Salam Pos Kupang

Asa Pendidikan di Tengah Wabah Corona

PEKAN ini sebanyak 196.458 siswa Sekolah Menengah Atas di Provinsi NTT mengikuti ujian kenaikan kelas

Asa Pendidikan di Tengah Wabah Corona
Dok
Logo Pos Kupang

POS-KUPANG.COM - PEKAN ini sebanyak 196.458 siswa Sekolah Menengah Atas (SMA), Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan Sekolah Luar Biasa (SLB) di Provinsi Nusa Tenggara Timur ( Provinsi NTT) mulai mengikuti ujian kenaikan kelas atau Ujian Akhir Sekolah ( UAS).

Jumlah tersebut merupakan penggabungan dari jumlah siswa-siswi SMA/K dan SLB kelas X dan XI, dengan rincian siswa SLB kelas X sebanyak 155 orang, kelas XI sebanyak 157 orang. Sedangkan, siswa SMA kelas X sebanyak 68.021 orang, kelas XI sebanyak 63.503 orang. Sementara untuk SMK, siswa kelas X sebanyak 34.336 orang dan kelas XI sebanyak 30.286 orang.

ASN Setda Ngada Masuk Efektif 5 Juni 2020

Data ini didapat dari Kepala Seksi Kurikulum Pendidikan Menengah, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTT, Hans Benggu, kepada Pos Kupang, Selasa (2/6).

Berbeda dengan ujian tahun-tahun sebelumnya dimana semua aktivitas ujian terjadi di kelas, tahun ini ujian dilakukan dari rumah. Interaksi antara siswa dan guru terjadi melalui teknologi internet. Para guru mengirim soal melalui aplikasi WhatsApp (WA) atau melalui link yang dikirim melalui grup WA kelas dan para siswa mengerjakan dari rumah.

Pendeta Nini : Kami Masih Rapat Bersama Jemaat

Sekalipun siswa mengerjakan soal dari rumaha tetapi mereka tetap berpakaian seragam sekolah. Setelah soal-soal selesai dikerjakan para siswa mengirim kembali jawaban melalui aplikasi atau grup WA.

Ini adalah peristiwa yang luar biasa mengingat selama ini ujian dilakukan secara terpusat di sekolah (kelas) dan para siswa menggunakan peralatan seperti bolpen, pensil B2, dan kertas.

Hal ini tidak terlepas dari kebijakan Kementerian Pendidikan yang mendorong penggunaan aplikasi teknologi internet untuk peningkatan kualitas pembelajaran siswa. Hal ini juga dimungkinkan dengan keluasan yang diberikan oleh Menteri Pendidikan kepada sekolah-sekolah agar boleh menggunakan dana Biaya Operasional Sekolah (BOS) untuk membeli paket data internet. Sekolah bekerja sama dengan Telkomsel untuk kemudahan pembelian paket data.

Hanya saja jika kita amati secara saksama, kondisi ini cukup ideal jikalau jaringan internet sudah menjangkau semua wilayah sehingga terjadi pemerataan akses informasi dan komunikasi yang memungkinkan semua siswa dapat mengakses internet secara mudah.

Fakta di NTT tidak demikian. Banyak siswa yang tinggal jauh dari akses internet. Beberapa waktu lalu diberitakan bagaimana para siswa di Kecamatan Riung Barat, Kabupaten Ngada harus mencari sinyal internet di perbukitan agar dapat mengerjakan tugas-tugas sekolah. Belum lagi di pelosok-pelosok lainnya di NTT.

Sekalipun demikian kita tetap memberi apresiasi untuk kebijakan ini. Pandemi Covid-19 telah menjadi blessing in disguise (berkat terselubung). Tanpa kita sadari banyak guru dan anak-anak kita yang sebelumnya gagap teknologi menjadi melek teknologi.

Mereka dipaksa dan dipacu untuk bisa menguasai teknologi internet dan android. Virus Corona memang mematikan tetapi ia tidak sanggup mematikan akal, inovasi dan kreatifitas untuk mencari solusi kreatif untuk meningkatkan kualitas pendidikan kita.

Kita berharap terjadinya pemerataan jaringan komunikasi dan informasi sehingga semua anak mendapatkan kesempatan dan kemudahan yang sama. Sekolah dari rumah diharapkan dapat membongkar formalisme pendidikan yang membuat peserta didik gagal mengekspresikan diri secara bebas dan bertanggungjawab.

Jangan sampai kebijakan ini menjadi bumerang ketika guru dan siswa bahkan orangtua menyalahgunakan waktu efektif, menyalahgunakan teknologi android untuk hal-hal negatif, bahkan sekolah dari rumah diterjemahkan sebagai libur panjang.

Selamat menempuh ujian. Selamat menjadi generasi android. Tetap semangat walau diancam Corona. (*)

Editor: Kanis Jehola
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved