GKS Payeti Belum Pastikan Ibadah di Gereja

ereja Kristen Sumba ( GKS) Payeti Sumba Timur sampai saat ini belum memastikan apakah akan melakukan ibadah di gereja atau tidak

POS-KUPANG.COM/Oby Lewanmeru
Ketua BPMJ GKS Payeti, Pdt. Yuliana Ata Ambu,S.Th 

POS-KUPANG.COM |WAINGAPU - Gereja Kristen Sumba ( GKS) Payeti Sumba Timur sampai saat ini belum memastikan apakah akan melakukan ibadah di gereja atau tidak. Pasalnya, wilayah Sumba Timur masih merupakan daerah terpapar Corona Virus Disease ( Covid-19), selain tidak masuk dalam daerah di Provinsi NTT yang diizinkan melaksanakan aktivitas normal.

Hal ini disampaikan Ketua Badan Pelaksana Majelis Jemaat (BPMJ) GKS Payeti, Pdt. Yuliana Ata Ambu, S.Th saat ditemui POS-KUPANG.COM, Rabu (3/6/2020).

Wajah Ariel NOAH Mendadak Jadi Sorotan, Gading Marten Sebut Mirip Joe Taslim! Lihat Fotonya

Pdt. Yuliana dikonfirmasi terkait penerapan new normal yang akan dimulai pada tanggal 15 Juni mendatang, apakah ibadah Minggu dapat berlangsung di gereja atau tidak.

Menurut Pdt. Yuliana, hingga saat ini, pihaknya belum memastikan apakah setelah tanggal 15 Juni 2020 pihaknya bisa melaksanakan ibadah di gereja atau belum bisa.

Ramalan Mbah Mijan Jadi Sorotan, Sebut Bakal Ada Ombak Ganas Sapu Daratan, Dimana?

"Memang ada imbauan pemerintah bahwa mulai tanggal 15 Juni 2020 sudah bisa beraktivitas, termasuk ibadah. Tapi kami belum bisa memastikan apakah akan beribadah di gereja atau tidak," kata Pdt. Yuliana.

Dijelaskan, kebijakan pemerintah untuk beraktivitas normal itu perlu dikaji dan membutuhkan kearifan lokal.

"Kebijakan ini,saya pikir butuh kearifan lokal. Kenapa, karena dari 14 daerah di NTT yang diizinkan beraktivitas normal itu, tidak termasuk Kabupaten Sumba Timur. Karena itu,saya belum pastikan," katanya.

Dikatakan, apabila dihat dari surat Gubernur NTT, maka tidak sesuai dengan kebijakan WHO. Karena itu apabila pada tanggal 15 Juni 2020 semua aktivitas normal,maka pihaknya akan melihat lagi pada tanggal 21 Juni 2020, apakah di Sumba Timur bisa menjalankan aktivitas normal atau belum.

"Kami belum memastikan,kami akan koordinasi dengan pemerintah daerah dan Sinode," ujarnya.

Dikatakan, kendatipun nantinya diizinkan beribadah di gereja,maka penerapan protokol kesehatan dan imbauan pemerintah menjadi hal yang harus tanpa ditawar-tawar.

"Kalau diizinkan, maka kami akan lakukan Protokol kesehatan seperti, cuci tangan, penggunaan masker,jaga jarak, tidak jabat tangan dan lainnya," jelas Yuliana.

Pdt. Yuliana yang juga selaku Ketua I Badan Pelaksana Majelis Sinode (BPMS) GKS ini mengakui, protokol kesehatan itu wajib bagi semua umat, jika nantinya ada kegiatan ibadat di gereja.

"Kita tentu akan perketat pelaksanaan protokol kesehatan seperti cuci tangan,menjaga jarak, tidak berjabat tangan, menggunakan masker," katanya.

Dia mengatakan, pelaksanaan protokol kesehatan tidak bisa ditawar-tawar, karena jangan sampai dikatakan new normal tapi ternyata belum normal.

"Protokol kesehatan harus dipatuhi semua umat. Takutnya kita bilang new normal tapi tidak normal dan ini yang luar biasa. Jangan sampai kita lengah bilang new normal tapi ini akan jadi hal luar biasa. Saya baca di Korea misalnya katanya new normal,tapi akhirnya lebih parah lagi kasus Covid-19," katanya. (Laporan Reporter POS-KUPANG.COM,Oby Lewanmeru)

Penulis: Oby Lewanmeru
Editor: Kanis Jehola
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved