika Serikat (AS). Namun, dalam foto itu terlihat sebuah tato bergambar kepulauan Indonesia di tangan kanannya. (Instagram @rainsfordthegreat)
Namun, selain itu ia juga mengakui bahwa dirinya adalah pria kelahiran di Pulau Jawa, namun kini menjadi warga AS yang dinaturalisasi.
Karena itu ia meminta maaf kepada warga Indonesia khususnya yang di Philadelphia, Pennsylvania.
"Anda mungkin mengenali saya dari beberapa foto yang beredar di media sosial dalam beberapa jam terakhir. Jika Anda mengenal saya secara pribadi, Anda akan tahu bahwa apa yang diwakili di sana sangat berbeda dengan saya," tulis pria tersebut, Senin (1/6/2020).
Ia mengaku awalnya memulai harinya dengan pergi naik sepeda melalui Center City, yang sedang terjadi aksi protes.
"Ini membantu menjelaskan mengapa saya tidak menutupi identitas saya di foto. Pada awalnya, saya hanya ingin mendokumentasikan cerita Instagram saya tentang apa yang saya lihat untuk mereka yang ada di rumah," katanya.
Tetapi, ketika malam berlalu, ia mulai merasakan kemarahan gabungan dari pembunuhan George Floyd.
Ia pun turut merasakan energi di hadapan ketidakadilan polisi nasional dari kerusuhan yang merebak di dalam dirinya.
"Bahkan hari ini, saya masih merasakan hasrat sakit hati yang disebabkan oleh ketidakadilan rasial yang sering diarahkan pada orang kulit berwarna, termasuk saya sendiri. Emosi ini sangat dalam," katanya.
Namun, kini ia mengaku menyesal bahwa kemarahan dan dorongan dirinya yang dibenarkan untuk tidak tinggal diam terlalu cepat berubah.
Yaitu menjadi gerakan untuk menghancurkan properti.